
Boris duduk di sofa sedangkan Lucy segera memanaskan air di teko untuk membuatkan ayahnya secangkir kopi. Dan tak lupa juga ia mengeluarkan beberapa cemilan untuk mendampingi kopi yang ia buat. Mata Boris tertuju pada paper bag yang terletak di atas meja, ia penasaran apa isi di dalam paper bag yang di bawa oleh putrinya itu.
"Ayah minumlah kopi ini dulu dan makanlah cemilan sembari menunggu ku membuatkan makanan untuk ayah." ucap Lucy meletakan kopi dan cemilan di atas meja.
"Tidak perlu memasak untuk ku, aku sudah makan. Aku ke sini hanya ingin berkunjung dan melihat keadaan mu saja, apa hari ini kau bersenang-senang?" tanya Boris penasaran.
"Iya, kami pergi ke taman hiburan hari ini dan menghabiskan waktu seharian. Maaf jika ayah menunggu lama, tapi jika ayah memberitahu ku, aku pasti akan pulang cepat." ucap Lucy.
"Kau tidak perlu melakukan itu, memang sewajarnya kau menghabiskan waktu libur mu bersama kekasih mu. Jadi, apa yang kau bawa itu?" tanya Boris lagi.
"Ahh itu..."
Lucy bangkit dari tempat duduknya dan mengambil paper bag yang terletak di atas meja makan dan membawanya mendekat ke arah Boris yang duduk di sofa.
"Andre membelikan ini untuk ku tdi, tapi menurutku ini terlalu mahal dan tidak pantas untuk ku." ucap Lucy sambil mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam paper bag yang di pangkuannya.
Boris melihat dengan seksama isi di dalam paper bag yang di pegang putrinya itu, ada beberapa gaun bermerek dan kini matanya tertuju pada sebuah kotak persegi yang cukup mencolok.
"Ini apa...?" tanya Boris menunjuk kotak itu.
"Ini perhiasan yang Andre pesan untuk ku. Ayah aku benar-benar tidak bisa menerima ini semua, tapi Andre akan marah jika aku tidak menerima dan memakinya. Ia mengatakan aku harus memakai ini semua saat kami menjemput ibunya yang akan tiba dari Indonesia ke sini." ucap Lucy sambil membuka kotak perhiasan itu.
Mata Boris terbelalak lebar setelah melihat satu set perhiasan berlian di hadapannya. Ini benar-benar barang mewah dan seumur hidupnya ia tak akan mampu membeli ataupun memiliki barang seperti ini. Boris menelan ludah melihat satu set perhiasan yang ada di hadapannya.
"L-lucy, apa ini benar-benar Andre belikan untuk mu? Ini barang yang sangat mahal pastinya kan?" tanya Boris tak percaya.
__ADS_1
"Ya, dia telah memesan perhiasan ini sebelum mendapatkan persetujuan dari ku. Bahkan dia yang merancang modelnya." ucap Lucy.
"Wah dia benar-benar kaya, kau sangat beruntung memiliki kekasih seperti dia Lucy. Aku akan mendoakan kau dan Andre berjodoh dan menikah." ucap Boris senang.
"Tapi ayah, kami belum mencapai tahap itu. Aku dan dia masih dengan status sepasang kekasih. Sedangkan Andre belum mengatakan apapun tentang kelangsungan hubungan kami." ucap Lucy.
"Kau harus tau, pria tidak akan mudah mengatakan apa yang ada di dalam hatinya. Tapi melihat dia yang sudah memberikan mu barang-barang mewah seperti ini, aku yakin dia telah memilih mu untuk menjadi calon istrinya." ucap Boris.
"Apakah benar sepeti itu yah? Aku benar-benar tidak bisa menerima barang-barang ini, ini terlalu berharga jika hanya untuk seorang kekasih biasa." ucap Lucy.
"Sudahlah, lebih baik kau turuti apa mau dari Andre. Siapa tau dia memang ingin memperkenalkan kau kepada ibunya sebagai calon istri bukan hanya sebagai kekasih biasa." ucap Boris bersemangat.
Ia benar-benar berharap Lucy cepat menikah dengan Andre agar ia pun dapat menikmati kemewahan dan harta Andre.
