
Lucy menggosok kedua matanya untuk meyakinkan diri jika yang di lihatnya adalah sahabat dan kekasihnya. Dia masih tidak percaya karena mereka bisa datang berdua tanpa Lucy tau ataupun Andre memberi kabar terlebih dahulu.
"Sepertinya apa yang di katakan oleh Rosy ada benarnya juga, kau terlalu memperhatikan orang-orang lain agar tidak dapat merebut Andre dari mu. Tapi kau tidak dapat melihat hal yang paling dekat yang lebih dulu menikam mu." ucap Luna.
Lucy mengangkat tangannya tinggi dan melambaikannya sambil memanggil Andre dengan sapaan mesranya.
"Maasss......" teriak Lucy sampai-sampai seluruh orang di cafe menoleh ke arahnya.
Mendengar panggilan yang sangat ia kenal, Andre pun langsung menoleh ke arah sumber suara dan hal itu membuat Carlo tersentak kaget karena ia tak menyangka jika Lucy benar-benar memanggil Andre. Ia mengira Lucy hanya akan diam dan menanyakannya kepada Andre pas di kantor.
"Sayang, kamu makan di sini ternyata?" tanya Andre lembut.
"Ya, kamu ke sini hanya berdua dengan Carlo saja? Tidak dengan tuan Leon?" tanya Lucy penasaran.
"Tidak, aku menemaninya karena dia tadi datang ke ruangan ku untuk mencari mu. Dia mengira kau di ruangan ku tadi." ucap Andre menjelaskan.
"Ahh... Lucy ku kira makan sendiri di kantin kantor membuat ku tidak nyaman jadi aku memutuskan untuk menyusul kalian makan di luar." ucap Carlo beralasan.
"Ya itu memang tidak menyenangkan, tapi kenapa kamu tidak mengajaknya untuk makan siang bersama?" tanya Andre yang kini duduk di sebelah Lucy.
Lucy terdiam mendengar ucapan dari Andre, sangat jelas tadi dia telah mengajak Carlo dan dia sendiri menolak ajakan dari Lucy.
"Apa makanan di sini enak?" tanya Andre mengambil makanan Lucy.
Lucy benar-benar tanpa suara, ia masih memandang kosong ke arah makanan di atas meja. Bagaimana bisa Carlo yang sangat ia percaya menusuknya dari belakang, ia bahkan tidak bisa memandang wajah Luna yang jelas ia curigai dan ia waspadai selama ini.
"Kau akan kehabisan makan siang ku jika kau tidak makan itu sekarang." ucap Luna membuyarkan lamun Lucy.
__ADS_1
"Dan Carlo, apa kau akan berdiri di sana sampai jam makan siang habis dan memandangi kami makan?" tanya Rosy.
"K-kalau begitu aku akan bergabung dengan kalian, maaf mengganggu makan siang kalian." ucap Carlo canggung.
Carlo yakin Lucy kini telah berfikir bahwa ia telah menusuknya dari belakang, ia harus benar-benar memutar otak untuk meyakinkan Lucy agar tidak curiga kepadanya dan merusak rencananya.
"Hei, buka mulut mu." ucap Andre tiba-tiba sambil menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Lucy.
"Ahh, kamu kenapa menyuapi ku seperti anak kecil?" ucap Lucy terkejut.
"Kau sedari tadi memandang makanan itu tanpa memasukannya ke dalam mulut mu, jadi aku membantu mu untuk menyuapkannya." ucap Andre tersenyum.
"Sepertinya makanan ini kurang, apa kita harus memesan lagi?" tanya Lucy.
"Baiklah, kau mau yang mana? Aku akan membayar makan siang kalian hari ini." ucap Andre.
Luna dan Lucy tertawa mendengar ucapan polis yang ke luar dari mulut Rosy. Lucy sedikit melupakan masalahnya dengan Carlo untuk sementara.
Carlo menghampiri Lucy yang fokus menatap layar komputernya dan dokumen-dokumen yang ada di tangannya. Dengan sedikit gugup ia menyapa Lucy dengan pandangan takut.
