
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Kok aku pipis di celana ya?" gumam Diana lagi yang merasa bingung karna tak ada rasa ia mengeluarkan pipis tapi cela na dalamnya tiba-tiba basah dan banjir begitu saja.
"Gak bau, tapi..... "
Diana langsung membuka bajunya, tak ada rasa mulas sama sekali membuatnya masih sedikit tenang meski pikirannya kini sudah melayang kemana-mana. Diana yang sudah mengganti pakaian langsung menemui suaminya lagi di ruang tengah bersama Reno, entah apa yang mereka diskusikan sampai raut wajah suaminya itu tanpa senyum sama sekali.
"Sayang,"
Adam dan Reno menoleh secara bersamaan, Pria yang akan memiliki dua anak itu segera mengulurkan tangannya agar istrinya mendekat dan duduk di sebelahnya.
"Ada apa?" tanya Adam.
"Bisa ke rumah sakit sekarang?"
Adam mengernyitkan dahi, dunianya seakan berhenti beberapa detik saat mendengar permintaan istrinya.
"Rumah sakit? kenapa?" tanya Adam lagi, degup jantungnya berdetak berkali-kali lipat saat ini karna takut terjadi sesuatu pada Diana.
"Kita periksa aja, Yuk" ajaknya lagi yang langsung di jawab anggukan kepala dengan cepat oleh Adam.
Dua pria itu langsung bangun dari duduk, Adam membantu Diana berjalan sedangkan Reno membawa barang dan menyiapkan mobil.
"Mules, Dee?" tanya Adam sambil mengusap perut besar pemilik hatinya.
"Sedikit, tapi kadang kadang aja kok" jawabnya berusaha tenang karna tak ingin menambah kepanikan sang suami di dalam kereta besi mewah milik Adam.
.
.
__ADS_1
.
Dua puluh menit perjalan menuju rumah sakit akhirnya mereka sampai, Diana langsung di bawa ke ruang pemeriksaan untuk di periksa lebih lanjut. Adam sama sekali tak melepas genggamannya bahkan ia sesekali menciuminya juga untuk memberi kekuatan dan ketenangan untuk istri mudanya itu. Hal manis yang tak ia berikan pada Ayunda di detik detik kelahiran Mark kedunia.
"Masih pembukaan dua, sabar ya" ucap Dokter seraya tersenyum pada Wanita yang kini terlihat pasrah dengan keringat yang sedikit membasahi keningnya.
Diana langsung di bawa ke ruang observasi untuk menunggu pembukaan sampai lengkap dan sempurna.
"Dee, jangan tidur, makan dulu ya" tawar Adam sambil terus mengusap punggung dan pinggang Diana, ia yang sudah paham dengan tugas suami siaga tentu tak perlu di minta pasti sudah melakukannya karna sudah berpengalaman.
"Enggak, aku gak mau apa apa" jawabnya dengan senyum terpaksa.
.
.
Beberapa jam menunggu dengan rasa sakit yang semakin luar biasa nikmatnya karna tak bisa di gambarkan dan di utarakan akhirnya dokter kembali datang untuk meneriksa Diana, para perawat cukup salut karna istri kedua Adam itu tak banyak mengeluh, Diana cukup tenang menahan segala rasa sakit yang menjalar di tubuhnya.
"Sudah waktunya, sudah siap ya untuk menge JAN"
"Kuat ya sayang, kamu pasti bisa. Aku mencintaimu selalu dan selamanya. Kita akan jauh lebih bahagia nantinya" bisik Adam di telinga kiri istrinya yang kini kembali menitikan air mata karna kata cinta ynag Adam ungkapkan rasanya sungguh berbeda terasa lebih tulus dan menghangatkan hatinya.
"Doakan aku mampu untuk bisa membawa anak kita menyapa dunia dengan selamat" balas Diana.
"Tentu, sayang. Aku percaya padamu"
.
.
.
__ADS_1
Ruang persalinan mulai menegang saat dokter dengan telaten memberi arahan, sedangkan tangan Adam dan Diana masih terus saling menggenggam seraya menguatkan satu sama lain. Ini adalah rasa takut yang baru pertama kalinya Adam rasakan selama hidupnya. Ia tak bisa membayangkan jika hal buruk terjadi entah pada salah satu atau juga keduanya mungkin saat itu juga dunia Adam akan runtuh seketika.
Dua puluh menit kemudian akhirnya suara tangis seorang bayi pecah menggema ke seisi ruangan di barengi dengan ucapan syukur team dokter dan para perawat.
"Anak kita lahir, sayang. Terimakasih atas perjuanganmu"
Adam menoleh saat seorang perawat sudah ada di dekatnya untuk menyerahkan si bayi yang memiliki rambut begitu lebat dan hitam.
"Anak Tuan dan Nyonya laki-laki, sehat dan lengkap semua"
Orang tua baru itu pun langsung mengucap rasa syukur yang tak terkira karna perasaan bahagia bercampur lega.
"Terimakasih, sus. Biar saya adzani lebih dulu"
Adam meraih putra keduanya itu untuk di adzani di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri, lantunan yang keluar dari mulut pria tampan itu begitu merdu di dengar tak perduli dia adalah seorang pendosa sekalipun.
"Ganteng banget, mirip Papi ya" goda Diana saat tubuh mungil telanjang anaknya kini berada di atas dadanya.
"Tentu dong, gantengnya harus kaya Papi, tapi sifat baik hati, sabar, pintar dan rendah dirinya harus mirip Mami" balas Adam seraya melirik kearah Diana yang langsung tersipu malu.
"Akan di beri nama siapa anak kita?" tanya Diana.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Biar readers yang jawab, mereka udah heboh dari Kamerin, Dee 🙄🙄