"Lucy aku yakin maksud dari tuan Andre memberikan mu ini semua adalah demi kebaikan mu, dia ingin kau tampak sempurna di hadapan ibunya." ucap Boris meyakinkan.
Boris memutar otak agar Lucy tidak mengembalikan barang-barang mewah yang sudah di beli oleh Andre untuk putrinya itu. Jikapun putrinya tidak menginginkan itu semua, ia bisa menggantikan putrinya menerima barang-barang mewah itu.
"Tidak ada salahnya bagi seorang pria membuat kekasihnya bahagia, kau harus selalu berpikir niat baik yang telah di lakukan oleh tuan Andre kepada mu. Tidak sopan jika kau mengembalikan apa yang sudah dia beri, terlebih lagi dia memesan ini semua secara khusus untuk mu." ucap Boris.
Lucy hanya diam tidak menanggapi ucapan Boris, hatinya masih sangat ragu dengan barang-barang mewah yang ada di hadapannya. Tak lama kemudian Boris pun berpamitan untuk pulang, dan Lucy mengantar ayahnya sampai lobby apartemen.
Setelah mengantar ayahnya pulang, Lucy langsung masuk ke apartemennya dan menyusun semua barang-barang mewah yang tadi ia perlihatkan kepada ayahnya. Seumur hidup baru kali ini ia melihat barang-barang mewah dan di tempah khusus untuk dirinya. Lucy menyusun semua barang-barang itu dan memasukannya kembali ke dalam paper bag dan menyimpannya di dalam lemari.
Lucy memeriksa ponselnya, namun tidak ada sebuah pesan termasuk telepon dari Andre. Biasanya Andre akan menghubunginya jika sudah tiba di rumahnya, namun hari ini ia sama sekali tidak melakukan itu. Lucy akhirnya berinisiatif untuk menghubungi Andre duluan, dan berharap kondisi Andre saat ini jauh lebih baik. Ia menekan nomor ponsel Andre dan menghubunginya, cukup lama Andre baru mengangkat panggilan telepon dari Lucy.
__ADS_1
"Ya...." ucap Andre singkat.
"Mas, kamu sudah sampai?" tanya Lucy takut-takut.
"Ya, aku baru saja selesai mandi." ucap Andre singkat.
"Owh baguslah, aku baru saja menyusun barang-barang yang tadi kau berikan. Tadi ayah ku juga datang ke sini, jadi aku juga mengajaknya untuk melihat-lihat." ucap Lucy mencoba mencari topik pembicaraan.
Andre terdiam mendengar ucapan Lucy, ia tak menyangka jika Boris kini lebih sering datang ke apartemen kekasihnya itu.
"Apa reaksinya melihat aku membelikan mu barang-barang mewah itu?" tanya Andre.
"Tidak ada, hanya saja ayah mengatakan pada ku jika kamu sangat baik dan perhatian kepada ku." ucap Lucy.
"Benarkah? Sepertinya itu memang seharusnya yang di lakukan oleh pria pada kekasihnya. Dan itu adalah hal biasa yang sering di lakukan setiap pasangan." ucap Andre.
"Aku juga memperlihatkan perhiasan yang kamu pesan secara khusus untuk ku kepada ayah, dia benar-benar terkejut melihat itu." ucap Lucy.
Andre tak menanggapi ucapan Lucy, ia malah berpikir bagaimana bisa Lucy sangat terbuka kepada ayahnya yang sudah sangat jahat kepadanya selama ini.
"Baguslah jika ayahmu menyukai nya. Ku rasa hal yang wajar jika dia terkejut, karena kau adalah anak perempuan satu-satunya." ucap Andre.
"Ya, terlebih lagi ini pertama kali aku memiliki perhiasan mahal yang belum tentu seumur hidup aku dapat membelinya. Terimakasih mas." ucap Lucy tulus.
"Baiklah, ini sudah larut malam dan kau harus segera istirahat. Besok aku akan menjemput mu untuk berangkat kerja." ucap Andre.
__ADS_1
"Ahh baiklah. Selamat malam." ucap Lucy mengakhiri teleponnya.
Andre menutup teleponnya dan menatap layar ponsel, minggu depan ibu dan adiknya akan tiba di Paris. Hatinya sedikit gelisah antara ingin mengenalkan Lucy atau tidak.