
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Plaaak...
"Aw, sakit, Kak" pekik Langit saat pipinya di pukul oleh putra sulungnya Rahardiawan Biantara yang biasa di panggil Awan, perdebatan panjang terjadi antara Reza dan Adam saat memeberi nama cucu mereka itu. Pasalnya Awan adalah cucu laki-laki terakhir di keturunan Rahardian maka tak salah jika Reza memaksa untuk di selipkan juga nama kelurganya pada bocah tersebut.
"Mau apa? masih malam, bobo lagi yuk" rayunya pada Awan yang sudah duduk, sedangkan istri dan putrinya masih terlelap.
Enggak
Di banding adiknya Senja, Awan memang lebih unggul segalanya termasuk berjalan dan bicara. Berbeda dengan sang putri yang rewel dan sedikit pemalas karna terbukti, Senja akan lebih memilih berguling di banding bangun kemudian berjalan meski sebenarnya sudah bisa walau tak selancar kakaknya.
"Adek sama Mimih masih bobo, kakak bobo lagi ya, Sini pipih peluk" Langit meraih tangan Awan namun bocah satu tahun itu menepis nya sambil menepisnya sambil menggelengkan kepala.
"Minum susu?"
Iya. Susyu...
__ADS_1
"Ok, Pipih bikinin, Kakak tunggu sini"
Langit bangun dari tidurnya, ia berjalan menuju meja kecil untuk membuatkan sebotol susu formula. Semenjak ulang tahun pertama si kembar, Cahaya dan Langit sepakat untuk memberikan selingan sufor karna ASI saja rasanya tak cukup untuk menunjang gizi Awan dan Senja meski keduanya sudah mulai MPASI.
"Habiskan, lalu tidur lagi ya" titah Langit, saat melihat jam masih menunjukan pukul tiga malam. Sedangkan ia baru saja masuk ke kamar jam satu dini hari usai menyelesaikan semua pekerjaannya yang mau tak mau hari ini dibawa pulanh ke rumah meski Cahaya sangat tak suka akan hal itu.
Bocah laki-laki itu menyu su dengan sangat kuat hingga habis tak tersisa bahkan botol susunya pun sudah di lemparnya seperti biasa, mata kecil Awan kini mulai menyipit dan akhirnya kembali terlelap. Ia sangat merasa nyaman terlebih Langit juga sembari mengusap punggungnya.
.
.
.
"Iya, kalau anter bisa, tapi kalau jemput gak tahu. Kita nginep disana aja ya kalau Abang sampai pulang kemaleman, gimana?" tawar Langit, kesibukannya memang sangat menyita waktunya untuk bersama anak istri. Bahkan akhir pekan pun Langit masih sesekali berjumpa dengan rekan bisnisnya.
"Terserah Abang"
__ADS_1
Cahaya yang kesal berlalu dengan menggendong Senja karna Awan sudah lebih dulu di ambil oleh mamih mertuanya, Diana.
Langkah kaki anak bungsu Rahardian Wijaya itu sangat tergesa karna suasana hatinya yang kacau. Meski sejak lahir sudah bersama, namun rasanya semua itu tak pernah cukup. Ada saja kerinduan yang tersimpan dalam hatinya saat jauh dari sang suami. Apalagi akhir-akhir ini Langit selalu pulang saat atau setelah jam makan malam.
"Jadi kalian kerumah utama?" tanya Adam yang ternyata sudah ada di ruang makan.
"Jadi, Pih. Kalau Abang telat jemput kayanya nginep" sahut Cahaya sambil mendudukan Senja di kursi bayi bersebelahan dengan Awan.
"Titipkan Salam Papih dan Mamih untuk orangtuamu. Hampir satu bulan ini rasanya kami belum bertemu, iya kan, Sayang?" tanya Adam pada sang istri.
"Iya, terakhir bertemu lebih dari dua minggu kemarin saat di rumah Bumi" sahut Diana.
Semuanya sarapan bersama dengan di selingi obrolan ringan, tak jarang juga Diana dan Cahaya menyuapi si kembar agar lebih cepat dan tak berantakan. Sampai waktunya tiba, Cahaya dan Langitpun akhirnya berpamitan.
"Kami pergi dulu, Mih... Pih"
"Hati-hati dijalan, jangan lupakan pesan Papih barusan" ujar Adam yang mengingat kembali pada anak dan menantunya.
__ADS_1
"Iya, Pih. Akan aku sampaikan"
Selama perjalanan menuju rumah utama, pasangan suami istri itu tak banyak bicara. Hanya sesekali tanya jawab perihal anak mereka. Sampai mobil berhenti di garasi bangunan mewah itupun Cahaya memilih lebih dulu masuk meninggal kan suaminya yang menuntun Awan.