Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 113


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁


"Langit Rahardian Wijaya"


Diana langsung menurukan tangannya dari bahu Keynara, ada rasa kecewa dalam hatinya saat gadis kecil itu memberitahukan nama panjang seorang anak laki laki yang sebelumnya ia kira sebagai anaknya.


"Mbak, kenapa?" tanya Keynara lagi saat ia melihat pengasuhnya itu menggigit bibir bawahnya untuk menahan air mata.


"Gak apa apa, Non"


Diana membuang pandangannya untuk menghindari tatapan Pak Darto dan Keynara yang sepertinya sediikit menyimpan rasa curiga padanya.


Selama perjalan pulang ke kediaman Sanjaya, Diana hanya mendengarkan celoteh Keynara tanpa menjawab atau menimpali. Hatinya begitu sesak tapi entah kenapa ia justru tak percaya dengan apa yang di katakan gadis cantik yang duduk disebelahnya itu.


Sampai di rumah, Diana yang usai mengurus Keynara mulai dari mengganti seragam sampai memberinya makan siang pun berpamitan untu masuk ke kamarnya dengan alasan ia merasa sedikit pusing di bagian kepala.


Dan kini, di dalam ruangan tidur pribadinya Diana menumpahkan tangis yang sedari tadi sudah ia tahan ddengan sekuat tenaga.


"Mami kangen kamu, kamu dimana, Nak" lirihnya sambl terus terisak.


Entah berapa banyak ia sudah menumpahkan air matanya, tangis karna rindu dan marah pada dirinya sendiri yang dulu penah meninggakannya pada orang lain yang jelas tak ia kenal. Diana selalu merasa gagal menjadi ibu.


*****


Rasa penasaran membuat Diana terus mencari tahu sosok si anak laki-laki berumur sembilan tahun yang membuat ia tak bisa tidur nyenyak setiap malam, otaknya seakan selalu berpusat pada Langit Rahardian Wijaya, itulah ynag Keynara katakan beberapa hari lalu.

__ADS_1


"Mbak sekarang rajin banget ya anter aku ke kelas" kata Keynara sambil tertawa.


"Mbak cuma mau mastiin kalo Non Key sampai ke kelas dengan aman kok" elak Diana, ia tak ingin siapapun tahu tentang rencananya yang akan nekat mendekati Langit.


Keduanya turun dari mobil mewah milik nyonya Hanna, Diana langsung menggandeng tangan mungil Keynara sampai depan kelasnya.


"Mbak pulang ya, perhatikan saat guru sedang menjelaskan agar kelak kamu lebih pintar" pesan Diana sambil mengusap kepala majikan kecilnya itu.


"Iya, Mbak"


Diana memutar badannya setelah berpamitan, langkahnya begitu pelan berjalan sembari mengedarkan pandangan.


"Kemana anak itu, aku sedang sangat merindukannya" gumam Diana.


Diana yang melempar senyum jelas di abaikan karna ketiga bocah tampan itu tak melihatnya sama sekali saking asiknya bercanda.


Diabaikan sekali tentu membuat wanita cantik yang masih memiliki rambut sepinggang itu menyerah, esoknya ia masih melakukan hal yang sama sampai satu minggu lamanya.


Puncak dari rasa penasarannya adalah saat ia akan mencoba memberikan sesuatu pada Langit.


"Aku akan tahu dia Langit ku atau bukan dengan cara ini"


"Mami yakin kalau itu kamu, Nak. Mami masih ingat betul matamu, senyummu dan suaramu"


Ya, Langit tumbuh hanya menjadi anak yang jauh lebih tinggi dan rapih, tak ada yang berubah darinya terutama saat ia tersenyum. Ibu manapun tak mungkin keliru mengenali putra putri nya meski terpisah jarak dan waktu.

__ADS_1


"Tunggu Mami ya, Mami akan temui kamu"


Diana yang sudah siap dengan satu kotak makan di tangannya pun menghampiri salah satu murid yang jauh lebih besar dari Langit ataupun Keynara.


"Permisi, tante boleh minta tolong?"


"Oh iya, tante. Ada apa ya?" jawab si siswa tersebut.


"Bisa berikan ini pada anak kelas tiga, namanya Langit" pinta Diana lagi.


"Hem, ini bekal makan siangnya yang tertinggal" sambung Diana, ia menangkap keraguan pada bocah di depannya itu.


"Baiklah," ucapnya sambil menerima kotak makan yang di sodorkan Diana.


.


.


.


.


.


Semoga kamu suka kentang goreng dari Mami ya...

__ADS_1


__ADS_2