
ðððððð
Nana yang tak kuat lagi menahan rasa sakit akhirnya memutuskan mendonorkan jantungnya untuk Cahaya karna ia tahu bahwa cintanya memang bertepuk sebelah tangan dan tak kan pernah terbalas oleh Langit tapi setidaknya ia ingin jantungnya tetap berdetak di dekat pria yang ia cintai sampai akhir napasnya nanti.
Meski berat mengiyakan keinginan Nana tapi semua tentu kembali lagi pada takdir yang telah AUTHOR tentukan demi kesejahteraan keturunan Gajah ðĪ.
Dan tak lama berselang, Nana pun menghembuskan napas terakhirnya. Entah harus bahagia atau sedih karna saat sedang berduka kabar menggembirakan pun datang, yaitu kecocokan jantung Nana untuk Cahaya yang semakin drop kondisinya.
Nana langsung di pindahkan ke rumah sakit keluarga RAHARDIAN untuk menjalani operasi berdua dengan Cahaya yang akan menerima jantung baru yang tak boleh lebih dari enam jam sejakn dinyatakan Nana meninggal.
Operasi berjalan dengan lancar dan jenazah Nana pun segera di kebumikan sambil menunggu Cahaya kembali sadar.
*******
Pasca operasi kondisi si bungsu pun perlahan membaik meski belum sadarkan diri, Diana yang kini kesepian tanpa Nana pun sering menemani sang calon menantu di ruang rawat inap bergantian dengan Melisa dan Langit.
Melisa yang baru datang sempat kaget saat makanan untuk putranya masih utuh belum tersisa, Ia yang tahu jika Diana masih sedikit berduka akhir memberikan waktu utuk anak dan ibu itu mengobrol berdua.
"Ajak Mami mu makan dulu, Bang." titah Melisa seraya menoleh ke Arah Diana yang bermata sembab karna masih ada buliran cairan bening di ujung matanya.
Langit pun ikut melirik Ibu kandungnya, tak ada respon apapun dari wanita itu tapi dari sorot matanya ia seperti mengiyakan ucapan Melisa.
"Ya, Abang ke kantin dulu sama Mami, Abang titip adek ya, Bun. Kalau nanti sadar tolong cepat hubungi Abang" pinta Langit pada Melisa untuk memohon agar wanita itu tak mengabaikannya.
"Pasti, Sayang"
Kini Langit dan Diana sudah berada di kantin rumah sakit, keduanya duduk bersama saling berhadapan dengan makanan yang sudah di pesan lebih dulu. mereka tetap diam tanpa ada sepatah katapun untuk mengawali perbincangan mereka.
__ADS_1
Sampai akhirnya Langit berdehem pelan untuk memecah keheningan.
"Apa Mami mau berobat juga?" tawar Langit yang melihat kondisi Diana begitu pucat.
"Gak usah, Mami gak apa-apa, Nak"
Langit mengangguk paham, meski jauh di dasar hatinya Ia sangat kasihan pada wanita yang melahirkannya itu.
Namun sampai kini ia tak bisa menggantikan prioritas utamanya yaitu Cahaya yang selama puluhan tahun menjadi pemenang tahta tertinggi dalam hatinya.
"Abang bisa anter Mami pulang?, selepas itu kamu bisa kembali lagi kesini" Pinta Diana meski ragu Langit akan mengiyakannya.
"Tentu, Mam. Abang akan antar Mami pulang tapi tolong habiskan makanannya dulu" rayunya dengan nada suara tegas sambil melirik piring di hadapan Diana yang masih utuh belum tersentuh.
Wanita itu tersenyum simpul, ia bagai balita yang sedang di marahi oleh ayahnya sendiri.
Langit hanya mengangguk.
Usai menikmati makanan yang tersaji, Langit mulai menghubungi Meliss untuk meminta izin mengantar Diana pulang lebih dulu, ada tarikan napas berat yang Langit dengar dari wanita di sebrang sana.
"Ya sudah, temani saja Mamimu. Ada Buna dan Papa yang jaga adek" ucap Melisa yang juga harus menekan egonya di hadapan anak angkat kesayangannya itu.
Langit menggelengkan kepalanya seakan Melisa kini ada di depannya.
"Enggak, Bun. Abang nanti langsung balik lagi"
Di saat seperti ini biasanya Melisa akan selalu bersandar padanya karna Reza akan sibuk mengurus dan berdiskusi dengan para dokter.
__ADS_1
Memang hanya Langit yang selalu bisa ia andalkan jika si bungsu sedang berjuang melawan sakitnya.
"Terserah padamu, Buna tak memaksa"
"Abang sayang Buna" jawab Langit sebelum ia mengakhiri sambungan teleponnya. Tiga kata yang selalu ia ucapkan pada Melisa tak perduli sedang dimana atau di hadapan siapa dan beruntungnya kini Diana sudah terbiasa dan bisa mengerti dengan perlakuan manis putranya itu.
Usai menutup panggilan teleponnya, Langit bangun dan mengulurkan tangannya pada sang Ibu, tentu Diana menyambutnya dengan baik.
Anak dan Ibu itupun keluar dari kantin dan berjalan beriringan menuju mobil Langit yang terparkir di area VVIP.
.
.
.
Kalian, apa kabar?
ððððððð
Sampe juga disini ðĪĢðĪĢ
Wait, otakku mulai bekerja lebih keras dimana dan kenapa si phyton dan kerang bertemu lagi. ðĪ.
Disana gak ada kan ya ðð
Tunggu diriku semedi dulu di tukang seblak ok ðĪŠ
__ADS_1