"Lucy, aku mau mengantarkan dokumen ini." ucap Carlo.
Lucy tersentak dan menoleh ke arah sumber suara yang ternyata Carlo telah berdiri di sampingnya dengan pandangan tertunduk.
"Dokumen? Perasaan aku tidak butuh dokumen apa-apa." ucap Lucy sambil mengambil dokumen dari tangan Carlo.
"Itu sebenarnya untuk tuan Andre, tapi aku tidak enak untuk mengantarnya langsung ke ruangannya." ucap Carlo yang masih tertunduk.
__ADS_1
"Kenapa tidak? Bukannya tadi siang kau bisa pergi ke sana tanpa alasan yang jelas, sekarang kenapa tidak langsung ke ruangannya saja?" tanya Lucy ketus.
"Lucy... Maaf aku tidak ada maksud lain tadi siang, hanya aku ingin menyusul kalian untuk makan siang bersama tapi tidak tau di mana kalian makan. Jadi, aku beralasan seperti itu agar bisa menyusul kalian." ucap Carlo beralasan.
"Carlo, kau bisa menghubungi ku dan aku akan mengirim alamatnya kepada mu. Kau tau, yang aku sesali kenapa kau harus berbohong kepada Andre untuk mengatakan aku tidak mengajakmu untuk makan siang bersama? Jelas-jelas tadi aku sudah menawari mu dan kau sendiri yang menolak. Apa kau tidak berpikir bagaimana tanggapan Andre terhadap ku?" ucap Lucy kesal.
"Aku... Aku benar-benar minta maaf Lucy, aku tidak berpikir panjang tadi. Aku akan melakukan apapun agar kau memaafkan ku." ucap Carlo memohon.
Lucy tidak menanggapi ucapan Carlo dan melanjutkan pekerjaannya, ia benar-benar tak habis pikir dengan alasan Carlo yang mencoba menyudutkannya di hadapan Andre. Lucy mengangkat gagang telepon di depannya dan menekan sebuah nomor yang ternyata itu adalah nomor telepon Luna.
"Ahh maaf nona Luna jika saya mengganggu, di sini ada sebuah dokumen yang di tujukan untuk tuan Andre, apa anda bisa menjemputnya dan mengantar dokumen ini kepada beliau?" ucap Lucy sopan.
Tak lama kemudian ia menutup telepon dan meletakan kembali.
"Kau bisa tinggalkan dokumen itu di sini, nona Luna akan mengambilnya dan mengantarnya ke tuan Andre nanti. Dan aku harap lain kali kau bisa langsung meminta nona Luna untuk mengantarkan dokumen penting untuk tuan Andre tanpa harus menemui ku." ucap Lucy kembali bekerja.
Carlo yang mendengar ucapan Lucy merasa sangat geram dan kesal, bagaimana bisa Lucy yang sudah lama ia kenal dan sangat dekat dengannya bisa mengabaikan dirinya bahkan berbicara seperti itu padanya. Ia benar-benar tak percaya jika Lucy yang dulu selalu pasrah jika ditindas kini malah berani untuk melawan balik.
"Baiklah kalau begitu, sekali lagi aku minta maaf." ucap Carlo sambil pergi meninggalkan meja Lucy.
Carlo berjalan keluar dari ruang kerja Lucy dan berpapasan dengan Luna yang baru saja datang, tatapan Luna sangat tajam ke arah Carlo yang kini ada di hadapannya.
"Sepertinya kau kehilangan sebuah kepercayaan dari seorang sahabat mu, kau harus benar-benar berusaha keras untuk mencari alasan kedepannya." ucap Luna tersenyum sinis.
"Aku yakin kau yang menghasut Lucy sehingga dia berpikir buruk tentang ku." ucap Carlo kesal.
"Aku? Tanpa harus melakukan itu Lucy melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sahabatnya dapat mengkhianati dan menusuknya dari belakang bahkan berniat merebut kekasihnya. Aku tida sebodoh mu untuk berebut lelaki." ucap Luna sambil pergi meninggalkan Carlo.
__ADS_1