
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Part hareudang ya! up di jam 00.01. kalau kalian dapet notif pagi sampai sore cukup like babnya aja dulu dan bisa baca saat malam nanti.
Happy Reading buat yang baca malam ini sampe subuh tiba!
.
.
Malam pertama yang di rencanakan oleh pasangan pengantin baru Cahaya dan Langit akhirnya kini bisa terlaksana, mereka yang berniat melakukannya di apartemen milik Langit saat pindah nanti akhirnya bisa bernapas lega setelah memecah perdebatan antara Rahardian dan Biantara. Dua keluarga itu masih saja memperebutkan si bungsu dan si tunggal berharap pasangan itu mau ikut salah satu diantara mereka.
Alih alih tak ingin memihak salah satu akhirnya keputusan pun keduanya pilih yaitu hidup mandiri.
"Liat wajah Buna sama Mami tadi sedih banget ya pas pamit pulang" ucap Langit yang duduk bersama Cahaya di sofa depan TV kamar mereka.
"Di suruh nginep gak pada mau"
"Mereka maunya kita kesana, sayang" balas Langit lagi.
"Tapi aku maunya sama Abang aja" goda Cahaya, gadis kecil itu berubah sangat agresif dan sering menggoda setelah menikah meski ujung-ujungnya selalu kabur dan bersikap seperti tak terjadi apa apa.
"Yuk, sekarang!" tanpa aba aba, Langit langsung menarik tangan Cahaya, di gendongnya tubuh langsing itu ala bridal style menuju ranjang pengantin mereka yang bernuansa putih, warna favorit Langit selama ini.
__ADS_1
"Jangan nangis ya. Kata kakak, ini tuh rasanya sakit banget" ucap Langit saat ia mengungkung sang istri di bawah tubuhnya.
"Adek yang sakit?" tanya Cahaya.
"Bukan, badan Abang yang mungkin akan sakit saat kamu cakar atau cubit" kekehnya yang mambuat si bungsu merengut kesal.
"Belum apa-apa udah protes aja, gak jadi deh!"
"Eh, jangan! dari kemaren kemaren gak jadi mulu kapan adanya si Langit junior yang lima biji" seru Langit sedikit protes.
"Biji? abang kira anak kita itu salak, berbiji?"
Langit yang mendengar protes sang istri pun langsung meminta maaf lalu mencium kedua pipi Cahaya agar gadis halalnya itu tak terus merajuk.
"Bang... "
Sensasi yang baru di rasakan Cahaya membuat ia bingung harus apa, ini benar-benar pertama kalinya ia rasakan dan ia alami. Apalagi saat Langit semakin berani menyentuhnya di bagian pundak meski masih terbalut piyama rasanya tetap saja berbeda.
"Abang mau sekarang ya" bisik Langit dengan suara berat dan parau seperti ada seseuatu yang ia tahan dan berusaha ingin di keluarkan.
"Sakit ya?"
"Entah, kita coba dulu ya, kalau sakit ya gak apa-apa gak usah di terusin" jawab Langit yang sebenarnya masih tak tega menyentuh lebih dari ini pada Cahayanya.
__ADS_1
Anggukan kepala yang di berikan Cahaya bagai angin segar bagi Langit yang sudah menggantung harapan untuk di layani.
Pria tampan itu kini melanjutkan aksinya untuk yang pertama kali, ia yang melihat bibir sang istri yang begitu ranum pun tak kuasa lagi untuk menahannya, di sentuhnya lebih dulu dengan jari untuk lebih memantapkan hati.
Entah ada dorongan dari mana, Cahaya justru reflek menutup kedua matanya.
Senyum pun tersungging di ujung bibr Langit yang seperti mendapat lampu hijau untuk bisa ia nikmati dengan segera.
Langit mendekatkan wajahnya, hatinya yang berdebar hebat pun tak lagi ia hiraukan. tujuannya hanya satu malam ini yaitu memberi yang terbaik untuk Cahayanya.
Bibir yang hanya bersentuhan membuat Langit bingung di awal aksinya, tapi insting seorang laki laki memang tak bisa di ragukan, setidaknya ia ingat beberapa film yang terdapat adegan ciuman. Yang tadinya hanya sebatas menyentuh, kini mulai sedikit ******* dan meminta Cahaya untuk sedikit membuka mulut agar lidahnya bisa masuk dan menari disana.
Dan benar saja, baru sebatas ciuman yang masih terbilang lembut Cahaya justru sudah mencengkram bahunya sedikit kasar.
.
.
Bang... kok ini adek kaya???
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁***
Hayo, kaya apa 🤣🤣🤣🤣
__ADS_1
Yuk lanjut 😊😊😊