
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Masuklah di dalam ada ibumu"
Langit mengernyitkan dahinya, ia tak paham dengan apa yang di katakan oleh ayah kekasih yang kini ia tiggalkan secara mendadak dalam kamarnya.
Ibu?" gumam pemuda tampan itu.
"Iya, ibu Abang ada didalam" jelas Reza lagi.
"Abang cuma punya Buna" jawabnya lirih.
Reza menggelengkan kepalanya seakan menandakan jika Langit sudah keliru dengan ucapannya sendiri.
"Abang..temui dulu" pinta Reza lagi, ia tahu jika Langit masih belum bisa menerima kenyataan yang sungguh sangat mendadak baginya.
"Buat apa? Om mau balikin aku ke keluarga kandung ku, iya?" tanya Langit dengan suara bergetar, matanya sudah berkaca-kaca siap untuk menumpahkan tangisnya.
"Bukan begitu, kamu cukup temui ibumu dan selanjutnya itu terserah padamu, Bang."
"Abang gak mau, buat apa?" tanya Langit yang kini tangisnya sudah pecah, ia bersandar di dinding rumah sakit sambil membenturkan kepalanya ke dinding.
Bayangan pertama kali bertemu sang Buna seakan kembali berputar, tapi Reza tentu tak menyerah begitu saja. Pria baya dengan setumpuk tanggung jawab pada orang orang sekelilingnya itu tetap meyakinkan dan memberi pengertian pada putra angkatnya yang ia urus sejak usia tiga tahun.
Langit yang memang tak pernah membantah apa kata Reza maupun Melisa akhirnya mengagguk setuju. Ia masuk dengan perasaan yang sulit diartikan.
CEKLEK
__ADS_1
Seorang wanita paruh baya terbaring lemah dengan begitu banyak alat yang menempel di tubuhnya, matanya tertutup rapat.
Ada satu orang dokter dan dua perawat lainnnya sedang memeriksa kondisi wanita tersebut.
Ketiganya menoleh saat Langit datang.
"Bagaimana?" tanya Langit pada si dokter saat ia sudah memasukan kembali stetoskopnya ke dalam saku jas putih yang ia kenakan.
"Sudah jauh lebih baik, Tuan" jawab dokter yang memeriksa.
Setelah team dokter dan perawat keluar iapun berusaha untuk lebih mendekat dan duduk di sisi wanita yang tadi di sebut Reza adalah ibu kandung yang pasti ia lah yang melahirkannya kedunia.
"Bu..." lirih Langit dengan suara bagai tercekat di tenggorokannya.
"Ini Langit, apa Langit bener anak ibu?" tanyanya masih tak percaya. Jika saja ia boleh memilih tentu ia ingin ini hanya sebuah mimpi belaka dan berharap cepat terbangun dari tidurnya ini.
"Jawab Langit, Bu" pintanya sedikit memohon.
Langit yang merasakan pusing secara mendadak sampai menyandarkan kepalanya, di dekat punggung tangan sang ibu yang terdapat selang infus, bagian tubuh itu begitu putih halus namun sangat pucat, dan entah kenapa ada rasa dalam dirinya untuk perlahan menyentuh. Ia yang meanagis sesegukan akhirnya d akgetkan dengan sentuha tangan seseorng di bahunya.
"Kamu siapa?" tanya Langit.
"Aku Nana" sahutnya dengan semyum simpul di sudut bibirnya.
Nana adalah wanita muda yang di tugaskan Reza untuk menemani dan merawat Diana, ia begitu jelas menceritakan tentang kondisi dan keadaan yang sebenarnya sang Nyonya alami sselama ini pada pria di depannya itu yang memang sudah ia tahu adalah putra Diana.
Perbincangan keduanya terhenti saat Reza masuk dan berpamitan untuk pulang lebih dulu, banyak yang akan ia jelaskan pada anak dan istriya yang ia tinggalkan di aprtemen begitu saja tanpa penjelasan pasti.
__ADS_1
Langit yang tak ingin di tinggalkan tentu merengek ingin ikut pulang, ia oun ingat Buna nya terlebih pada kekashnya yang sempat sakit dan mengeluarkan darah dari hidung, bahkan ia sudah berjanji pada Cahaya untuk berlibur saat keadaanya membaik.
Tapi sayang, Reza memintanya tetap tinggal menemani Diana sementara, cukup ia nanti yang akan menjelaskan semua yang terjadi. Lagi dan lagi Langit tak bisa membantah, pria tampan itu melepas kepergian Reza dengan perasaan berat.
*******
...Berhari hari berlalu Langit masih menemani Diana sampai akhirnya sadar, jangan tanyakan perasaan wanita itu karna perasaan bahagianya tentu melebihi apapun saat ini, tak pernah terbersit dalam hatinya atau pun berharap Langit akan datang menemuinya secepat ini tanpa ia minta sama sekali....
Keintiman keduanya harus terganggu saat suara pintu terbuka, dan betapa terkejutnya Langit dan Diana saat melihat siapa yang datang.
"Buna" seru Langit kaget.
"Anak nakal, pergi berhari-hari gak inget pulang! Buna kangen, Bang" Melisa mencubit pipi Langit, tangisnya pecah lagi dalam pelukan sang anak yang ia rawat lebih dari dua puluh tahun itu.
"Maaf, Bun. Maafin Abang" jawab Langit yang ikut sedih melihat Melisa terisak, bagaimanapun ini pertama kalinya ia pergi tanpa mengabari lebih jelas pada Melisa.
Melisa mengurai pelukannya, ia melirik ke arah seorang wanita bertubuh kurus, dan pucat.
Tatapannya begitu sendu bahkan Melisa melihat ia menghapus air matanya sendiri.
"Buna, ini ibunya Abang" ucap Langit pelan, ia mengatakannya setelah Reza mengangguk kan kepala.
"Buna tahu" jawab Melisa.
"Selamat siang nyonya" sapa Diana, ibu kandung Langit.
"Ya, selamat siang juga" Melisa menjawab sapaan Diana dengan perasaan bingung.
__ADS_1
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Ya allah otak bener2 di bikin muter oey. nyatuin dua novel sekaligus gak gampang ternyata 🤣🤣 tapi bagai tantangan tersendri..