
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
DOOOOORR..
Satu tembakan melesat tepat di kepala seorang pria berumur tiga puluh lima tahun yang di bawa Reno ke markas khusus yang jauh di pinggiran kota. Orang itu langsung tersungkur di lantai tanpa ada satu pun yang menolong.
"Itu hukaman bagi orang yang berani menyebut namaku, Paham!!" Adam berkata sambil berjongkok dengan senyum menyeringai.
Kelakuan bejad yang Adam lakukan ini bukan yang pertama karna ia sudah melakukannya berkali-kali jika ada orang yang berani menghalangi atau mengacaukan rencananya. Adam tak jarang menembak sendiri orang yang sudah berkhianat padanya tanpa ampun dan belas kasih.
"Buang mayatnya di tempat biasa, tapi ambil dulu organ tubuhnya yang masih bagus untuk di jual" titah Adam pada dua orang yang berjaga di depan pintu markas sebelum akhirnya ia pulang ke kkediaman Biantara.
.
.
.
Mobil mewah Adam berhenti di garasi rumah orang tuanya, ia melenggang masuk bagai tak terjadi apapun sebelumnya, Orang lain tak akan percaya dengan apa yang Adam lakukan selama ini. Wajah tampannya begitu tenang dengan langkah ringan masuk ke dalam Ayunda.
CEKLEK
__ADS_1
Adam membuka pintu pelan karna waktu sudah menunjukan jam sepuluh malam. Namun, ia sedikit terkejut saat melihat istrinya malah sedang duduk melamun di kursi goyang menghadap ke jendela yang langsung tembus ke halaman belakang.
"Kamu belum tidur?" tanya Adam setelah mencium kening Ayunda, hal yang masih ia lakukan meski sangat terpaksa.
"Aku menunggumu, Aku ingin sesuatu" jawab Ayunda sambil menyodorkan tangan agar Adam mau membantunya bangun dari duduk.
"Mau apa? apa yang bisa ku berikan padanya" ujar Adam sambil mengusap perut sang istri yang kian membesar, Adam sengaja mengatakan itu agar Ayunda sadar jika ia ada hanya untuk anaknya.
"Aku ingin nasi bakar dengan bebek goreng" pinta Ayunda, ia memang tak pernah segan meminta apapun pada suaminya karna Adam sendiri yang berjanji akan menuruti semua maunya selama masa kehamilan kecuali menengok langsung sang buah hati meski dokter telah menyarankan untuk keduanya sering berhubungan, tapi Adam akan terus memegang janjinya pada Diana untuk tak lagi menyentuh Ayunda.
"Akan ku belikan, kamu tunggu disini" ucap Adam, sebenci apapun ia pada Ayunda, ia akan tetap menjadi sosok pria bertangguang jawab layakanya suami pada umumnya.
Ayunda yang tahu akan di tinggalkan buru-buru mencekal pergelangan tangan Adam dengan sedikit kencang.
"Aku ikut, kitra cari sama-sama. Aku bosan di rumah, sayang"
Lama Adam berpikir tapi akhirnya ia mengangguk setuju, ia sadar betul jika istrinya itu jarang sekali keluar rumah jika bukan dengan mamanya itupun jika kebetulan sedang ada waktu karna selebihnya mereka hanya pergi kerumah sakit setiap satu bulan sekali.
Di dalam mobil tak ada obrolan sama sekali, pasangan suami istri itu tenggelam pada pikiran mereka masing masing, Adam yang lelah serta Ayunda yang sedang menyembunyikan rasa senangnya.
"Ini maksudmu?" tanya Adam memastikan sebelum akhirnya mereka turun dari mobil.
__ADS_1
"Ya, aku mau itu" tunjuk Ayunda, rasa senangnya berkali kali lipat karna sang suami benar benar mencari apa yang ia mau meski kini hampir saja tengah malam.
"Ya sudah, ayo turun"
Adam yang membuka pintu lebih dulu lalu berjalan memutari bagian depan mobilnya untuk membuka pintu bagian kiri dimana istrinya duduk. Keduanya masuk lalu memesan apa yang di inginkan Ayunda.
Wanita hamil yang sebentar lagi resmi menyandang sebagai seorang ibu itu pun makan dengan lahap langsung dari tangan suaminya. Adam menyuapi Ayunda dengan begitu sabar dan telaten.
"Cukup, aku kenyang"
"Masih ada dua suap lagi, habiskan" titah Adam yang di jawab gelengan kepala oleh Ayunda.
.
.
.
.
***Sikap terpaksamu saja sudah sangat manis, lalu bagaimana jika kamu melakukannya dengan suka rela penuh cinta?
__ADS_1
Tentu dia pasti sangat bahagia selalu ada di hatimu.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁***