Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
Senja...


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Si kembar yang kini tumbuh menjadi anak yang sehat dan pintar tentu menjadi kesayangan dan kebanggan semua orang, entah itu dari keluarga Biantara maupun Rahardian.


Dan usia satu tahun inilah Awan dan Senja sedang begitu aktif bermain, Awan yang lebih dulu bisa berjalan menjadikan Adam mempunyai hobby baru yaitu menuntun cucu pertamanya itu jalan-jalan.


Berbeda dengan Senja yang teramat manja hanya ingin di dekap dan di peluk hangat oleh orang-orang yang menyayanginya.


RahardiAwan Biantara


Tubuhnya lebih tinggi dan besar dari adik kembarnya seakan siap menjadi pelindung bagi Senja yang rewel.


Wajah tampannya tentu menurun dari Langit dan Adam meski sekilas kadang mirip juga dengan Reza. Ia menjadi cucu laki-laki pertama Biantara namun menjadi cucu laki-laki ketiga Rahardian setelah Samudera dan Galaksy.


"Jangan di ajarin macem-macem. Awas aja kalo sampe Awan nyentuh senjata api" ancam Diana saat balita menggemaskan itu berada diatas pangkuan suaminya.


"Mami bawel" balas Adam, kalimat singkat dan padat itu langsung membuat Diana murka sampai menghadiahi prianya itu cubitan cukup keras.


"Apapun Mami gak akan protes. Entah itu pengusaha, pilot, atlit ataupun artis sekalipun asal jangan sampai menjadi Mafia" tegas Diana lagi, entah harus dengan cara apa ia mengingatkan sang suami untuk melepas bisnis haramnya itu. Padahal Adam sendiri tak pernah menikmati hasilnya yang sangat lumayan besar.

__ADS_1


"Gak usah kerja, harta Mimih dan Pipihnya aja gak akan abis tujuh turunan" kekeh Adam sembari menciumi pipi bulat Awan yang memegang mainan di tangan kanannya.


"Awan itu laki-laki, ia harus punya rasa tanggung jawab terhadap dirinya, keluarga dan pasangannya kelak, Pih" Sahut Diana yang tak suka dengan candaan suaminya. Langit yang seorang pengusaha sukses di dua perusahaan memang tak perlu di ragukan lagi kekayaannya di tambah dengan Cahaya yang menjadi putri bungsu perempuan satu-satunya yang pasti tak hanya kaya harta tapi juga kasih sayang.


"Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka, akupun tak ingin memiliki keturunan yang kotor sepertiku, Mih. Menjajakan begitu banyak wanita untuk menuntaskan hasrat para tamuku di club malam, aku yang seorang bandar Nar Kob A sudah cukup merasa trauma saat putraku pergi karna barang haram itu. Belum lagi dengan tanganku ini yang berkali-kali mencing CanG habis para musuhku dan ku jual organ tubuhnya dengan harga fantastis" ucap Adam lirih, kejahatan yang tak terhitung itu memang hanya Diana yang tahu.


Adam menoleh kearah bidadari hatinya yand diam tanpa ekspresi, tatapan begitu tajam namun tanpa senyum sedikitpun menghiasi wajahnya.


"Kenapa?" tanya Adam. Belum sempat Diana menjawab suara ketukan pintu membuat keduanya menoleh secara bersamaan.


"Gak apa-apa, biar Mami yang buka"


Diana bangun dari duduknya, ia terus melangkah santai kearah benda bercat coklat tersebut.


"Abang" seru Diana saat berdiri saling berharap dengan Putranya di ambang pintu.


"Ada Awan?"


"Ada, lagi main sama Papih" jawab Diana sambil mempersilahkan Langit masuk.

__ADS_1


Keduanya pun melangkah secara beriringan, Awan yang mendengar sapaan dari orang yang sangat di kenalnya pun langsung berjingkrak senang. Ia melepaskan mainnya dan berjalan menghampiri Langit.


"Kakak, main?"


Iyaah...


"Dedenya lagi bobo, Kakak gak bobo sih?" tanya Langit yang di balas gelengan kepala oleh Awan.


Mimih...


"Mau ke Mimih? ya udah kita ke kamar ya"


Langit berpamitan pada kedua orangtuanya dan berlalu ke kamarnya sendiri di lantai dua kediaman Biantara, ia yang menggendong Awan terus saja melayangkan banyak pertanyaan meski hanya di jawab satu kata oleh Awan Iyah..


Pria tanpan sang Presiden Direktur Rahardian Grup itu langsung masuk setelah membuka pintu, namun langkahnya berhenti saat melihat Senja jutru tak lagi tidur seperti saat ia tinggalkan tadi.


.


.

__ADS_1


Kenapa guling guling di lantai, Nja..?



__ADS_2