
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Adam yang kembali di izinkan keluar rumah untuk mendaftar kuliah dibuat bingung dengan biaya yang harus di keluarkan nantinya. Ia yang duduk termenung di kagetkan dengan pukulan pelan di bahu kanannya.
"Calon mahasiswa baru ya?" tanya seorang pria dewasa yang di perkirakan berumur dua puluh lima tahunan.
"Ah, enggak Bang" jawab Adam, karna ia sendiri belum tahu apa sanggup untuk masuk ke Universitas ternama di ibu. kota itu.
"Kenapa, apa kepentok biaya?"
Adam tersenyum kecil, dari tampangnya yang jelas terlihat seperti anak orang kaya apa ada yang percaya jika ia berkata jujur bahwa kali ini tak ada uang seperak pun dalam dompetnya.
"Lo bisa kuliah disini, kalo lo mau usaha bareng gue" bisiknya di telinga kanan Adam, pemuda itu sampai bergidik geli.
"Usaha apa, Bang?" tanya Adam mulai penasaran, ia yang sedang bingung bagai mendapatkan angin segar di tengah rasa galaunya.
.
.
"Ah.. Enggak deh, Bang!" ucap Adam saat pria itu berbisik lagi di telinga nya, kini bukan hanya rasa geli yang ia rasakan tapi juga jantung yang mendadak ingin copot.
"Kerjaan paling gampang tapi duitnya gede, lo yakin gak mau?" tanya pria dewasa itu lagi.
"Resikonya gede, Bang. Gue tau itu" jawab Adam, pergaulannya yang luas dan bebas tentu hal ini tak lagi tabu baginya tapi untuk menyentuh apalagi merasakannya tentu ia tak pernah iseng untuk mencoba, cukup hanya sekedar tahu.
"Lo tinggal kasih doang, gak susah, 'Kan?" rayunya lagi.
__ADS_1
"Gue gak berani, Bang. Sorry"
"Lo bakal butuh duit gede kalo mau kuliah disini, gak cuma lo yang kerja beginian sama gue jadi lo gak perlu takut"
Adam diam sesaat, Ucapan papa yang begitu sangat menyakitkan tempo hari seperti terngiang lagi di telinganya, belum lagi senyum Diana yang sangat ia rindukan bagai menari di pelupuk matanya.
"Gimana? gue yakin lo bisa dan semua akan aman kok. Lo gak perlu khawatir. Tugas lo cuma nganterin aja ke orang yang udah pesen" pria itu kembali berbisik padahal tak ada siapapun di sekitar mereka.
"Kalo gue ketangkep gimana?" tanya Adam yang belum apa-apa ia sudah memikirkan hal buruk yang mungkin saja terjadi padanya.
"Lo cukup diem, jangan sesekali buka mulut!"
"Kalo lo mau, gue ada barangnya sekarang juga. Lo tinggal anter terus lo akan dapet upah yang gede dari gue, gimana?"
Adam benar-benar kebingungaan, ia memang sedang butuh banyak uang saat ini, bukan hanya untuk kuliahnya tapi juga untuk Diana. Ia yang sudah berkali-kali meminjam uang pada ketiga temannya pun mulai malu sendiri meski mereka sebenarnya membantu Adam secara tulus, termasuk Akram yang memang masih terikat saudara dengannya.
"Abang janji bakal bayar upahnya langsung buat gue?" tanya Adam memastikan.
"Berapa lo akan kasih gue?" Adam memberanikan diri untuk bertanya. Namun, di jawab dengan bisikan lagi seperti yang sudah sudah.
"Hah? gila! gak salah denger gue bang?" pekik Adam saat ia tahu nominal upah yang akan ia terima nanti di setiap transaksi yang berhasil.
"Gimana? masih mau nolak?" senyum menyeringai terlihat di ujung bibir pria dewasa tadi.
Adam langsung menggelengkan kepalanya.
"Enggak, Bang. Gue mau kok, asal lo gak kecewain gue buat bayar upah sesuai resiko yang akan gue terima" ucap Adam, jauh di dalam hatinya tentu ia takut melakukan hal ini, tapi rasa sakit kepada keluarganya yang selalu menganggap nya remeh dan menjulukinya si pembuat onar membuat Adam berani untuk bangkit meski dengan cara yang salah.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bismillah.. jadi pengedar narkoba dulu.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Eh.... kok doanya gitu?
bewh.. minta di slepet ini sih bibirnya 🙄🙄🙄
Like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1
hanya hiburan!
jangan terlalu baper ☺☺☺☺