
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Aku kenyang, Dam" ucap Ayunda saat Adam menyuapinya potongan buah potong yang sudah di kupas.
Adam yang akhirnya mengalah ikut ke kota A harus ekstra sabar melayani Ayunda yang semakin manja padanya, semua itu ia lakukan demi menarik perhatian sang istri dan dan kedua mertuanya agar bisa percaya padanya lagi seperti dulu, karna sampai detik ini Adam masih dalam pengawasan ketat Jammy dan beberapa anak buahnya.
Jika saja bukan demi Diana mungkin ia akan lebih mati membawa semua dosanya, hidupmu untuk apa jika keluarganya masih tetap acuh dan tak perduli.
Nona Ayunda pribadi yang keras, jika Tuan tak mengambil hatinya lebih dulu tentu akan sulit untuk tuan memperdayanya. Mengalah sebentar tak apa dari pada tak memiliki kesempatan sama sekali
Itulah yang di katakan Reno saat Adam hampir saja tertangkap basah lagi saat berniat kabur, entah apa yang di lakukan Jammy dan putrinya itu jika bukan Reno yang menolong dan memberi alasan.
"Istirahatlah, aku mau taruh ini sebentar ke dapur"
"Cepatlah kembali" pinta Ayunda dengan nada manja, Adam hanya menyunggingkan senyum di sudut bibir karna sebenarnya ia sedang mengumpat kesal dalam hati.
Adam melangkah keluar dari kamar menuju dapur kotor, ia membuka laci kecil dekat lemari pendingin untuk mengambil ponsel yang biasa ia gunakan untuk menghubungi Eyang saat ingin tahu keadaan kekasihnya.
"Sedang apa dia, eyang?" tanya Adam.
"Nona sedang bermain dengan Chiro" jawab Eyang sambil melirik kearah Diana yang sedang mengusap lembut seekor kucing pemberian dokter radit.
"Jaga dia untukku, secepatnya aku akan datang" pesan Adam, ia memang sedang menyusun rencana untuk pergi dalam waktu dekat ini saat Ayunda sudah ada dalam genggamannya.
__ADS_1
"Tentu, Den Adam. Eyang akan menjaga dan selalu menemani nona agar tak kesepian" balas wanita baya itu, beberapa kali Diana mencoba mengakhiri hidupnya tentu membuat ketakutan sendiri bagi Eyang yang sudah menyayanginya seperti anak sendiri.
"Katakan jika aku sangat merindukannya"
Adam langsung menutup telepon dengan cepat saat dirasa ada yang datang, karna disini ia tak bisa sama sekali percaya pada siapapun kecuali pada Reno yang sudah jelas beberapa kali menolongnya.
"Tuan, Nona Ayunda mencari anda"
"Hem, baiklah. Terimakasih"
Adam kembali ke kamarnya yang bagai neraka, ia berjalan dengan langakah gontai malas.
Cek lek.
Pintu di buka dengan pelan, Adam harus tersenyum setiap kali bayangan istrinya itu tertangkap oleh dua netranya yang selalu terbayang wajah cantik Diana.
"Aku bikin kopi"
"Kenapa tak meminta pelayan untuk membuatkannya dan di bawa kemari" cetus Ayunda, ia memang selalu marah-marah tak jelas jika suaminya itu berada jauh darinya.
"Hanya secangkir kopi, tak perlu orang lain yang membuatnya karna aku pun bisa" sahut Adam masih mencoba sabar, jika saja Diana yang sedang merengut kesal seperti itu, sudah bisa dipastikan Adam tak akan memberi ampun untuk menghukumnya dengan sentuhan sentuhan lembutnya.
"Cepat kemari, aku ingin tidur"
__ADS_1
Adam mengepalkan kedua tangannya sebelum ia meringsek naik keatas ranjang, ingin rasanya ia mencekik leher putih jenjang milik Ayunda hingga gadis itu kehabisan napas dan kehilangan nyawanya dengan cepat.
.
.
.
.
.
.
.
Ya Allah.. hambamu ini ikhlas jadi Duda yang di tinggal mati istrinya.. Sumpah ya Allah ikhlas dah pokonya mah!! hamba anter langsung ke Liang kubur dengan Aamin yang panjang keras dan Lama. #Eh
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Sama Bang 🤣🤣🤣🤣
Ridho gue juga kok 🤭🤭🤭
__ADS_1
Ku tampung Duda rasa perjakamu itu dengan senang hati selagi diriku yang malang ini belom di lirik besanmu itu.
Like komennya yuk ramaiakan.