Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 37


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Jam Sebelas siang Adam kembali ke tempat yang sudah di janjikan Jali padanya, area parkiran sebuah universitas ternama ibu kota.


"Lama banget. Gue gak salah denger kan, pas dia kasih tau jamnya kemaren?" gumam Adam sambil terus mengingat kejadian yang lalu.


Ia duduk di atas motornya sambil melamun melihat mahasiswa dan mahasiswi yang lalu lalang di depannya, hatinya begitu mencelos karna merasa sangat tak berarti saat keluarganya bagai membuang ia secara tak langsung.


"Dam!"


"Lama nunggu?"


Adam tentu kaget saat bahunya di sentuh keras oleh seseorang saat ia sedang meratapi nasibnya yang kurang beruntung dalam hal kasih sayang keluarga.


"Ah... enggak, Bang." jawabnya yang masih berusaha menormalkan detak jantungnya.


"Ini, ada barang sedikit, didalamnya sudah ada alamat si pemesan. Jika sudah beres kita bertemu lagi di samping Sekolah Dasar X" ucap Jali sembari memberikan satu kotak kecil sebesar bungkus korek api.


"Yang samping pertigaan jalan?" tanya Adam memastikan jika ia tak salah menyebut tempat yang di maksud Jali.


"Ya, gue tunggu disana, kalo kerjaan lo Ok dan aman gue akan kasih upah buat lo"


"Beres, Bang."


Jali pergi setelah urusannya selesai, sedangkan Adam membaca kertas kecil bertulisan alamat yang kebetulan ia tahu tempatnya.


"Moga lancar, yuk bisa yuk!" ujarnya penuh semangat di hari pertama menjadi kurir barang haram.


*****


Perjalanan yang memakan waktu lebih dari tiga puluh menit akhirnya membawa Adam pada sosok anak remaja tanggung yang ternyata sedang menunggu kedatangannya, bocah yang terlihat pecicilan itu pun berjalan mendekat dengan tatapan mata penuh selidik.


"Temen Bang Jali?" tanyanya langsung tanpa basa basi.

__ADS_1


"Iya"


"Mana barang gue?" pintanya sambil menadahkan tangan.


"Nih" seru Adam sambil menyerahkan bungkusan kotak kecil yang ia bawa dengan santainya di kantong sweater.


"Hem.. Makasih ya" ucapnya sambil berlalu pergi meninggalkan Adam dengan menaiki sepeda BMXnya.


Adam pun hanya tertegun masih tak percaya, ia kemudian menyalakan mesin motornya sambil menggelengkan kepalanya sendiri.


"Ya Allah, Tong. Masih goes sepeda udah ngobat! elu yang keren apa gue yang cupu nih kalo begini?" ucap Adam tak habis pikir.


"Eh, dia pergi kok kaga bayar sih? mampus gue!"


Adam yang panik langsung melajukan motor besarnya itu menuju tempat yang di janjikan Jali untuk bertemu setelah ia selesai melakukan transaksi haramnya barusan.


Selama menuju sekolah dasar X di pertigaan jalan, hatinya begitu risau karna tak mendapat uang dari bocah tersebut saat misi jual belinya tadi.


"Gak bawa motor tuh orang" gumam Adam pelan.


"Sorry lama, gue abis kirim barang ke yang laen" ucap Jali saat keduanya kini berdiri saling berhadapan.


"Gak apa-apa, Bang. Santai aja waktu gue banyak kok" jawab Adam sambik terkekeh yang Sebetulnya sedang menyembunyikan rasa takut.


"Gimana? tepat sasaran, 'kan?" tanya Jali yang lagi lagi berbicara dengan nada sangat tenang malah cenderung lebih mengarah kebijaksana bagai seorang ayah.


"Iya, target justru langsung nanya ke gue, Bang" ucap Adam sedikit bangga.


"Bagus, semua Aman di awal transaksi. Gue salut dan suka cara lo" Jali tersenyum kecil sembari menepuk pelan bahu Adam.


"Tapi, Bang.... "


"Tapi apa?" tanya Jali saat Adam tak melanjutkan omongannya.

__ADS_1


"Tuh bocah gak bayar, dia maen pergi aja naek sepedah" jelas Adam dengan perasaan takut.


"Oh, khusus barang tadi memang harus bayar duluan. Sorry gue gak bilang sama lo" kata Jali dengan sedikit merasa tak enak hati dan bersalah.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Huft..


Alhamdulillah deh, gue takut nombok soalnya....


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


kurir oneng😝😝😝


Cukup nganterin aja ya DamDam gak boleh COLENAK.


Like komentar yuk ramaiakan.

__ADS_1


__ADS_2