Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 146 S2 CahayaLangit.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Permainan ketiga selesai di penghujung siang saat teriknya matahari menerobos kamar sang pengantin baru yang tubuhnya masih polos tanpa apapun di atas ranjang, keduanya terkapar lelah dengan keringat basah yang membanjiri. Napas yang tersengal pun seakan pertanda jika kini jantung mereka ribuan kali lipat detakan nya.


Jangan tanyakan bentuk tempat tidur mereka, karna sudah pasti sangat-sangat berantakan. Bantal dan guling yang sudah berserakan dilantai dengan seprei putih yang terasa basah karna adanya ca iran kenikmatan dan juga sebercak darah kehormatan Sang Tuan Putri Rahardian Wijaya.


"Mandi ya, Abang bersihin" tawar Langit dirasa tubuhnya sudah kembali bertenaga.


"Perih, gak bisa bangun. Badan aku sakit semua, Bang" keluh Cahaya. Bagian bawah tubuhnya seakan tak bisa di rapatkan karna seperti terus merasa ada yang terganjal di area sensitifnya.


"Maaf, dek" lirih Langit kembali merasa bersalah.


"Gak usah bilang maaf, dari semalem juga gitu abis minta maaf malah naek lagi, akunya di terobos lagi sambil di gigit" cetus Cahaya kesal.


"Tapi enak kan" jawab Langit sambil terkekeh. Ia tahu di balik rasa sakit yang di rasakan Cahaya, gadis itu tentu sangat menikmatinya. Hal yang paling membuat Langit kini begitu bangga pada dirinya sendiri karna sudah memberikan nafkah bathin yang baik pada istrinya.


"Yuk, Abang gendong ya ke kamar mandi, habis itu kita sarapan" ucapnya yang langsung mendapatkan pukul keras dari sang bidadari hati.

__ADS_1


"Sarapan apa jam segini? liat coba ini tuh pukul berapa Abang ganteng!" sentak Cahaya sambil menunjuk benda penunjuk waktu yang menempel di dinding.


"Hahaha, gak berasa ya. Kirain masih pagi taunya udah siang." Langit tertawa sambil mengusel manja di dada Cahaya.


"Awas ah.. Bahaya kalo nempel lagi" ucap si bungsu sambil mendorong kepala suaminya agar menjauh.


"Disini tuh enak banget dek" jawab Langit sambil beraba lagi dua bongkahan daging kenyal Cahaya.


Cahaya yang tak mau diterkam lagi tentu langsung meminta suaminya itu membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dengan cara di gendong ala bridal style kini keduanya sudah berendam di dalam bathup air hangat.


.


.


Langit yang kembali dengan baju Cahaya ditangannya langsung membantu ikut memakaikannya juga, tak hanya sampai disitu karna rambut panjang basah sang istri pun ia sisiri dengan sangat lembut sampai rapih.


"Udah cantik banget, kita tunggu makan siang dateng ya" ucapnya sambil bangun dari duduk setelah mencium kening istrinya.

__ADS_1


"Abang mau kemana?" tanya Cahaya sambil mencekal pergelangan tangan Langit.


"Mau pake baju juga, abis itu mau cuci seprei" jawabnya dengan posisi berdiri tepat di hadapan Cahaya yang duduk di sofa.


"Biar Adek nanti yang cuci, Bang"


"No, Sayang!" tolak Langit tegas.


"Jangan pernah pegang kerjaan apapun, kalau butuh sesuatu kamu tinggal bilang." sambungnya lagi semakin tegas, dari sorot mata Langit tenti tersirat tak ingin ada bantahan.


"Tapi, Bang. Adek sekarang istri Abang" kata Cahaya, jika beberapa waktu kemarin ada Diana dan Melisa yang menyiapkan tentu berbeda dengan hari ini yang hanya ada dia, dan Cahaya ingin sekali menikmati perannya sebagai istri.


.


.


.

__ADS_1


"Kamu sudah sangat lelah melayani Abang di ranjang, jangan kotori tanganmu dengan cara membuat sarapan atau sekedar kopi untuk Abang. Cukup selalu percantik dirimu, bahagian hatimu dan tenangkan pikiranmu karna kamu adalah Ratu dalam hidup Abang!"


__ADS_2