Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 65


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Apa mulai hari ini aku harus ikhlas berbagi rasa, waktu dan Ranjang dengan istrimu?" Diana membuka matanya saat mendengar pintu kamar di tutup oleh Adam yang tadi berpamitan padanya. Ia dengar semua apa yang di katakan pria itu, Semua permintaan maaf yang entah itu yang keberapa kalinya di ucapkan oleh Adam.


"Pergilah dan datang lah sesukamu, aku akan tetap disini" lirihnya pasrah.


Diana membuang napas kasar, ia bangun dari tidurnya lalu turun dari ranjang, langkah kaki gontainya kini menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Ada garis senyum kecil di sudut bibir Diana saat melihat banyaknya tanda merah di leher dan dadanya. Dua daging kenyal itu berdenyut nyeri seperti pertama kali dulu Adam menyentuhnya. Sentuhan pria itu memang selalu membuat Diana melayang bagai ke ujung langit, tak hanya lembut tapi juga Adam selalu membisikkan kata cinta selama aksi panas mereka.


"Tidak.. tidak! aku harus tau diri siapa diriku" tutur Diana yang langsung membasuh wajahnya, ia tak ingin banyak melamun tentang Pria yang kini pergi menemui istrinya.


Usai membersihkan diri Diana langsung keluar kamar berniat menemui Eyang, banyak yang ingin ia tanyakan tentang kedatangan Adam tadi malam.


" Eyang, bisa kita bicara?" ucap Diana pada wanita yang sibuk membakar roti untuk sarapan mereka di dapur bersih.


"Bicaralah, ada apa?"

__ADS_1


Diana menarik kursi meja makan sebelum dia melanjutkan pembicaraannya, susu yang masih panas pun ia minum sedikit demi sedikit untuk menghangatkan tubuh nya.


"Kapan Adam datang?"


"Den, Adam pulang semalam, kira kira pukul sebelas, Non" jawab Eyang yang sebenarnya ragu karna tak melihat jam sama sekali.


"Dia datang, Eyang. Adam tak lagi pulang padaku, ia sudah punya rumahnya sendiri untuk melepas lelah dan dahaganya" Diana sedikit tercekat saat di ujung kalimat yang ia ucapkan, berbulan-bulan tanpa kabar dan ternyata sudah beristri tentu yang di pikiran Diana, Adam sudah melakukan hubungan layaknya suami istri.


"Raganya yang pulang, karna hatinya masih milik Nona" Ujar Eyang mencoba menenangkan hati Diana yang mungkin kembali porak poranda.


"Tentu, Den Adam bisa berkali-kali menanyakan Nona dalam sehari"


Diana mengernyitkan dahinya, ia meletakkan kembali garpu yang ia pegang ke atas piring.


"Kenapa tak menghubungiku langsung? kenapa harus menyiksaku lebih lama menahan rasa rindu!" cetus Diana semakin kesal, pria yang ia kira hilang bagai di telan bumi nyatanya masih ingat padanya.


"Den Adam hanya ingin bicara langsung dengan Nona saat waktunya tiba, begitu banyak yang harus ia selesaikan sebelum pulang kemari. Itulah yang Eyang tahu darinya" jawab Eyang yang paham akan kegundahan hati Nona mudanya itu.

__ADS_1


"Apa yang urus sampai harus pergi selama itu, apa Adam di jodohkan? apa yang Eyang tahu tentang pernikahannya? siapa istrinya, Eyang" Diana mulai memberondong wanita tua itu dengan berbagai pertanyaan yang seharusnya ia tanyakan pada Adam.


"Den Adam tak banyak cerita tentang itu, ia hanya meminta Eyang menjagamu dengan baik"


Diana mengusap wajahnya dengan kasar, ia bingung mengambil sikap saat ini. Adam yang dengan sengaja tak pernah memberi uang sepeserpun pada Diana tentu membuat gadis itu sulit melakukan sesuatu.


.


.


.


.


.


Baiklah.. aku akan cari tahu sendiri tentangnya!

__ADS_1


__ADS_2