
πππππ
Sampai di apartemen baru, Langit dan Diana makan makan malam bersama untuk yang pertama kalinya setelah lebih dari dua puluh tahun berpisah.
Meski sebenarnya mereka selalu dekat tapi tetap saja wanita itu tak pernah puas karna tak bisa menyentuh putranya sama sekali.
Usai menikmati santapan yang di masak oleh Nana, anak dan ibu itupun duduk berdua d balkon apartemen untuk menikmati malam mereka yang di saksiakan oleh bulan purnama, Diana yang sudah berselimutkan tebal nyatanya masih membuat Langit khawatir dan itu bentuk perhatian manis yang selalu Diana harapkan selama ini.
Obrolan ringan keduanya harus terganggu saat Cahaya datang da merajuk manja. Ia yang tak biasa di abaikan ttentu marah saat pesannya tak kubjung di balas sama sekali. Nasi sudah menjadi bubur itulah yang Langit pikirkan saat ini saat sang kekasih datang dan bertemu dengan ibunya.
Perekenalan pun terjadi, Diana tentu bahagia karna ia pun mengenal Cahaya sejak gadis itu masih duduk di sekolah dasar. Tapi lain dengan si bungsu Rahardian yang nampak masih ragu menerima ibu dari sang calon suami, sikapnya masih begtu dingin dan sangat menjaga jarak, Langit dan Diana cukup paham dengan sikap acuh Cahaya, ia bagai jelmaan sang ibu angkat versi muda saat miliknya mulai terusik.
****
__ADS_1
Seteah perkenalan itu terjadi Diana sedikit demi sedikit ingin jauh lebih dekat sang calon menantu. Pertemuan pun mulai di rencanakan oleh Langit yang tak bisa menolak ke inginan ibunya dan ia pun mulai mengirim pesan pada sang kekasih. Namun, beberapa kali Langit mengirimnya tak satu pun balasan yang ia terima dari Cahaya sampai ia berinisiatif untuk menelepon dan mendengar langsung keputusan dari si bungsu tentang ajakannya yang ingin mempertemukannya dengan sang ibu.
" Iya , Bang" jawab Cahaya saat menerima panggilan dari kekasihnya itu.
"Tumben lama, kamu lagi apa?" tanya Langit karna merasa heran Cahaya lama sekali tak membalas pesannya.
"Ini juga lagi aku ketik, Abangnya aja gak sabaran!" oceh Cahaya untuk menutupi rasa bimbangnya.
"Cukup nunggu kamu sampe gede aja yang sabar, jangan sampe nunggu balesan chat juga Abang harus sabar, sayang" kekeh Langit menggoda gadis kecilnya itu.
"Hem, Abang tahu kok, karna yang lucu itu cuma Cahayanya Langit" godanya lagi yang kini berbarengan dengan gelak tawa.
Cahaya hanya bisa tersenyum simpul, hanya dengan begitu saja ia sudah sangat bahagia.
__ADS_1
"Gimana, Dek?"
"Abang kesini aja dulu, nanti aku jawabnya pas Abang udah dateng, Ok!"
"Perasaan Abang kok gak enak ya?"
Cahaya benar benar tak bisa memberi jawaban langsung, ia hanya meminta Langit untuk datang menemuinya kapanpun itu sesempatnya Langit karna Cahaya paham betul dengan kesibukan sang direktur Rahardian Group.
Cahaya yang kini sedang memandang kearah luar Kamarnya di balik jendela besar muai merasakan aneh dalan tubuhnya sendiri yang perlahan mulai banjir keringat dingin dan bergetar hebat, ia yang masih mencoba menahan sesak dalam dadanya terus menarik napas dalam dalam dan ia hembuskan secara perlahan. Bayangan Langit dan indahnya masa depan bersama pria itu terus menari di pelupuk matanya yang kini mulai kabur dan tak lagi jelas dengan apa yang ia lihat.
Hingga tiba akhirnya tubuh langsingnya oun ambruk di lantai karna tak sadarkan diri.
πππππππ
__ADS_1
Jari dewaku mulai beraksi, moga gak ada yang bikin mood anjlok gegara baca komenπ€£π€£