
"Lucy.... Lucy...." Teriak seorang lelaki paruh baya.
Lelaki tersebut mencari-cari sosok yang ia panggil di semua sudut rumah, namun tidak mendapatinya.
"Dimana anak sialan itu, aku harus cepat-cepat mendapatkannya." gumamnya.
Lelaki paruh baya itupun berjalan menuju sebuah kamar, berharap orang yang di carinya berada di sana. Ia membuka pintu kamar itu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Benar saja, di sana nampak seorang gadis yang sedang tertidur pulas. Karena saat ini Jam sudah menunjukan pukul 3.00, wajar bagi setiap manusia terlelap di jam segitu.
Lelaki itu membanting keras pintu itu dan segera masuk mendekati Lucy yang tertidur pulas.
"Dasar anak brengsek. Aku sudah mau mati di kejar-kejar orang-orang itu, dia malah enak-enakan tidur di sini." ucapnya.
Lelaki itupun mendekati Lucy dan menarik keras selimut yang menutupi tubuh mungilnya. Sontak perbuatannya membuat Lucy terkejut dan langsung bangun.
"Dasar anak keparat, aku sudah memanggil mu berkali-kali tapi kau sama sekali tidak menjawab. Apa kau berpura-pura menjadi tuli agar bisa mengelak dari panggilan ku." teriak laki-laki itu dengan mata melotot.
Lucy yang melihat kejadian itu langsung bangun dengan masih menahan kantuknya dan takut.
"Ayah, maaf aku sama sekali tidak mendengar ayah memanggil ku. Karena hari ini aku benar-benar lelah bekerja." ucap Lucy memberi alasan.
"Persetan dengan alasan mu itu, ganti pakaian mu dan ikut aku sekarang. Jadilah seorang putri yang bisa di andalkan." ucap lelaki itu menarik Lucy turun dari kasurnya.
Lucy tidak dapat menolak tarikan dari ayahnya dan segera turun dari kasurnya. Dengan tatapan bingung ia melihat kearah ayahnya yang berbau alkohol, sangat menyengat hidung.
"Kemana kita akan pergi ayah? Ini masih larut malam. Dan juga di luar sana salju masih turun." ucap Lucy.
__ADS_1
Lelaki itu semakin beringas mendengar ucapan Lucy dan memegang wajah Lucy sangat erat dengan satu tangan, membuat pipinya yang merona menjadi sakit.
"Apa kau berhak untuk bertanya kepada ku? Sudah saatnya kau membalas budi kebaikan ku selama ini yang sudah membesarkan mu. Cepat ganti pakaian mu dan ikut aku menemui bos David." ucap Lelaki itu sambil mendorong wajah Lucy yang ia cengkram dengan kuat.
Lucy yang di perlakukan seperti itu membuat tubuh mungilnya terdorong dan terduduk ke kasurnya lagi.
"Ayah, aku sudah bekerja. Aku akan menghasilkan uang untuk ayah, aku tidak mau bekerja dengan bos David yah." ucap Lucy memohon.
"Apa kau sudah gila? Pekerjaan mu hanya dapat membeli sebuah roti dan sup. Kau lebih baik menuruti ku untuk ikut, itu agar kehidupan mu menjadi jauh lebih layak." ucap ayahnya.
"Tapi ayah, aku tidak mau sama sekali bekerja di bar itu. Walaupun gaji ku saat ini masih kecil, setidaknya ini jauh lebih baik di bandingkan aku harus bekerja di sana." ucap Lucy menolak.
"Aku membawa mu ke bos David bukan untuk menjadikan mu pekerja di barnya. Tapi kau akan di jadikan wanitanya, bukankan itu lebih baik." ucapnya sambil tersenyum.
Lucy yang mendengar itu semakin di buat ketakutan akan tingkah ayahnya. Yang benar saja, dia harus menjadi salah satu wanita murahan yang memenuhi koleksi dari bos David.
"Wanita sialan, aku berhutang banyak kepada bos David. Dan dia hanya meminta ku untuk membawakan mu kepadanya agar seluruh hutang ku habis. Dan juga dia sudah berjanji akan memberikan mu hidup mewah, apa itu juga tidak cukup bagi mu?" bentak sang ayah.
"Ayah aku mohon, aku akan bekerja lebih keras lagi untuk melunasi semua hutang-hutang ayah." ucap Lucy masih berusaha.
"Mau kau bekerja sampai semua tulang mu itu patah, tidak akan bisa membayar seluruh hutang ku beserta bunganya. Kau harus ikut dengan ku dan berhentilah berbicara omong kosong." ucap nya bertambah berang.
