
Hari sudah semakin senja, Andre dan Lucy sedang membereskan beberapa peralatan yang akan di bawa pulang nantinya. Ia juga membantu kekasihnya dan nenek Grace mengumpulkan beberapa sayuran yang di panen untuk di jual pagi-pagi sekali besok. Sudah dua hari ia berada di kampung halaman Lucy, tidak baik baginya untuk berlama-lama di sana mengingat status mereka yang hanya sebatas kekasih biasa. Andre memikirkan nama baik Lucy di desa itu jika ia terlalu lama takutnya akan menjadi gunjingan antar tetangga dan membuat nenek Grace tidak nyaman.
Lucy dan Andre duduk di pinggir pondok sambil menatap nenek Grace yang belum selesai memetik tomat.
"Aku akan bilang pada nenek jika kita harus pulang, ini sudah senja." ucap Lucy sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Tunggu, kita biarkan saja sebentar lagi." ucap Andre sambil menarik tangan Lucy.
Lucy terduduk akibat tarikan dari Andre tadi, ia memandang wajah Andre yang hari ini sudah bekerja keras membantu neneknya di kebun. Ia tidak melihat Andre mengeluh sedikitpun saat nenek menyuruhnya ini dan itu.
"Kau ingin aku masakan apa malam ini?" tanya Lucy sambil tersenyum manis.
"Apapun yang kau masak aku akan memakannya." ucap Andre sambil menggosok kepala Lucy.
"Baiklah kalau begitu." ucap Lucy bersemangat.
__ADS_1
Tak lama kemudian nenek Grace sudah berjalan mendekat ke arah mereka, menandakan jika nenek juga akan segera menyuruh mereka mengangkat hasil panen dan membawanya pulang. Namun belum sempat nenek Grace menyuruh, Andre dengan sigap membawa beberapa keranjang berisi sayuran dan mengambil keranjang berisi tomat yang ada di tangan nenek Grace.
"Biar aku yang bawa nek." ucap Andre.
"Memang harus kau yang membawanya, tidak mungkin akan ku biarkan kau berjalan tanpa membawa apa-apa." ucap nenek Grace tertawa.
Lucy hanya tersenyum melihat nenek Grace dan Andre yang kini sudah jauh lebih akrab di bandingkan saat pertama kali bertemu.
"Ayo kita segera pulang, hari sudah semakin senja. Kita akan terlambat makan malam jika tidak segera pulang." ucap nenek Grace.
Tak lama mereka tiba di rumah nenek Grace dan mereka sedikit terkejut dengan kedatangan seorang laki-laki yang familiar dari pandangan mereka. Ya, laki-laki paruh baya itu adalah Boris ayah dari Lucy. Entah sejak kapan dia tiba di rumah nenek Grace namun mereka bertiga cukup terkejut dengan kedatangan pria itu.
"Mama, aku pulang." ucap Boris berjalan mendekati nenek Grace dan memeluk wanita tua itu.
Wanita tua itu tidak merespon pelukan ataupun ucapan yang keluar dari mulut Boris, nampak wajah marah pada nenek Grace kini muncul dan rasa tidak suka menyelimuti seluruh relung hati nenek Grace saat itu juga.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan mama sekarang? Aku sudah cukup lama menunggu di sini, kemana saja mama pergi?" tanya Boris basa-basi.
Nenek Grace tidak menjawab ucapan anaknya itu, ia benar-benar merasa muak dengan sandiwara yang selalu di mainkan oleh anak semata wayangnya itu.
Melihat semua ucapannya tidak di tanggapi oleh nenek Grace, Boris mengalihkan pandangannya ke arah Lucy dan Andre yang berada di belakang nenek Grace.
"Oh Lucy, tuan Andre. Kenapa kalian bisa berada di sini?" tanya Boris berpura-pura tidak tahu.
"Aku rasa kau tau jika kami ke sini, jadi kau juga menyusul kami karena penasaran dengan tujuan kami sebenarnya bukan?" tanya Andre secara langsung.
"M-maksudnya? S-saya tidak mengerti apa yang anda ucapkan." tanya Boris gelagapan.
"Aku tidak suka menjelaskan sesuatu secara detail. Kau jauh lebih baik dengan semua sandiwara mu itu." ucap Andre pergi meninggalkan Boris.
Nenek Grace juga ikut meninggalkan Boris yang terlalu banyak bicara itu, ia sangat mengetahui sifat dan tabiat anaknya itu.
__ADS_1