Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 126


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Langit yang memilih pulang tak perduli dengan tamu yang kini sedang menunggunya untuk bertemu. karna bagi pria itu tak ada yang lebih penting saat ini selain menemui Cahaya secepatnya sebab sang kekasih hati tak henti hentinya mengirim pesan meminta ia untuk segera pulang.


Langkah kaki panjangnya dengan cepat menuju lift yang akan mengatarnya ke parkiran mobil tempat dimana kereta besi mewahnya itu berada.


Dengan kecepatan lumayan tinggi akhirnya tak sampai satu jam ia pun sampai di apartemen keluarga angkatnya.


Langit yang baru keluar dari mobil di kejutkan dengan adanya Cahaya di area parkir, Gadis itu berdiri dengan tangan melipat di dada hanya untuk menunggunya datang.


Sayang, kamu ngapain?" tanya Langit bingung.


"Nunggu Abang dong" ucapnya kesal karna bosan menunggu.


"Ya ampun, dek" kekeh Langit yang langsung mencium kening dan dua pipi gadisnya itu


"Abang lama banget" ucap si bungsu dengan ketus.


"Maaf sayang, Abang kan harus selesai in semua kerjaan Abang selama beberapa hari kedepan"


"Hem, ok deh" sahut gadis cantik itu pasrah.


Langit ya tau bahwa kekasihnya sedang merajuk hanya bisa tersenyum simpul, si berjongkok di hadapan sang kekasih.


"Hahaha, Abang lagi ngerayu aku ya" kekeh Cahaya, tanpa butuh waktu lama ia langsung naik keatas punggung calon suaminya itu.


Dengan rasa sayang yang luar biasa tak perduli sebesar apapun tanggung jawab yang ia pikul saat ini, selelah apa tubuhnya dan Sepenat apa otaknya, Cahaya tetap prioritas utama bagi Langit hanya gadis itu yang selalu membuat ia nyaman setelah beraktivitas seharian.

__ADS_1


Ia menggendong Cahaya sampai benar benar masuk kedalam apartemen kedua orangtuanya.


******


Langit yang sudah masuk kedalam kediaman Rahardian membuat Melisa yang baru turun dari kamarnya kaget dan langsung panik.


"Adek kenapa, Bang?" tanya Melisa yang selama ini di panggil BUNA oleh Langit sedari kecil, tepatnya saat mereka pertama kali berjumpa.


"Gak apa-apa, Bun. Cuma lagi ngambek nih gara gara lama nungguin Abang pulang kerja"


Cahaya yang tahu sedang di goda malah mencium pipi pria kesayangannya oitu.


Melisa yang melihat drama romantis anak anaknya hanya bisa tersenyum simpul sambil


berdoa dalam hati kelak mereka selalu bersama dalam keadaan suka dan duka.


"Kamu jangan terlalu manjain Chaca, Bang" kata Melisa saat Langit sudah menurunkan gadis kecilnya itu dari punggungnya.


"Tapi nanti Adek semakin tergantung sama kamu, dia gak bisa apa apa sendiri"


Melisa yang tahu seberat apa tanggung jawab Langit di kantor dan banyaknya pekerjaan yang menumpuk di sana tentu tak ingin menambah beban putra angkatnya dengan terus memanjakan si bungsu.


"Cahaya tetep prorioritas utama Abang, Abang akan ada buat Adek kapanpun itu, Bun. Buna gak perlu khawatir "ucap Langit meyakinkan.


"Ya sudah, lalu kapan kalian berangkat?" tanya Melisa lagi.


"Satu jam lagi, Mah" jawab Cahaya.

__ADS_1


"Abang mandi dulu ya," pamitnya sebelum beranjak ke kamarnya yang memang bearda di lantai bawah.


Sepeninggal Langit kini tinggal Melisa dan Cahaya yang berada di ruang tengah, banyak yang wanita itu sampaikan pada putri bungsunya mulai dari batasan mereka melakukan kontak fisik, perasaan sampai hal yang tak boleh dilakukan saat bermesraan.


Meskipun dua anak itu anaknya, rasa cemas dan khawatir tetap ada karna bagaimana mereka memiliki rasa yang bukan sekedar sayang antar adik dan kakak.


keseriusan Langit tak langsung membuat Melisa dan Reza menyerahkan anak perempuannya itu begitu saja, Cahaya masih tetap dalam pengawasan orang orang kepercayaan Reza sekalipun ada Langit disisi putrinya.


Langit yang baru keluar dari kamarnya usai membersihkan diri, duduk berdua dengan Cahaya di ruang tengah. Dengan sentuhan lembutnya Langit terus menyisir rambut panjang sepinggang Cahaya sampai rapih. Namun, dadanya begitu sesak saat segumpal rambut yang rontok kini ada di genggamannya.


Obat yang terus menerus di konsumsi Cahaya seumur hidupnya memeberi efek kerontokan pada surai indah si bungsu jadi tak salah jika kini ia memiliki rambut yang begitu tipis.


Obrolan ringan keduanya pun terhenti saat Cahaya mengatakan jika hidungnya mengeluarkan darah segar, Langit yang melihat hal itupun langsung panik dan berlari ke kamar Cahaya untuk mengambilkannnya obat.


Cahaya yang di sandarkan di punggung sofa pun usai meminum obat kembali merajuk. Ia yang tak sabar untuk pergi malam ini nyatanya di tolak mentah mentah karna Langit begitu khawatir dengan kondisinya. Tak ingin mengambil resiko apapun Langit pun menjanjikan akan pergi esok hari asal Cahaya mau beristirahat malam ini.


Gadis cantik itu pun mengiyakan dengan memberi Langit syarat yaitu harus menemaninya untuk tidur tapi belum juga Cahaya terlelap, suara pintu yang terbuka cukup keras mampu mengagetkan keduanya.


.


.


.


.


Bang, ikut om sekarang juga!

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Ini ada di part suami dadakan bab 173 dan 174 ya.. cuma di rangkum lagi jadi narasi tanpa dialog antara Cahaya da Langit. 😝 biar cepet 🤭


__ADS_2