Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 136


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Keren katamu?!" seru Diana dengan dahi mengernyit.


"Iya, kita sudah tua ternyata" Jawab Adam sambil terkekeh.


Jika ia mengingat saat hari hari beratnya di penjara selama lima belas tahun tentu itu terasa lama dan tak ingin ia mengingat hal itu lagi, tapi jika kini ia melihat Langit sudah tumbuh dewasa dan akan menikah tentu tak terasa waktu cepat berlalu.


"Tapi setua apapun kita, nyatanya kamu semakin cantik, Dee" goda Adam yang sebenarnya itu sebuah kejujuran dalam hatinya.


"Aku sakit sakitan, apanya juga yang cantik"


"Kamu sakit karna merindukanku, dan kini pasti akan langsung sembuh saat bertemu denganku"


Diana tentu langsung mencibir kearah Adam yang tersenyum menggoda. Mereka bagai anak remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.


Satu jam lebih keduanya berbincang sekedar bertanya kabar karna Diana benar-benar tak ingin membahas masa lalu yang menurutnya sangat menyakitkan. Bukan karna di tinggal sang suami tapi karna rasa bersalahnya meninggalkan Langit begitu saja. Diana tak akan memaafkan dirinya sendiri jika saja putra satu satunya itu berada di jalan yang salah atau di temukan oleh keluarga yang kurang baik. Tapi ia begitu bersyukur sebab Nona Muda Rahardian lah yang dulu menemukan Langit kecil dan mengurusnya sampai detik ini.

__ADS_1


.


.


Diana yang diantar pulang ke apartemen oleh Adam sejujurnya memang merasa tak enak hati, ada hal lain yang mengganjal tentang status hubungannya sekarang yang tak tahu mau di bawa kemana mengingat sikap Adam yang semakin manis padanya.


Sebagai wanita yang merindu tentu Diana bahagia terlebih perpisahan mereka murni tak ada masalah pribadi yang berunjung pertengkaran.


"Kamu tinggal sendiri?" tanya Adam saat ia duduk di sofa panjang ruang tamu.


"Lalu Langit?"


"Anak itu masih tinggal di manapun yang dia mau. Kadang disini, di apartemennya, apartemen Rahardian atau pun Rumah utama. Tergantung hatinya akan singgah dimana yang jelas aku tak pernah memintanya untuk datang" jelas Diana santai tapi Adam tahu ada luka yang ia sembunyikan.


"Kenapa?" tanya Adam bingung.


"Karna ia selalu datang tanpa ku minta. Aku tak ingin mengganggu kesibukan kerjanya atau mengganggu waktu bersama orangtua angkatnya juga"

__ADS_1


"Ya, Langit begitu menyayangi Nyonya Rahardian. Ia tak pernah berkata tidak pada wanita itu selama ini, tapi kita juga punya hak atas Langit kita orang tua kandungnya, Dee" ucap Adam meyakinkan Diana karna bagaimanapun darah akan selalu kental dibanding apapun.


"Biarlah, aku tak ingin banyak menuntut, terlebih saat aku tahu bagaimana kerasnya usaha Langit untuk bisa mensejajarkan dirinya dengan Cahaya, karna gadis itu ternyata jauh di atas Langit dari segi materi" ucap Diana dengan napas berat.


Adam hanya bisa diam saat Diana menegaskan perbedaan posisi Langit dan Cahaya. Siapa yang tak tahu dan tak kenal gadis itu, anak kembar bungsu dan cucu perempuan satu-satunya di keluarga Rahardian. Hartanya sudah berlimpah meski ia tak pernah bekerja sama sekali setelah lulus kuliah.


"Andai semua tak terjadi, Langit tentu tak akan sesusah ini menyamaratakan kedudukannya." lirih Adam, cinta putranya memang tak pernah main main dan mungkin itu karna menurun dari sifat Papinyanya yang selalu setia dengan satu wanita.


"Memang kenapa?"


.


.


.


"Langit akan menjadi satu-satunya pewaris Biantara

__ADS_1


__ADS_2