
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Tak ada yang berubah, termasuk rasa cinta Adam pada Diana apalagi saat gadis itu masih mau bertahan dengannya dengan status suami orang. Jarak yang membentang antara Adam dan Ayunda benar-benar di manfaatkan oleh Adam untuk bertemu dengan kekasihnya meski hanya satu atau dua jam karna ia masih dalam pengawasan ketat Tuan Jammy. Adam akan pergi saat hampir tengah malam dan kembali ketika subuh, ia melakuan itu agar tak mengundang rasa curiga orang-orang yang menjaganya.
Seperti malam ini.
Adam pulang menemui pemilik hatinya yang sudah menunggu sedari sore saat ia mengabari akan datang.
Perjalan beberapa jam ia tempuh dengan sepeda motor matic yang Adam pinjam, ia tak akan menggunakan barang mewahnya jika ingin bertemu dengan Diana di luar kota.
.
.
Gerbang tinggi yang mengurung rumah mewah Adam di buka oleh salah satu penjaga saat tahu jika tuan muda mereka datang, Adam langsung memasukkan motornya ke garasi kemudian masuk lewat pintu samping yang tembus ke dapur bersih.
Diana yang menoleh langsung berdiri dan berhambur memeluk pria kesayangannya.
"Lama ya? kenapa gak tidur aja" kata Adam setelah menciumi seluruh wajah Diana, gadis itu sudah kembali seperti dulu cantik dan menggemaskan.
__ADS_1
"Aku ingin tidur denganmu" pintanya manja sambil bergelayut manja seperti bisa.
Adam mencium pucuk kepala kekasihnya itu dengan perasaan serba salah.
Keduanya langsung naik ke ke lantai dua menuju kamar mereka, ruang tidur yang menjadi saksi bagaiamana keduanya selalu berpacu menggali kenikmatan selama hampir empat tahun bersama.
"Aku bersih bersih dulu"
Diana yang sudah lama memasrahkan hati dan raganya hanya pada Adam tentu tak pernah mengelak melayani prianya itu meski tetap mempertahankan kesuciannya.
Ia yang kini memakai lingerie berwarna hitam akhirnya naik keatas ranjang perpaduan saat Adam lebih dulu membersihkan diri.
"Apa bisa hari ini aku memintamu untuk tinggal lebih lama? setidaknya sampai matahari terbit" lirih Diana, Ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang polos sang kekasih.
"Besok siang aku akan ke kota A menemui Ayunda" jawab Adam yang semakin mengeratkan pelukannya, sakit hatinya tentu tak sesakit Diana saat ini.
"Berapa lama kamu disana?" tanya Diana, ia akan tetap bersikap tenang meski hatinya bagai tercabik cabik.
"Tiga hari seperti biasanya"
__ADS_1
Diana hanya mengangguk paham, ia hapus dengan cepat cairan bening di ujung matanya, jangan sampai Adam melihat nya bersedih karna berat melepaskan.
"Kamu tak apa, kan?"
"Tentu, memang aku kenapa? mari bersenang-senang. Jangan buat aku iri, sayang" kekeh si cantik yang langsung naik ke atas tubuh Adam.
Diana yang duduk tepat di atas milik kekasihnya itu tertawa kecil saat merasa Phyton Adam sudah sangat keras mengganjal di sarangnya yang masih tertutup kain tipis.
Adam yang sudah terbakar bi Rahi langsung menurunkan tali kecil di atas pundak putih Diana, kini terlihat jelas Dua bukit kenyal yang selalu menggairahkan pria berusia dua puluh tiga tahun itu. Ia menarik sedikit tubuh Diana agar ia lebih mudah menyesap salah satunya yang menggantung indah, bulat dan padat walau Adam sudah memainkannya sedari mereka masih sekolah.
Diana men Des Ah hebat, saat lidah dan jari jari Adam bermain dengan nakalnya di kerikil kecil berwarna merah yang berada di ujung puncak gunung nya.
.
.
.
.
__ADS_1
Aku ingin lebih dari ini, Dee