
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
" Aku lebih baik memperbaiki hubungan denganmu dari pada harus mencari penggantimu. Serumit apapun masalahnya tak ada sedikitpun niat meninggalkan mu." Diana menghapus air matanya di balik gorden putih dalam kamarnya.
Adam tak pernah tahu jika Diana selalu melepas kepergiannya dengan perasaan yang sulit di ungkapkan.
Sreeekkk..
Diana menutup gorden dengan sedikit kasar, ia membuang napasnya sambil berjalan menuju kamar mandi, tak ada tanda merah yang di tinggalkan Adam di dada atau di leher yang biasa di lakukan kekasihnya itu dengan liar.
"Selamat bersenang senang, sayang. Aku akan mencoba melupakanmu selama tiga hari ini, rasanya aku tak pernah sanggup membayangkanmu tidur dengan perempuan lain meski itu halal untuk kalian"
.
.
Usai membersihkan diri, Diana turun ke lantai bawah untuk mengisi perutnya yang terasa lapar. Namun, langkahnya berhenti saat ia melihat dokter Radit sedang berbicara dengan Eyang di ruang tamu.
"Selamat pagi Nona cantik" sapa dokter Radit tersenyum ramah dan sopan seperti biasa.
"Pagi juga, Dok. Apa Dokter datang sepagi ini hanya untuk menumpang sarapan lagi di sini?" sindir Diana, ia sudah hafal betul dengan kebiasaan pria yang dulu selalu ada untuknya saat terpuruk dan depresi.
"Hahaha, tentu. Boleh kan?'
"Dokter pikir, aku akan berani mengusir jika Anda sudah membawa itu" ucap Diana, matanya fokus pada apa yang di bawa pria beralis tebal yang kini sedang mengulum senyum.
"Ayo sarapan, aku sudah sangat lapar" ajaknya berjalan lebih dulu setelah menyerahkan banyak bunga pada Diana.
"Sarapan dulu, Dee...." teriak Dokter Radit dari ruang makan saat gadis yang sebenarnya ia suka sejak pertama kali melihatnya itu tak kunjung menyusul ia dan Eyang.
__ADS_1
"Hem, baik pak Dokter bawel"
********
Adam yang sedang panik karna permintaan yang seharusnya itu wajar sebagai pasangan suami istri hanya bisa menelan salivanya kuat kuat, jantungnya yang berdetak hebat bagai ingin keluar dari dalam tubuhnya.
"Kamu sudah datang"
Suara Tuan Jammy membuat Adam dan Ayunda menoleh secara bersamaan, keduanya langsung mengekor di belakang pria baya yang kini memakai stelan Jas berwarna Navy.
Ketiganya duduk di ruang kerja Tuan Jammy dengan Ayunda masih bergelayut manja di lengan sang suami.
"Bagaimana disana, masih aman?" tanya si Bos mafia setelah ia menyesap kopinya.
"Aman, Pah"
"Paham, Pah. Semua sudah di kendlikan dengan baik" jawab Adam meyakinkan jika pekerjaannya di kota memang aman tanpa masalah apapun.
"Baguslah, nikamati waktu kalian berdua." Ujar Tuan Jammy sambil bangun dari duduk, ia kemudian pergi meninggalkan anak dan menantu yang ia yakini sedang melepas kerinduan setelah beberapa waktu tak bertemu.
"Ayo ke kamar, aku punya kejutan untukmu"
Ayunda menarik tangan Adam agar ikut bangun dengannya, pasangan suami istri itu berjalan beriringan menuju tempat peraduan yang selalu nampak dingin bagi adam karna tak pernah bisa memberi kehangatan untuk sang istri.
CEKLEK.
Adam tak meneruskan langkahnya saat ia melihat kamar mereka sudah di hias sedemikian indahnya mirip kamar pengantin.
"Apa apaan ini?" tanya Adam semakin takut.
__ADS_1
"Kenapa? kamu tak suka" Ayunda balik bertanya, ia kecewa dengan raut wajah suaminya yang datar tanpa senyum.
"KIta bukan pengantin baru, kenapa harus seperti ini" Adam melengos masuk untuk menutupi debaran jantungnya.
"Sudah ku bilang, kita mulai dari awal. Kita jadikan malam ini malam pertama kita!"
Adam tak menjawab, ia yang memang sebenaranya lelah langsung merebahkan tubuhnya di tengah ranjang berbalut sepre putih polos.
"Aku mau tidur dulu, jangan menggangguku"
Ayunda yang merengut kesal hanya bisa pasrah dan membiarkan suaminya itu beristirahat, ia memilih ikut berbaring sambil memainkan ponsel di samping Adam yang sudah terdengar dengkuran halus keluar dari mulutnya.
"Apa kurang rasa cintaku padamu? apa tubuhku tak layak untuk kamu sentuh, Dam. Atau aku tak pernah membuatmu merasa bergairah"
.
.
.
.
.
.
.
Sudah cukup selama ini aku yang memohon, karna malam nanti kamu lah yang akan memaksaku untuk minta di layani.
__ADS_1