Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 33


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Aku hanya ingat pesanmu untuk tidak menjawab telepon dari nomer yang tak ku kenal, Dam!" jawab Diana jujur apa adanya.


Adam langsung tertegun. Namun, setelahnya ia tertawa terbahak-bahak mendengar alasan kekasihnya itu.


"Maaf, aku lupa, sayang"


"Ini nomer siapa? kamu ganti nomer." tanya Diana.


"Hem.. Ponselku jatuh dan rusak, Dee" jawab Adam memberi alasan dengan sedikit berbohong.


"Rusak bagaimana?"


"Tadi jatuh dan mati total, tapi aku sudah membawanya ketukang service jadi untuk sementara aku akan memakai nomer ini untuk menghubungi mu, jangan telepon aku jika bukan aku duluan yang menelponmu, paham" seperti biasa Adam mulai memberi banyak pesan untuk Diana tanpa ia sadari jika gadis yang kini sedang berbicara padanya itu kadang terlalu polos hingga menelan bulat bulat perintah kekasihnya .


"Baiklah, tapi ingat janjimu untuk cepat kembali ya"


Adam yang mendengar permintaan Diana pun hanya bisa menarik napas dalam-dalam, ia bingung memberi jawaban apa untuk sang pemilik hati disana.


"Tentu, aku akan sangat merindukanmu"


Adam segera menutup teleponnya karna takut jika Papa akan curiga jika tau ia tak ada dikamar.


.


.

__ADS_1


.


"Dari mana kamu?" tanya papa tepat di belakang punggung Adam, pemuda itu tersenyum menyeringai karna apa yang ia pikirkan ternyata kini terjadi.


"Papa gak lihat aku bawa apa?!" jawab Adam sambil melirik cangkir di tangannya yang berisi kopi panas, bahkan asapnya saja masih mengepul ke udara.


"Jangan macam macam, nikmati hukumanmu. Papa harap kamu bisa instropeksi diri untuk menyadari semua salahmu selama ini, berhentilah menjadi si pembuat onar, Adam"


"Hem.." Adam hanya berdehem kecil, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya sendiri.


Di depan cermin ia menatap tubuhnya yang penuh luka, rasa sakit seperti ini tentu sudah sering ia rasakan selama tiga tahun belakangan, tak ada lagi air mata yang keluar seperti awal ia diperlakukan tak adil oleh kedua orangtuanya.


"Aku yang menyedihkan ini harus kuat untukmu, Dee. Aku dan kamu adalah kita yang sama sama kurang beruntung dalam memiliki keluarga"


******


Braaaak..


Adam tersentak kaget saat Bagas dan papa datang ke kamarnya tanpa mengetuk pintu lebih dulu.


Ia mengernyitkan dahinya saat lembaran kertas berserak diatas meja belajarnya.


"Aku lulus!" ucapnya dengan senyum bangga saat ia meraih salah satu kertas yang tadi dilempae oleh papa, perjuangannya ternyata tak sia sia selama ini meski bukan dengan hasil yang paling baik.


"Papa kira kamu tak akan lulus? nyatanya kali ini papa salah."


"Lulus atau tidak, kurasa papa tak akan perduli" Adam langsung membalikan ucapan papanya, sang Tuan besar Biantara.

__ADS_1


"Setidaknya kali ini kamu berhasil untuk tidak membuat keluarga malu, 'kan?" cetusnya dengan tatapan bagai Elang.


Adam berusaha tak menanggapinya karna ia sedang tak ingin berdebat apa-apa dengan dua pria angkuh di depannya itu.


Otaknya sedang berputar mencari tahu dimana surat kelulusan milik Diana yang akan ia antarkan nanti.


"Kamu bisa kuliah dengan caramu sendiri, tunjukan pada kami jika kamu mampu lebih baik dari kakakmu ini!" tegas papa yang langsung membuat Adam menoleh kearahnya, dengan sama-sama menatap nyalang ia pun bertekad untuk tidak mengemis belas kasih lagi dari keluarganya.


.


.


.


.


.


.


Baiklah... Mulai sekarang aku akan berusaha untuk berdiri diatas kakiku sendiri meski harus dengan cara HARAM.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Jreng.. jreng.. jiwa Psikopat ku mulai meronta ronta🀣🀣


Like komennya yuk ramaikan.

__ADS_1


__ADS_2