Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 135


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Diana tak lagi melerai pelukan Adam, ia justru mengeratkannya dengan tangis yang semakin pecah bersama rindu yang menguap. Wanita itu mengesampingkan egonya sejenak, ia butuh dada bidang untuk menyandarkan kepalanya. Adam yang menerima sikap sedikit luluh istri sirinya itu pun terus menciumi pucuk kepala Diana.


"Aku merindukanmu, Sayang" lirih Adam.


"Hem, akupun!"


Sesakit apapun semua yang mereka jalani ternyata tak mengurangi kadar cinta dalam hati keduanya.


Memang tak pernah ada benci yang terselip, hanya rasa kecewa pada takdir yang memisahkan mereka dengan cara yang cukup mendadak.


"Bisa kita bicara berdua?" pinta Adam memohon.


"Baiklah" jawab Diana sambil tersenyum kecil, getaran dalam hatinya benar benar tak bisa ia sembunyikan. Entah semerah apa wajah wanita baya ini sekarang.


Adam merangkul bahu Diana menuju mobilnya, ia perlakukan ibu dari putranya itu sebaik mungkin seperti saat dulu mereka masih bersama.

__ADS_1


Adanya rasa canggung membuat keduanya diam selama perjalan menuju salah satu Cafe padahal Adam sengaja memilih tempat yang lebih jauh berharap ada obrolan kecil diantara mereka.


Kereta besi milik Adam akhirnya berhenti di area parkiran Cafe yang cukup terkenal, Adam yang turun lebih dulu langsung membuka pintu bagian kiri mobilnya.


"Terimakasih" ucap Diana saat keluar dan menyambut uluran tangan Adam.


"Mari masuk, akan kujadikan lagi kamu Ratu dalam hidupku" bisik Adam yang langsung membuat Diana membuang pandangan.


Keduanya berjalan bersama menuju pintu masuk Cafe, kini bukan lagi bahu yang di rangkul oleh Adam tapi pinggang ramping milik wanita tercintanya yang ia sentuh. Sensasinya masih sama, Adam selalu tergoda dan tak bisa menahan hasrat jika sedang bersama Diana.


"Mau pesan apa?" tanya Adam saat mereka sudah duduk bersama di privat room.


Adam hanya mengangguk paham, ia mulai memilih dua minuman untuk mereka nikmati dengan berharap apa yang disukai Diana masih sama seperti dulu, tak adanya protes ternyata membuat pria itu sedikit lega karna pilihannya pasti tak salah.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Diana membuka obrolan.


"Seperti yang kamu lihat, tubuhku baik tapi hatiku sakit, sakit menahan rindu pada kalian yang hanya bisa ku pandangi dari jauh tanpa bisa ku sapa apa lagi ku sentuh" ujar Adam dengan penuh penekanan.

__ADS_1


"Maaf, tapi hanya ini yang bisa ku lakukam demi kebaikan kita bersama"


"Kebaikan bersama yang seperti apa maksudmu? yang ada kita terus terluka dengan semua ini, Dee" cecar Adam kesal, ia memang belum tahu dengan perlakuan Ayunda selama ia di penjara dulu.


"Sudahlah, aku tak ingin membahas masalah itu lagi yang sudah biarlah berlalu aku hanya ingin menata hidupku dengan melihat Langit bahagia." ujar Diana menghindari pembicaraan agar tak berlanjut.


"Langit akan menikah? kapan, Dee" tanya Adam antusias. Jika ia di beri kesempatan tentu ini pengalaman pertama dan terakhir untuknya sebagai seorang ayah mengingat kini hanya Langit putra satu satunya setelah meninggalnya si sulung Mark Marcelio Biantara, anak hasil keringat satu malamnya bersama Ayunda.


"Beberapa hari lagi acara lamaranya, ada banyak hal yang masih ku persiapkan untuk meminta putri bungsu Rahardian menjadi menantu kita" ucap Diana sambil tersenyum simpul, ada kebahagiaan yang jelas terpancar dari kedua matanya yang selalu teduh dan membuat Adam semakin mencintainya setiap saat.


.


.


.


Tak terasa ya, tau tau kita punya Mantu.

__ADS_1


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


__ADS_2