Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 145 S2 CahayaLangit


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Yang puasa Skip ya 🙏🙏🙏


Masih area 21+ 🙄🙄


.


.


.


.


.


.


Bagian sensitif Langit yang di ibaratkan seperti Timun yang tegak dan keras kini sudah siap menerobos sesuatu yang paling berharga bagi seorang wanita. Sesuatu yang tak akan pernah terulang lagi jika sampai di berikan pada orang yang salah.

__ADS_1


"Sekarang ya, cantik"


Cahaya mengangguk pasrah, berkata tidak pun sudah tak ada artinya karna ia sudah ada dalam kungkungan sang suami yang akan menunjukan keper ka saannya.


Tak ada suara de sahan yang keluar dari mulut mungil Cahaya, yang ada hanya desi san rasa sakit karna semakin dalam si Timun Jumbo masuk tentu rasanya akan semakin perih.


"Tahan ya, sayang" bisik Langit, meski tak tega tapi semua terasa tanggung dan tak mungkin ia hentikan begitu saja.


Rasa hangat dan terjepit nikmat mulai menjalar ke seluruh tubuh Langit meski belum sepenuhnya tertanam kedalam lembah surga dunia milik sang istri.


Pria yang akhir nya bisa melakukan penyatuan tubuh dengan wanita halalnya itu pun harus rela menahan perih di bagian bahu dan punggung yang di cengkram kuat oleh Cahaya, rasa perih itu semakin menjadi saat bercampur dengan keringat yang keluar ketika aktivitas panas mereka berlangsung.


"Masih sakit, sayang?" tanya Langit yang masih fokus mengobrak-abrik surga dunianya dibawah sana dengan tangan terus mer mas lembut sambil sesekali memiliin pucuk bongkahan daging kenyal yang mulai malam ini menjadi area favoritnya.


"Sedikit, Abangnya pelan pelan. Jangan cepet-cepet" rengek manja Cahaya. Semakin gadis itu merajuk nyatanya semakin membuat Langit tambah ber nap su hingga bira Hi nya memuncak, dan...


Keduanya mendoangak dengan mata terpejam saat merasakan sesuatu seakan meledak di bawah sana, pelepasan pertama sudah mereka rasakan secara bersamaan. Rasa yang tak bisa di gambarkan nikmatnya oleh kata-kata.


.

__ADS_1


.


.


Kini Langit yang sudah bangun lebih dulu saat matahari sudah menggantung tinggi hanya bisa memandang wajah lelah Cahayanya yang semalaman dua kali tak diberi ampun olehnya.


Seumur hidup Langit, baru kali ini ia merasa sangat egois pada gadis kecilnya. Langit tak mau mengalah meski Cahaya sudah merintih memohon ampun ia menghentikan permainannya.


Senyum kecil tersinggung saat jarinya mera ba bagian dada sang istri yang begitu banyak tanda merah karna ulahnya, Langit menurunkan sedikit selimut untuk melihat bagian dua bongkahan yang kini menjadi candu baginya.


"Sampe merah begini ya, dek. Pasti perih ya sayang" gumam Langit saat pucuk kecil bongkahan tersebut terlihat memerah dan sedikit lecet. Ia ingat betul bagaimana semalam dengan rakusnya ia melahap, mere mas dan mengigit kecil saking gemasnya, semakin Cahaya menjambak rambutnya semakin dalam juga ia menekan kepalanya di depan dada sang istri yang terbuai nikmat.


Niat hati hanya melihat ulahnya. Namun hal lain justru terjadi. Raba an kasihan dan sesal yang tadi ia rasa justru berbalik menjadi nap su, Langit kembali menikmatinya lagi meski kini ia melakukannya dengan sangat lembut tak ada gigitan seperti semalam sebab justru ia memainkannya dengan lidah yang kini liar berpetualang.


Cahaya yang terlelap lemas sedikit mengerjap saat dirasa bagian atasnya kembali di mainkan dengan sangat lembut.


"Abang belum kenyang?" tanya Cahaya polos menahan geli bercampur nikmat karna mulai tera ng sang.


"Belum, Abang malah mau nambah lagi" .

__ADS_1


__ADS_2