
Lucy kembali ke apartemennya dengan keadaan yang kurang menyenangkan di dalam hatinya. Bagaimana tidak? Omongan para karyawan kantor tadi siang masih terngiang di dalam benaknya. Lucy duduk di sofa dan merebahkan tubuhnya di sandaran sofa,kepalanya menengadah menatap langit-langit apartemen dan mencoba memejamkan mata. Ia berharap setelah membuka matanya semua yang ia dengar tadi hilang di dalam pikirannya.
Tok.... Tok.... Tok....
Tiba-tiba pintu apartemen Lucy di ketuk dari luar dan menyadarkannya, Lucy bangkit dan berjalan malas menuju pintu. Dahinya sedikit berkerut karena tidak tau siapa yang datang pada jam sekarang.
Lucy membuka pintu dan melihat sosok lelaki tua di hadapannya. Mata Lucy terbelalak terkejut melihat sosok yang ada di hadapannya kini. Ternyata yang kini ada di hadapannya adalah ayahnya, tuan Boris.
"Ayah, ada apa?" tanya Lucy singkat.
Boris masuk ke dalam apartemen Lucy tanpa di persilahkan terlebih dahulu oleh Lucy. Lucy terdiam dan mengikuti Boris dari belakang, ia takut jika Boris membuat masalah lagi di apartemennya. Boris duduk di sofa sambil mengangkat kakinya ke atas meja.
"Ayah mau minum apa? Aku akan buatkan." ucap Lucy mencoba sopan.
"Aku kesini tidak ingin minum ataupun makan, aku kesini ingin berbicara pada mu." ucap Boris tanpa menatap Lucy.
Lucy duduk di sisi lain sofa dan menatap Boris dengan pandangan sedikit kesal. Jika ia mengingat kejadian di kantor itu, ia benar-benar ingin melampiaskan semua kemarahannya kepada ayahnya itu.
"Kenapa? Apa kau sudah tidak ingin melihat ayah mu ini lagi?" tanya Boris.
"Tidak perlu basa-basi ayah, apa yang ingin ayah katakan." ucap Lucy langsung.
"Apa kau sudah tidak menganggap ku sebagai ayah mu lagi? Lucy, jika bukan karena ku kau tidak akan ada sampai saat ini dan mungkin kau tidak akan bisa bertemu dengan pacar mu itu." ucap Boris sombong.
__ADS_1
"Apa yang harus aku banggakan hasil dari perbuatan mu ini? Apa ayah tau betapa malunya aku sekarang? Aku benar-benar telah menjadi lelucon orang-orang di kantor, mereka bahkan tak segan-segan mengatakan hal buruk tentang ku." ucap Lucy tanpa menatap Boris.
"bagaimana mungkin orang-orang itu mau berkata buruk tenang mu? Kau adalah pacar seorang bos besar. Bernyali juga mereka untuk menceritakan tentang mu di belakang." ucap Boris penasaran.
"Ya, awalnya semua baik-baik saja sampai akhirnya kau datang dan membuat kekacauan di sana. Ayah tau, bagaimana mungkin seorang wanita yang di tebus oleh lelaki di sebuah club' malam dapat menjadi seorang pacar CEO? Aku yang seorang anak dari keluarga seperti ini apakah layak untuk menjadi pendamping bos besar itu? Jika bukan karena ayah mungkin sekarang aku baik-baik saja." ucap Lucy meluapkan kekesalannya kepada Boris.
Boris terdiam mendengar ucapan anaknya itu, ia tak menyangka jika kini Lucy sudah dapat menyalahkannya dan melawannya.
"Lucy, maafkan aku. Aku benar-benar tidak tau jika kelakuan ku membuat mu dalam masalah yang rumit paa akhirnya." ucap Boris menundukkan kepalanya.
Lucy tersentak kaget mendengar ucapan ayahnya, entah setan apa yang merasuki tubuh ayahnya saat ini. Seorang Boris yang memiliki tempramen tinggi dan gila akan judi dapat merendah dan meminta maaf kepadanya.
"Ayah, apa yang ayah rencanakan?" tanya Lucy tiba-tiba.