Laki-laki itu melepaskan paksa kakinya yang masih di genggam Lucy. Ia meninggalkan Lucy di kamar dengan muka yang penuh kebencian. Lucy yang merasa bahwa hidupnya sebentar lagi akan hancur menangis sejadi-jadinya sambil mengganti pakaiannya. Ia takut jika terlalu lama akan membuat lelaki beringas itu murka dan membuatnya dalam keadaan yang lebih sulit lagi.
Lucy keluar dari kamarnya dan sudah mengganti pakaiannya. Pakaiannya yang sederhana tapi karena kecantikannya membuatnya begitu mempesona.
__ADS_1
"Lucy mengertilah, aku melakukan ini semua agar kau dapat menikmati kehidupan yang layak." ucap ayahnya lembut.
"Ayah, aku akan melakukan apapun untuk ayah. Dan melunasi hutang-hutang ayah, aku mohon jangan bawa aku." ucap Lucy berderai air mata.
"Berhentilah bernegosiasi dengan ku Lucy. Jika kau tidak menuruti ku, aku akan menelepon sahabat ku di desa untuk menghancurkan wanita tua di sana." ancam laki-laki itu.
Lucy langsung teringat akan neneknya yang ada di desa. Dari ia kecil, setelah ibunya meninggal Lucy di asuh oleh neneknya di desa. Sedangkan ayahnya hanya mengiriminya uang dan itu pun tidak sering, tapi Ia benar-benar mendapatkan kasih sayang dan cinta dari wanita itu. Dan itu sudah cukup bagi Lucy yang kehilangan sosok seorang ibu di masa kecilnya.
"Dengar Lucy, jika kau menuruti semua perkataan ku. Wanita tua itu akan hidup layak di sana, dan aku akan mengirim banyak uang untuknya. Itu bisa membawanya berobat dan membuatnya kembali sehat." bujuk ayahnya.
Lucy menyeka air matanya, tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang. Bagaimana mungkin neneknya mau menerima uang hasil menjual diri, itu akan membuatnya semakin sakit jika mengetahui semuanya. Namun Lucy benar-benar tidak bisa menolak perintah ayahnya karena ancaman serupa.
"Aku akan menuruti apa ucapan ayah, tapi ayah harus berjanji pada ku untuk tidak menyakiti nenek sama sekali." ucap Lucy dengan tatapan kosong.
"Kau memilih dengan bijak Lucy, aku berjanji akan selalu mengirim uang untuk wanita tua itu dam memastikannya baik-baik saja." ucap Lelaki paruh baya itu mengelus kepala putrinya.
"Dan satu lagi, aku tidak mau di panggil Lucy saat di sana nanti. Aku takut jika nama ku tersebar dan nenek tau yang sebenarnya." ucap Lucy lagi.
"Baiklah, aku akan menuruti apapun yang kau mau. Ayo kita pergi sekarang, rapikan pakaian mu." ucapnya tersenyum senang.
Mereka pergi menaiki sebuah taksi menuju bar tempat biasa ayah Lucy menghabiskan waktunya untuk mabuk dan berjudi. Tanpa memikirkan perasaan putrinya ia menjual darah dagingnya demi melunasi hutang-hutangnya dan sejumlah uang.
Dengan tatapan kosong Lucy menatap ke arah luar jendela mobil. Jalan-jalan yang sudah di penuhi oleh putih dan dinginnya salju, Lucy melihat dirinya sendiri di pantulan kaca jendela taksi itu.
"Inikah akhir hidup ku? Atau ini awal kehidupan ku yang kelam? Kenapa kau tidak adil kepada ku Tuhan? Apa kesalahan ku selama ini? Apa Kau benar-benar membenci ku dan ini kah takdir yang harus aku jalani?" batin Lucy sambil menyeka air matanya yang mengalir deras.
__ADS_1
Benar saja, kehidupannya di Paris jauh lebih buruk di bandingkan saat dia di desa bersama neneknya. Ayahnya menjemput Lucy yang sudah tamat SMA dan mengatakan akan memberinya kehidupan yang layak dan akan membantunya mencari pekerjaan di Paris. Dengan lugunya ia mengikuti lelaki paruh baya itu dan ternyata apa yang di janjikan tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Ia di jadikan seperti pembantu dan tak jarang ia harus bekerja melebihi jam agar mendapatkan uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan ayahnya berjudi. Ia berharap akan ada suatu keajaiban untuknya, ia benar-benar lelah menghadapi kehidupan yang keras ini.