Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 42


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Dua tahun berlalu, Adam tetep melakukan pekerjaaan haramanya seperti biasa, bahkan kini targetnya bukan lagi bocah sekolah atau buruh biasa dan juga preman pasar, ia tak lagi COD an di tempat kumuh atau juga gang gang kecil.


Langgananya kini merambah pada kalangan atas, mulai dari anak-anak kalangan atas bahkan pengusaha muda. Transaksi pun di dalam hotel bintang tiga dan lima atau tempat hiburan malam.


"Hallo sayang" sapa Adam saat bidadari hatinya menelepon.


"Kapan datang, aku merindukanmu" lirih Diana, sudah lebih dari dua minggu keduanya tak bertemu tentu membuat gadis itu sedikit kesal, belum lagi kini ia dan eyang berpindah tempat ke sebuah rumah mewah lebih jauh dari ibu kota. Diana yang dijaga ketat tentu tak pernah diizinkan untuk keluar sama sekali jika tidak dengannya.


"Lusa aku pulang, sabar ya cantik"


"Aku ingin ikut denganmu, aku bosan sendiri disini, Dam" keluh nya yang entah sudah berapa kali ia lontarkan.


"Kita bicara kan lagi nanti ya, aku masuk kelas dulu. Aku mencintaimu" ucapnya sebelum mengakhiri teleponnya dengan wanita yang selalu membakar gairahnya di atas ranjang.


Diana melempar ponselnya mahalnya ke tengah tempat tidur dengan asal untuk melupakan rasa kecewanya.


"Bukan ini yang aku inginkan, percuma rumah mewah dan barang mahal jika kamu mengurungku selama bertahun-tahun, aku bagai burung yang tak bisa mengepak kan sayap-sayap ku, Dam" jerit Diana frustasi sambil duduk di bawah sofa depan TV besar dalam kamarnya.


"Aku rindu hidupku yang dulu meski kekurangan tapi aku tak kesepian, bahkan untuk berziarah ke makan ibu dan mama pun sulit ku lakukan, ada apa denganmu?"


Diana sampai meremat baju bagian dadanya mana kala rasa sesak ia rasakan, ia rindu semua hal yang pernah di lewati di masa lalu termasuk Sahabatnya, Amel.

__ADS_1


Hanya dia satu-satunya tempat Diana mencurahkan segala rasa dan sepinya.


.


.


.


Adam menghela nafas tepat di depan pintu sebuah apartemen mewah di pusat kota, ini adalah transaksi terbesarnya selama jadi kurir barang haram, sudah tak terhitung berapa upah yang ia dapat usai melakukan pekerjaan tak terpuji itu.


Cek lek


Pintu terbuka padahal ia belum sempat membukanya, Adam di sambut oleh seorang pria dengan badan besar bertato di lengan kanan kirinya.


"Hallo,Om" Sapanya ramah seperti biasa.


"Keren!" kekeh Adam dengan mengacungkan kedua jempolnya.


Orang tersebut menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil mengerutu pelan.


"Siang, bos" kini ia menyapa seorang pria baya pemilik salah satu bar dan diskotik terkenal di beberapa kota.


"Siang, mana barangnya?" tanya nya langsung dengan memberi kode agar adam duduk lewat sorot matanya.

__ADS_1


Adam yang mengerti tentu langsung menghempas kan bokongnya di depan pria tua tersebut


"Ini bos, sesuai pesanan dan semua nya beres dan aman" ucap Adam dengan bangganya, pembawaannya yang santai memang membuat beberapa pelanggannya ingin terus-menerus memakai jasa Adam agar tak mengundang rasa curiga pihak yang berwajib.


"Bagus, hitungannya pas, 'kan? saya tak mau kurang satu butir pun" tegas si pemesan dengan sorot mata tajam.


"Mau di hitung ulang?" tawar Adam sambil tertawa kecil


"Ya sudah saya pamit, bos" Adam bangun dari duduknya, sedikit menunduk dengan sopan sebelum pergi.


.


.


.


.


.


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bos!!


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Waalaikum salam bang DamDAm 😍😍😍


like komennya yuk ramaikan


__ADS_2