
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
" Terimakasih " ucap Diana pada seseorang yang datang kurumah mewahnya yang dijaga ketat meski di daerah terpencil. Orang itu menyerahkan satu dus besar berisi kue ulang tahun Langit yang ke tiga. Anak semata wayangnya itu kekeh ingin cake bergambar sedangkan Diana hanya bisa membuat brownies atau bolunya saja tanpa diberi toping karakter yang macam macam.
"Moga Langit suka" gumamnya dengan perasaan tak menentu.
"Itu apa?" tanya Adam yang sedikit mengagetkan Diana.
"kue ulang tahun Langit, baru dateng nih"
"Mau di potong, kapan?" tanya Adam lagi, hatinya begitu. gusar sejak semalam seperti akan terjadi sesuatu di hari spesial putra kesayangannya.
"Tunggu Langit bangun tidur dan mandi dulu, Pih"
.
.
Tak berselang lama akhirnya bocah tampan itu sudah rapih dan siap dengan baju baru yang ia kenakan. Langit begitu tampan apalagi saat senyum hangat tak lepas dari wajahnya yang teduh.
"Suka, kuenya?" tanya Diana.
"Suka, Mih. Telimakasih" jawab Langit kecil. Meski umurnya baru tiga tahun tapi bicaranya sudah sangat bisa di pahami itu berkat Diana yang terus mengajaknya mengobrol dan bercerita banyak hal.
__ADS_1
"Sama-sama sayang, kita tunggu Papih dulu ya"
"Papih kemana?"
"Ada dihalaman belakang, lagi terima telepon dari temen kerjanya papih dulu sebentar"
Langit hanya mengangguk paham, ia begitu bahagia sampai kedua matanya tak lepas dari kue ulang tahunnya.
"Ada apa?" tanya Diana saat Adam kembali dengan raut wajah sangat tegang bahkan senyumnya jelas di paksakan.
"Gak ada apa-apa, ayo mulai tiup lilinnya sekarang karna aku harus pergi dulu" kata Adam dengan nada getir.
"Kemana? bukankah kamu berjanji akan membawa Langit jalan-jalan"
"Pih!" sentak Diana kesal.
"Aku mencintaimu, Dee" Adam menangkup wajah istri mudanya dengan kedua tangan bergetar.
"Papih, Mamih ayo ulang tahun Langit dulu" rengek Putra Biantara itu yang membuat kedua orangtuanya menoleh.
Adam dan Diana langsung menghampiri anak mereka yang sudah siap di depan kue tart bertingkat dengan lilin merah diatasnya. Angka tiga adalah usia Langit hari ini, usia batita yang seharusnya sedang asik bermain dengan anak seusianya tapi ia malah di kurung sampai jarang tahu dunia luar, hanya Papih, Mamih dan Eyang yang ia tahu bahkan ART lain di larang menyentuhnya karna Adam tak percaya pada siapapun akhir akhir ini.
"Yuk, kita berdoa dulu ya, habis ini kita tiup lilinnya lalu potong kue, ok" kata Adam mencoba menutupi perasaan kalutnya.
__ADS_1
"Nanti habis ulang tahun jalan jalan lihat robot ya" sahut Langit, Adam dan Diana pun saling menatap tak menjawab permintaan anak mereka.
"Selamat ulang tahun, Langit. Jadi anak baik ya, selalu menjadi kebanggaan orang-orang terdekatmu nantinya. Luasnya sabar mu seperti nama yang sudah Papih dan Mamih berikan"
Aamiin..
Langit langsung meniup lilin yang sudah di nyalakan oleh Diana saat suaminya sedang menggantung kan banyak harapan pada putranya.
"Yeee, Langit sudah tiup lilinnya" soraknya bahagia yang kemudian mencium pipi Mamih juga Papihnya secara bergantian, cara yang sama pun Langit dapatkan dari orangtuanya.
Kue yang baru saja hendak di potong harus terhenti saat dering ponselnya berbunyi di saku jas Adam yang langsung ia raih dan mengangkatnya dengan segera.
Satu detik dua detik tiga detik sampai lima detik akhirnya telepon di akhiri tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Kemasi barangmu dan Langit sekarang juga, Dee...