
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Mobil mewah keluaran baru yang hanya Langit pemiliknya di negeri ini sedang membelah jalanan ibu kota menuju rumah sakit, ia yang di beri kabar oleh kakak iparnya, Hujan, tentu langsung melesat tanpa pikir panjang lagi padahal satu jam mendatang akan di ada rapat penting antar perusahaan besar.
Braakk..
Pintu kereta besinya di banting kasar, langkah kakinya pun dengan cepat masuk kedalam gedung tempat kini istri tercintanya berada. Lift yang membawa pria tampan itu seakan lambat berjalan bagi Langit yang sedang terburu buru padahal semua nampak biasa.
"Mana Cahaya?" tanya Langit yang bertemu dengan Hujan di depan pintu, Ia yang baru saja ingin keluar harus di kagetkan dengan kedatangan dan pertanyaan Langit yang tiba-tiba.
"Ada di dalam, sedang istirahat. Masuklah" titah Hujan yang lalu berpamitan ke ruangannya lebih dulu untuk menghubungi suaminya
"Sayang... "
Langit yang matanya sudah berkaca-kaca langsung memeluk bidadari hatinya.
"Kenapa bisa begini? kamu lagi apa?" tanyanya dengan sangat khawatir.
__ADS_1
"Gak apa-apa, aku cuma cape aja kok tadi" sahutnya lirih dan pelan nyaris tak terdengar.
Cahaya yang tak sadarkan diri di apartemen kedua orang tuanya membuat Langit sangat panik terlebih ia tahu juga kedua mertuanya itu sedang berada di luar kota, niat hati meminta izin menemani sang kakak ipar yang tak enak badan hasilnya malah ia yang jatuh pingsan. Kondisi yang kurang sehat terlebih cuaca yang kadang panas tapi setelahnya turun Hujan lebat ternyata mempengaruhi kesehatan Cahaya.
"Jangan buat Abang khawatir, Dek. Abang bisa gila kalau kamu sampe kenapa kenapa, Sayang"
Satu tetes air mata akhirnya lolos, tangisnya pecah diatas punggung tangan istrinya yang terdapat selang infusan.
Langit yakin, jika Cahaya sebenarnya memang sedang sangat tertekan dengan vonis dokter yang mengatakan kemungkinan ia yang akan sulit hamil, kabar ini baru mereka berdua yang tahu, di sela tangisnya saat itu Cahaya memohon pada sang suami untuk tidak memberitahu dua keluarga. Cahaya takut hipertensi Melisa kambuh dan ia pun tak ingin memupus harapan Adam untuk segera menimang cucu.
Langit menyanggupinya, hatinya pun sama hancur seperti Cahaya tapi ia harus lebih kuat karna ternyata cobaan cintanya belum juga berakhir justru ini lah awal rintangan rumah tangganya.
Cahaya yang sudah sedikit lebih baik akhirnya di izinkan pulang, kali ini mereka tak kembali ke apartemen melainkan ke kediaman Biantara karna Langit tak ingin mengambil resiko apapun.
Mereka yang di Sambut baik Adam dan Diana langsung di minta untuk istrahat di kamar yang sudah di sediakan untuk mereka jika datang dan menginap.
"Gak apa-apa ya disni dulu" ucap Langit saat Cahaya sudah berbaring di atas ranjang.
__ADS_1
"Iya, dimanapun sama buatku, Bang"
Cahaya yang memang memilki hubungan baik dengan sang mertua tentu tak keberatan tinggal di rumah Biantara cuma memang ia sedikit takut jika harus mendengar jeritan tangis Ayunda saat mengamuk tapi tentu itu dulu karna akhir-akhir ini Ia jarang mendengarnya lagi, Cahaya pun tak pernah berani bertanya perihal tersebut.
"Jangan katakan pada Mami juga Papi alasan kenapa aku sakit, aku tahu abang pasti bisa menebaknya kan, kenapa aku sampai begini" pintanya dengan mata berkaca kaca siap menumpahkan cairan bening yang sudah tergenang di ujung matanya.
"Sekalipun Abang bicara, memang mereka bisa apa?" tutur Langit yang sebenarnya kesal dengan rasa kecemasan yang Cahaya rasakan.
"Aku cuma takut mereka kecewa, aku gak mau mereka tahu sebelum aku bisa hamil, Bang"
Langit menahan napas, ia seakan tak di percaya oleh sang istri untuk menerima kurang dan lebihnya.
.
.
.
__ADS_1
.
Dek, kamu harus paham, semua yang kamu mau gak harus terwujud sekarang atau detik ini juga. Kamu yang sabar ya, mungkin besok atau lusa atau mungkin beberapa waktu lagi. Tunggu aja, kamu tunggu saat Tuhan justru kasih kamu kejutan ketika kamu lupa kalau kamu pernah MINTA....