Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 68


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Aku ingin lebih dari ini, Dee" pinta Adam dengan buruan napasnya yang sedang di kuasai Bi raHi.


"Kenapa? kamu tahu jika aku tak akan memberinya, kan?" jawab Diana yang akhirnya turun dari atas tubuh kekasihnya.


"Aku ingin memilikimu seutuhnya, hanya aku"


"Kamu pikir aku milik siapa saja selama ini?!" cetus Diana kesal, ia tidur dengan membelakangi Adam yang terus mencoba melanjutkan permainan mereka.


"Aku tak pernah melakukannya selain denganmu, aku ingin kamu wanita pertama untukku"


Sebagai pria normal yang biasa di layani oleh Diana, tentu Adam takut hal lain terjadi saat ia satu ranjang dengan istrinya. Ayunda yang lebih agresif dari Diana tentu pasti akan lebih memusingkan kepalanya. Tak mungkin ia terus-terusan memberikan gadis itu obat tidur meski dosisnya rendah.


Lalu bagaimana jika malah ia yang di beri obat perangsang?


Adam mengusap wajahnya kasar, hal buruk terus menguasainya malam ini. Detak jam yang terus berputar ke kanan semakin mengurangi waktunya bersama Diana yang memang tak banyak.


"Dee.. kamu tidur? selesaikan dulu" pinta Adam mengusap punggung Diana yang polos karna gadisnya itu hanya menutupi bagian depannya saja dengan selimut.


"Sayang.. aku mau pergi sebentar lagi"

__ADS_1


Tak ada jawaban sama sekali dari Diana membuat Adam bangun dan meneruskannya di kamar mandi, ia akan menuntaskan hasratnya jangan sampai ada sisa keinginan saat datang menemui Ayunda nanti.


.


.


Jam empat pagi, Adam sudah bersiap. Ia tak tidur sama sekali semalam hanya memainkan rambut Diana yang terurai panjang sepinggang.


Ia suka surai tersebut, hitam dan lurus tak pernah berubah sejak pertama kali mereka bertemu.


"Aku pergi lagi ya, jaga dirimu baik baik saat tak ada aku bersamamu, Dee. Aku mencintaimu sangat sangat mencintaimu" bisik Adam di telinga Diana. Ia tahu jika kesayangannya itu hanya pura-pura terlelap.


Adam turun dari ranjang, perlahan berjalan meninggal pemilik hatinya itu sendiri lagi, ia belum bisa memastikan kapan akan pulang kembali pada Diana karna belum tahu rencana apa yang di inginkan mertuanya itu.


.


.


"Eyang, aku titip, Dee ya" pinta Adam saat di dapur, sudah ada segelas susu dan sepotong roti untuk mengganjal perutnya.


"Iya, Den Adam tak perlu khawatir, Nona akan kamu jaga dengan baik" jawab Eyang, pasangan kekasih itu bagai anak anaknya sendiri yang akan ia jaga sepenuh hatinya.

__ADS_1


"Terimakasih, jika waktunya nanti aku akan membawa Eyang dan Diana ke kota agar memudahkan ku mengunjungi kalian"


Adam berpamitan setelah mengurai pelukan pada Eyang, jauh di dasar lubuk hatinya ia masih berharap Diana turun dari kamar untuk sekedar memberi pelukan perpisahan karna pertemuannya kali ini sungguh di luar kebiasaan mereka.


Aku pergi, Dee. Tunggu akun kembali pulang!


Adam memanaskan motornya sambil memakai jaket stelah membangunkan penjaga rumah untuk membuka gerbang yang menjulang tinggi, hatinya yang menncelos tak sadar jika ada sepasang mata yang memperhatikannya di balik gorden kamar mereka.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Aku lebih baik memperbaiki hubungan denganmu dari pada harus mencari penggantimu. Serumit apapun masalahnya tak ada sedikitpun niat meninggalkan mu.


__ADS_2