
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Selesai dengan urusan hutang kepada ketiga temannya kini Adam lebih dulu pulang kerumah, hatinya begitu mencelos saat melihat kedua orang tuanya sedang berbincang dengan bagas di ruang tengah kediaman megahnya.
"Baru pulang?" tanya mama.
"Iya, Mah"
"Kamu belum daftar kuliah? kenapa." kini papa ikut bertanya dengan nada dingin seperti biasanya.
"Gada duit" jawab Adam enteng dan apa jujur, setelah semua card miliknya di ambil oleh orang tuanya memang ia benar benar tak punya uang lagi, bahkan uang cash di dalam dompetnya pun ikut habis secara perlahan.
"Lalu kamu tak akan meneruskan pendiidikanmu lagi, begitu?" bagas berkata dengan senyum menyeringai.
"Gak!" sahutnya malas sambil melengos pergi begitu saja.
Sikapnya yang memang sering membantah sudah mampu menyulut emosi kedua orangtuanya yang memiliki sifat keras.
Adam memang berbeda dengan Bagas yang cenderung penurut namun licik, ia selalu menuruti kemauan papanya yang memiliki ambisi kuat tanpa pria baya itu sadari jika si sulung memiliki niat jahat padanya di masa mendatang.
BRAAAAAK
Adam menutup pintu kamarnya dengan sangat keras, ia baringkan tubuh lelahnya di atas ranjang kingsize yang berada di tengah kamar luasnya.
__ADS_1
"Kuliah? apa iya gue masih butuh itu sekarang" gumam Adam dengan mata terpejam.
Ia rogoh lagi saku celananya untuk meraih beberapa lembar uang sisa pemberian Bang jali yang separuhnya sudah habis untuk membayar hutang kepada Ardi dan Akram serta sudah ia pisahkan juga untuk Bi Asni, tentu ia tak ingin menjadi beban bagi janda beranak tiga itu.
"Sisa segini, cukup sih buat beli ponsel tapi gue gak bisa buat kasih Diana, kasihan dia" lirihnya sedih jika mengingat gadis kesayangannya itu harus berkutat di dapur, padahal impian Adam adalah menjadikan istrinya kelak Ratu di hati dan hidupnya.
"Sabar ya sayang, aku akan bahagian kamu"
.
.
.
'"Kenapa lo?" tanya Jali saat melihat Adam sedang mengulum senyumnya.
"Yang malem taunya deket sama rumah calon bini, Bang. Gue bisa mampir bentar buat setor" kekeh Adam dengan raut wajah langsung memerah.
"Setor apa? kok otak gue mampir ke yang haram ya" timpal Jali dengan ekspresi sulit di artikan.
Adam langsung menelan salivanya kuat kuat tak berani meneruskan kata katanya lagi.
"Gue berangkat ya, Bang. Kalo kesiangan ntar rejeki gue di patok ayam" ucapnya sambil pergi, itu ia lakukan karna tak ingin mendengar umpatan dari Jali.
__ADS_1
Adam melajukan motor besarnya menuju tempat pertama, sebuah gang kumuh di sisi mushola kecil ujung kampung.
"Mana?'' pinta seorang pria yang memakai seragam kerja salah satu pabrik besar di kotanya. Namun, Perhatian Adam langsung beralih pada seorang wanita tinggi mulus dengan rambut berwarna merah di kuncir satu mirip ekor kuda, penampilannya yang tak biasa dengan tindikan di sekitar telinga dan lidah sudah bisa di tebak jika barang haram itu untuk mereka berdua.
"Nih, bang"
"OK, thanks ya" ucapnya sambil memberi uang.
"Bang, besok kalo pesen jangan janjian disini ya" pinta Adam polos sampai orang tersebut mengernyitkan dahinya bingung sambil menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Memang kenapa?" tanyanya sedikit panik.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jadi inget DOSA gue, Bang pinggir mushola begini..