
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Braaakk
Adam melempar ponsel khusus yang ia pakai untuk bisnis dunia hitamnya, ia marah besar saat salah satu anak buahnya hampir saja membuka mulut tentang siapa pemasok barang haram yang di terimanya selama ini.
"Sudah ku bilang, selektif mencari orang! jangan sampai siapapun berani menyebut namaku di hadapan polisi" sentak Adam pada dua orang yang kini berdiri di depannya.
"Maaf kan kami, Tuan"
"Tak cukup dengan maaf. Buat dia bebas dan seret ke hadapanku malan ini juga" titah Adam yang masih geram.
"Baik, Tuan!"
Adam memijit pelipisnya yang berdenyut, ia yang hidup bergelimang harta namun tak pernah merasa aman di setiap helaan napasnya, ada saja yang membuat ia khawatir termasuk hari ini yang namanya hampir saja di sebut oleh anak buahnya sendiri yang tertangkap di bandara kota saat membawa beberapa gram barang haram.
"Saya pastikan ini tak akan terjadi lagi, Tuan" ucap Reno yang berdiri di belakang Bos besarnya.
"Singkirkan orang-orang yang menghalangi atau mengacaukan usahaku, Ren" titahnya sambil bangun dari duduk setelah melihat jam di pergelangan tangannya.
.
__ADS_1
.
.
Di sebuah ruang tunggu rumah sakit, Ayunda yang kini rutin memeriksakan kandungannnya di trimester akhir sedang gelisah menuggu suaminya datang. Adam berjanji akan menemuinya jam dua siang tapi sudah hampir jam tiga pria tampan itu tak kunjung terlihat batang hidungnya.
"Maaf aku terlambat" ucap Adam yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang istrinya yang baru saja ingin meneleponnya.
"Tak apa, asal kamu datang"
Ayunda menerima uluran tangan Adam meski ia tahu suaminya itu terpaksa melakukannya karna melihat kondisi tubuhnya yang kini lebih besar dua kali lipat. Ayunda sulit bangun sendiri di tiga bulan belakangan ini bahkan kamarnya harus pindah ke lantai bawah karna ia tak sanggup menaiki tangga, untuk berjalan ke dapur saja ia harus berhenti berkali-kali karna kakinya yang membengkak.
Pasangan suami istri yang di tebak orang lain sangat harmonis itu langsung masuk ke dalam ruangan dokter untuk memeriksakan kandungan keturunan Biantara.
"Bagaimana, dok?" tanya Adam pada dokter wanita yang matanya fokus pada layar LED di depannya.
Adam menempati janjinya pada Diana untuk menjadi calon ayah yang baik dan juga suami siaga, dari awal kehamilan sampai detik ini ia tak pernah absen sekalipun mengantar Ayunda cek ke rumah sakit sesibuk dan selelah apapun tubuhnya. Adam ingin Diana bangga karna memiliki kekasih yang bisa di andalkan meski bukan untuk dirinya.
Latihan dulu, nanti kalo di rahim ku gantian ada anakmu aku gak usah bawel nyuruh ini itu. Ucap Diana kala keduanya sedang bergurai selepas mandi bersama lima bulan lalu.
"Semua baik dan tak ada yang harus di khawatirkan, ini jadwal cek terakhir ya karna menurut HPL bayinya kan lahir tiga hari mendatang, ada kemungkinan maju dan mundur dari tanggal yang di tentukan jika Nona tetap ingin melahirkan normal. Sudah tau kan apa saja yang harus Nona lakukan jika kontraksi datang?" tanya dokter karna Ayunda terlihat begitu tegang.
__ADS_1
"Tetap tenang, jangan panik dan rasakan urutan sakitnya sampai lima menit sekali" jawab Ayunda meski ragu.
"Jika di rasa sakitnya sudah lebih sering dan ada bercak hitam seperti flek, Nona bisa langsung datang kemari"
"Baik, Dok"
Setelah banyak menerima masukan dari sang dokter, kedunya bergegas keluar dari rumah sakit. Tak ada yang mereka obrolkan selama perjalan pulang sampai mobil berhenti di depan pintu kediaman Biantara.
"Tak mau turun dulu?"
"Aku masih ada urusan" jawab Adam tanpa menoleh sama sekali.
.
.
.
.
"Waktunya tak banyak, aku ingin kamu mendampingiku setiap saat menjelang anak kita lahir, sayang. Aku ingin kerumah sakit bersamamu tanpa harus menunggumu datang"
__ADS_1