Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 101


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


ALHAMDULILLAH


Namun, kalimat penuh syukur itu harus berlanjut dengan,


INNALILLAHI WA INNALILLAHI RAJIUN.


Bapak menghembuskan napas terakhirnya usai Adam melafadzkan ijab kabul dan sah menjadi suami dari putri satu satunya yang selalu ia sia siakan semasa hidup.


Diana yang kebingungan langsung menoleh ke arah Adam yang menganggukan kepala seakan pria itu paham dengan pertanyaan yang ada dalam kepala istri keduanya.


"Gak! ini gak mungkin, kan" tanya Diana memastikan.


"Bapak udah gak ada, dia udah tenang disana. Terima kasih ya udah mau penuhin permintaan terakhirnya" ucap Adam yang sedetik kemudian membuat Diana tak sadarkan diri dan ambruk dalam pelukan Adam yang dengan sigap menahannya.


Jenazah bapak langsung di urus dan di kebumikan hari itu juga, Diana yang nampak lemah semakin tak berdaya saat tanah merah sudah menutupi jasad pria yang baru saja baik padanya.

__ADS_1


"Diana sudah memaafkan bapak, Dee harap juga bapak begitu" lirihnya dalam hati, ia mengaminkan doa doa yag di panjatkan salah satu ustadz yang mengiringi prosesi pemakaman bapak.


.


.


.


Usai dari pemakaman, kini Diana langung istirahat di kamar apartemen Adam, keduanya baru saja akan merencanakan untuk pindah ke apartemen yang lebih luas akhir pekan ini, tapi rasanya semua itu akan di undur sampai urusan almarhum bapak selesai empat puluh hari nanti.


"Kamu tunggu disini ya, aku ada perlu dulu sebentar" ucap Adam seraya mencium kening wanita yang baru saja ia nikahi pagi tadi.


"Sebentar saja, tak lebih dari satu jam, ok"


Diana menggelengkan kepalanya, ia benar benar butuh sadaran tapi Adam justru ingin pergi meski ia berjanji akan kembali.


"Apa ada yang lebih penting dariku, selama ini aku selalu mengalah tapi ku mohon untuk kali ini biarkan aku egois, aku sedang butuh pelukanmu" teriak Diana kesal dan kecewa, entah mengapa kali ini ia malah berpikiran jika suaminya itu hendak menemui anak dan istrinya yang lain padahal itu tidak sama sekali, Adam hanya ingin ke marakas karna ada urusan sedikit yang mengharuskan ia datang.

__ADS_1


"OK, aku tak akan meninggalkanmu, ku mohon jangan marah lagi. Aku ada disini bersamamu, percayalah" ucap Adam meyakinkan Diana dan langsung memeluk tubuh bergetar pemilik hatinya yang menangis histeris.


"Aku takut, ini kali ketiganya aku melihat satu persatu orang orang yang kusayangi pergi dan tak kembali, aku benar benar takut"


Adam terus menenangkan Diana, nada bicaranya yang pelan dan tangis yang menyayat hati tentu akan membuat siapapun sedih jika mendengarnya, bertahun tahun di sia siakan dan tak bertemu kini hadir dalam dua hari lalu pergi, itulah yang di rasakan si gadis berlesung pipi.


Diana tak lagi mampu membuka mata karna cairan bening tak kunjung juga berhenti mambasahi wajah pucatnya, rasanya begitu sakit selalu di tinggalkan secara mendadak, tapi ia masih beruntung karna Adam selalu ada di sisinya saat ibu dan bapak meninggal.


"Kamu ikhlaskan, agar mereka semua bisa berkumpul dan bahagia di sana ya, hanya doa yang kini mereka butuhkan bukan sesal atau air mata" ucap Adam sambil menciumi pucuk kepala Diana.


.


.


.


.

__ADS_1


"Jangan tinggalkan aku, karna mulai hari ini kamu pria satu satunya yang ku miliki meski aku bukan wanita satu satunya untukmu"


__ADS_2