
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Menjelang makan siang Adam akhirnya sampai di kediaman tempat ia menyembunyikan Diana, ia terpaksa melakukan itu karna bapaknya masih mencari keberadaan anak semata wayangnya itu untuk di jual ke tante Nolin, seorang Mami yang memiliki banyak dayang di dunia hiburan malam.
Diana yang ternyata tertidur di sofa depan TV langsung di pindahkan ke kamar dengan cara di gendong ala bridal style.
Senyum terus mengembang di sudut bibir Adam saat ia terus memperhatikan wajah polos yang seakan selalu menggodanya itu.
"Perasaan makin berat" gumamnya ketika membaringkan Diana diatas ranjang.
Adam langsung membuka jaket dan kaosnya, dengan bertelanjang dada ia pun langsung naik keatas tubuh Diana yang masih terlelap, tanpa aba-aba leher jenjang kekasih nya itu kini sudah menjadi target pertamanya untuk melepas rasa rindu.
Eeeuugh...
Adam tersenyum menyeringai saat leng uhan terdengar jelas telinganya.
Diana yang merasa buktinya di remas akhirnya terkonjak kaget.
"Ya ampun, Adam!" pekiknya lumayan kencang.
"Diem! tanggung" sahut Adam yang malah mencari pengait brA di punggung mulus kekasihnya itu.
Diana yang pasrah hanya bisa menikmati sentuhan Adam, ia yang sebenarnya memang malas untuk bangun dan berontak akhirnya diam di bawah kungkungan pria yang amat di rindukannya itu.
__ADS_1
*****
"Sayang, kali ini izinkan aku untuk ikut denganmu, ok" entah ini sudah berapa kalinya Diana merengek. Ia tak pantang menyerah memohon agar Adam mau membawanya pulang ke kota.
"Aku sibuk, nanti gak ada waktu buat temenin kamu jalan-jalan" sahut Adam sambil memakai baju, usai pelepasan tadi keduanya pun langsung membersihkan diri bersama.
"Aku hanya ingin pulang, bukan jalan-jalan" cetus Diana mulai kesal, ia bahkan tak juga beranjak dari sisi ranjang dengan tubuh masih berbalut bathrobe putih.
"Ok, kalau hanya sekedar pulang saja, aku akan mengurung mu di hotel, bagaimana?" tanya Adam tegas.
"Adam!"
.
.
.
Meski berkali-kali Adam selalu menggoda dan meminta maaf tapi gadis berambut sepinggang itu tetap saja bergeming.
"Sayang, jangan marah" rayu Adam yang sudah merasa pusing.
"Aku gak marah"
__ADS_1
"Terus kenapa diem aja, gak jawab omonganku" keluh Adam. mulai sedikit kesal, di abaikan Diana adalah hal yang paling ia takuti karna hanya pada gadis itu tempat ia pulang selama beberapa tahun belakangan ini.
"Aku hanya kecewa padamu, belum cukup selama ini mengurungku? aku rindu Amel, aku ingin berziarah ke makam ibu dan mama" cetus Diana yang tak lagi bisa menyembunyikan perasaannya.
"Aku paham, sayang. Tapi aku takut terjadi sesuatu padamu. Bagaimana jika kamu dan bapak bertemu tanpa sengaja?" tanya Adam, belum apa-apa ia sudah memikirkan hal buruk yang mungkin saja terjadi pada pujaan hatinya.
"Tak apa, bagaimana pun dia bapak ku. Kalau takdir harus mempertemukan aku dengannya apa aku bisa mengelak? dia orangtua satu-satunya yang ku miliki, Dan" ucap Diana lirih, seburuk apapun pria baya itu, ia tetap pahlawan dalam hidupnya.. Itulah yang selalu Ibu ucapkan padanya dulu.
"Kamu yakin?" tanya Adam memastikan.
"Ya, dalam tubuhku tetap ada darahnya"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Meski ia datang untuk menjadikan mu mesin uang?