
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Satu tahun penikahan dan belum juga ada tanda tanda kehamilan tentu membuat Cahaya uring uringan padahal tak pernah ada satu pun yang menyinggung masalah anak padanya entah itu keluarga Rahardian maupun Biantara.
Tapi sebagai seorang wanita dan istri dari anak tunggal tentu membuat ia tak enak hati. tak hanya prilakunya yang manja tapi persaannya pun sangat sensitif.
"Kapan aku bisa hamil?"
Pertanyaan yang sudah satu minggu ini Cahaya lontarkan dan membuat suaminya hanya bisa menahan napas.
"Aku mana tau, kita udah usaha semaksimal mungkin. Biarkan Tuhan yang nentuin, dek" hanya itu jawaban yang bisa Langit berikan pada istrinya yang terlihat sedikit berantakan.
Dua kali mendatangi dokter kandungan, mereka hanya di minta untuk bersabar karna obat yang masih di konsumsi Cahaya sampai saat ini memang sedikit memberi efek samping pada rahimnya.
"Abang marah?"
Langit menautkan kedua alisnya lalu tersenyum kecil sambil mendekat kearah istrinya yang masih berdiri di sisi ranjang yang biasa di pakai untuk olahraga malam panas mereka.
"Kamu pikir Abang seberani itu marah padamu setelah mati matian Abang ingin membuatmu bahagia?"
"Tapi, Bang..." belum selesai Cahaya meneruskan ucapannya, kini bibir mereka saling bersentuhan dan sekian detik kemudian mulai melu mat dan semakin menuntut dengan lidah yang saling berbelit lembut.
__ADS_1
"Bisa kita berhenti membahasnya? jangan pernah menyebutkan dirimu tak sempurna karna belum adanya seorang anak lahir dari rahimmu karna saat Abang mencintai mu abang tak pernah mencari yang sempurna tapi yang mampu menyempurnakan" tegas Langit.
Cahaya yang menunduk sedih pun langsung berhambur memeluk Langitnya.
Rasa takutnya memang tak beralasan sama sekali padahal ia tahu sebesar apa rasa cinta suaminya.
.
.
Kedatangan Cahaya ke apartemen orangtuanya tentu membuat Melisa senang, pasalnya sudah satu minggu ini anak bungsunya sedikit sulit di hubungi.
"Aku mau hamil, Mah" ucapnya pelan, ada yang begitu menyesakkan dadanya dan siap untuk di keluarkan.
"Nanti juga ada waktunya, sabar ya. Kakak ipar mu saja belum hamil, Dek"
"Kak Hujan sibuk kuliah, lah aku ngapain coba kalo bukan pengen ngurus anak?"
"Kamu sibuk shoping sana" timpal Air yang tiba-tiba datang dan mencium pipi adik bungsunya.
"Nunggu Abang pulang tuh bosen, kak" keluh Tuan putri Rahardian.
__ADS_1
"Kan kamu bisa kesini, atau kerumah mertuamu" balas Melisa. Ia yang selalu berusaha bersikap baik untuk sang menantu berharap putrinya juga di perlakukan baik oleh mertuanya.
Cahaya hanya bisa membuang napas kasar, mana bisa ia sering sering kerumah Biantara jika Mami dari suaminya itu selalu sibuk mengurus sang Madu.
Ya, Diana yang akhirnya pindah ke kediaman Biantara kini sedikit menyisihkan waktu luangnya untuk menemani Ayunda yang kondisinya masih sama. Ia bahkan tak sadar siapa yang sekarang menyuapinya makan dan menyisir rambutnya.
Karna semenjak Bagas kecelakaan dan lumpuh separuh badannya kini Adamlah yang sibuk mengurus perusahaan Biantara. Usaha haram dan halal pun ia pegang secara bersamaan jadi bisa di bayangkan betapa sibuknya pria yang masih sah memiliki dua istri itu, sampai Adam harus meminta untuk Langit membantunya sebagai pewaris sah Biantara tapi Langit yang masih memegang perusahaan Rahardian grup belum bisa berbuat banyak.
"Abang tuh terlalu sibuk, Mah" adunya pada ibu angkat sang suami.
"Ya sudah, nanti Mama bicara sama Abang untuk sedikit meluangkan waktunya untukmu, awas aja kalau Abang gak mau" ancam nya.
"Kalo gak mau, Abang mau di apain?" tanya Air.
.
.
.
Di pecat jadi MANTU...
__ADS_1