Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 98


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂


Setelah kejadian pertengkaran drama pil penunda kehamilan akhirnya Diana mau ikut kembali tinggal di ibu kota bersama Adam di apartemen.


"Aku bosan minum ini terus menerus" tolaknya saat Eyang membawakan beberapa obat penyubur kandungan.


"Nanti Den Adam marah jika nona tak mau meminumnya" rayu Eyang, wanita tua itu kembali di pilih Adam untuk menemani Diana kala ia sedang sibuk dengan pekerjaan haramnya.


"Aku mual, Eyang"


"Eyang akan bilang pada Den Adam jika nona bersikeras tak mau meminumnya" ancam Eyang yang langsung membuat Diana merengut kesal.


"Baiklah, aku akan meminumnya agar kalian berdua senang"


Adam memang langsung membawa Diana kerumah sakit terbaik di ibu kota untuk memeriksakan keadaanya, berbulan bulan mengkonsumsi obat tersebut tentu membuat Adam sangat khawatir, ia tak ingin sampai terjadi apapun dengan rahim kekasihnya karna ia masih mempunyai impian untuk memiliki banyak anak dari Diana.


.


.


Hampir dua tahun berlalu, kini usia Mark sudah menginjak tiga tahun. Bocah tampan itu tentu menjadi kesayangan Biantara karna Bagas belum juga menikah meski kedua orang tuanya sudah lama mendesak agar si sulung cepat menyusul adiknya.


Bagas adalah pria yang penuh ambisi, ia bahkan sudah berhasil merayu papa untuk pensiun dari perusahaan agar ia bisa mengusai segalanya sendiri. Entah jurus maut dan kebohongan apa yang di ucapkan Bagas sampai Adam sama sekali tak mendapatkan hak dari keluarganya. Beruntung Adam memiliki usaha halal yang sengaja ia kembangkan demi menutupi usaha haramnya agar orang-orang tak curiga dengan kekayaannya karna tentu hanya Ayunda, Reno dan Eyang yang tahu sebejad apa Adam kini.


"Bapak sakit keras, apa kamu mau menjenguknya" tawar Adam pada Diana saat keduanya berdiri di balkon apartemen saat sore tiba.


"Bapak sakit? aku bahkan sering melupakannya" tanya Diana sedikit terkejut.

__ADS_1


"Ya, dia dirawat di salah klinik tempat ia tinggal sekarang, bagaimana?" tanya Adam lagi memastikan.


"Sakit apa? Aku kira bapak orang yang sangat kuat karna terbukti ia tak pernah butuh istri dan anaknya" kekeh Diana yang seakan menertawakan dirinya sendiri yang merasa di abaikan sedari kecil.


"Jangan begitu, dia hanya memiliki mu saat ini. Besok kita pergi kesana ya. Temui bapak meski hanya lima menit"


Diana tak menjawab sama sekali, rasa kecewanya tentu lebih besar dari rasa sayang atau rasa hormatnya kini, Diana begitu Sakit hati ketika ia selalu di paksa menjual dirinya hanya untuk memodali bapak main judi.


Adam yang tahu jika Diana diam seribu bahasa akhirnya menarik gadis itu untuk masuk ke dalam karna angin semakin kencang terasa, keduanya duduk bersama di ruang tengah sambil menunggu Eyang dan satu ART lainnya menyiapkan makan malam.


.


.


.


"Bapak tidur, Dee" bisik Adam.


Diana tetap bergeming, sorot matanya tak bisa di artikan karna ada kecewa, benci juga kerinduan yang amat mendalam. Jika saja sikap bapa sedikit lebih baik tentu sudah bisa di pastikan Diana akan ikhlas mengurusnya meski dalam kemiskinan daripada kaya raya namun menjadi simpanan.


Pria baya yang kini kurus kering dengan kulit tubuh hitam legam mulai mengerjapkan kedua matanya.


"Dee, apa itu kamu?" gumam Bapak saat ia melihat sosok gadis cantik yang selama ini menjadi satu satunya buah hati ia dan mama, sang istri pertama.


"Pak, iya ini Dee" jawabnya masih dengan nada dingin dan angkuh, tak ada niat untuk memeluk apalagi menangis karna dulu ia sudah sangat kenyang menitikan air mata saat bapak sering memukulnya.


"Benar kamu, Dee? kamu kini ada di depan Bapak" lirih nya lagi mencoba untuk bangun namun rasanya begitu sulit apalagi sang putri sama sekali tak berniat membantu, melihat sikap dingin Diana akhirnya Adam lah yang menarik tubuh ringkih itu agar bisa duduk bersandar.

__ADS_1


"Maafkan semua salah Bapak, meski Bapak tahu tak mungkin termaafkan tapi setidaknya sudah melihat mu disini saja Bapak sudah sangat bahagia, Dee"


"Aku selalu memafkan Bapak, cepatlah sembuh. Aku pamit" jawab Diana langsung membalikan tubuh hendak pergi tapi siapa sangka jika tangannya justru di cekal oleh pria tua yang dulu sering kali menyiksa lahir bathinnya.


"Dee, Bapak punya satu permintaan terakhir untukmu"


Diana langsung menoleh, tak ada sedikit pun rasa untuk menepis cekalan Bapak di tangannya, karna ada yang aneh saat kulit mereka kini bersentuhan.


"Bapak mau apa? aku hanya punya maaf. Jika bapak ingin uang banyak mintalah pada Adam!" sahut Diana yang lalu membuang pandangannya.


"Tidak, Bapak sudah tak butuh hal itu. Hidup Bapak seakan sudah di ambang kematian, Bapak hanya ingin satu hal dari mu" pinta Bapak lagi sambil menangis sesegukan.


"Katakan, apa yang bapa inginkan"


.


.


.


.


.


.


Bapak ingin mejadi wali nikahmu, karna itu adalah impian semua Ayah untuk putrinya, Dee....

__ADS_1


__ADS_2