Lucy terdiam tanpa reaksi apapun, Boris pun berdiri dan melangkah menuju pintu. Boris pergi meninggalkan Lucy yang masih terdiam di sofa. Di dalam pikirannya kini apa yang di katakan Boris ada benarnya juga, mau bagaimanapun suatu saat nnti dia akan membutuhkan Boris dan hanya Boris keluarga satu-satunya yang ia miliki sekarang.
Lucy mengambil tasnya dan berinisiatif untuk mengunjungi Andre. Ia merasa ia harus bercerita tentang kegelisahan hatinya dengan Andre. Ia yakin Andre pasti mempunyai solusi untuk masalahnya saat ini. Tak berapa lama Lucy tiba di apartemen Andre, karena tau password kunci rumahnya Lucy hanya masuk tanpa mengetuk pintu. Lucy mencari-cari sosok Andre sambil memanggil-manggil nama lelaki itu namun tidak menemukan Andre. Lucy pun berjalan menuju ruang kerja Andre, namun langkahnya terhenti karena ia mendengar percakapan Andre dengan seorang pria di dalam sana. Ia masih belum tau siapa pria itu, namun Lucy berinisiatif untuk mendengar pembicaraan mereka.
Andre yang saat itu di datangi oleh Leon yang berkunjung tidak menyadari jika Lucy berada di sana.
"Jadi apa rencana mu pada wanita itu?" tanya Leon tiba-tiba.
"Maksud mu? Tolonglah kau berbicara yang jelas, jangan main tebak-tebakan dengan ku." ucap Andre serius.
__ADS_1
"Ya, apa kau sudah yakin untuk serius dengan wanita yang bernama Lucy itu? Kapan kau akan melamarnya dan menikahinya?" tanya Leon tanpa basa-basi.
Andre diam sejenak seolah berfikir untuk memilah kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu.
"Aku masih belum bisa memastikan itu semua." ucap Andre singkat.
"Jadi kau masih belum ada niat serius dengan wanita itu? Sepertinya kau masih belum bisa melupakan cinta pertama mu." tebak Leon.
"Tiara wanita yang sangat sempurna di mata ku, tidak mudah untuk menyingkirkannya begitu saja." ucap Andre.
"Owh good, mau berapa lama kau terjebak di bayang-bayang masa lalu mu itu. Jika menurut mu Tiara itu wanita yang sempurna, setidaknya kau carilah wanita yang mendekati sempurna." saran Leon.
Andre terdiam mendengar ucapan Leon, ia tak tau apa yang harus ia lakukan karena saat ini ia merasa nyaman bersama Lucy walaupun belum seutuhnya mencintai Lucy.
"Kau mendapatkan wanita itu di tempat hiburan malam, dengan keluarga yang berantakan dan boleh di bilang dia yang hanya lulusan high school apakah sepadan di bandingkan dengan apa yang telah kau usahakan selama ini. come on bro, kau bisa dapat yang jauh lebih baik dari itu." ucap Leon lagi.
"Tapi saat ini aku merasa nyaman dengan keberadaan Lucy di samping ku, aku tidak mempermasalahkan latar belakangnya." ucap Andre meyakinkan.
"No, bukan masalah itu bro tapi kau harus berfikir ke depan. Bagaimana keluarga mu, apakah di bisa beradaptasi dengan lingkungan mu yang kelas atas dan bergaul dengan mereka. Kau harus memikirkan itu semua agar kau tidak menyakitinya lebih jauh." ucap Leon menasehati.
Andre hanya diam mendengar ucapan dari Leon, kini yang ia pikirkan bahwa dia merasa nyaman dengan keberadaan Lucy yang mampu menyembuhkan lukanya sedikit demi sedikit walaupun belum sepenuhnya.
Di sisi lain Lucy yang mendengar percakapan antara Andre dan Leon terdiam menahan pedih di dadanya. Ia berfikir apa yang di katakan oleh sahabat Andre itu ada benarnya. Dengan status sosial yang berbeda sangat sulit baginya dan Andre untuk bersama.
__ADS_1