Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 152 S2 CahayaLangit.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Hari dah bulan yang terus berganti tentu membawa perubahan dalam diri sang menantu Biantara.


Cahaya yang kini sedang hamil empat bulan sedang rewel rewelnya meminta ini dan itu pada sang suami, beruntunglah ia memiliki pria halal yang tingkat kesabarannya diatas rata-rata ditambah harta yang melimpah membuat segalanya terasa mudah.


"Sekarang?" tanya Langit memastikan keinginan wanita yang paling ia cintai.


"Iyalah, masa besok sih, Bang" jawab Kesal Cahaya.


Tangannya yang mengusap perut sedikit buncit nya itu sedang mengkhayal bagaimana nikmatnya makan lidah sapi.


"Tapi adek mau liat potong sapinya juga"


Langit semakin bingung saat permintaan sang istri lebih konyol dibanding tadi.


"Kok gitu? kan tadi cuma pengen gulai lidah sapi, kenapa harus liat si sapi di potong?" tanya Langit.


"Masa iya lidah nya di ambil pas sapinya masih hidup? Abang kenapa jadi gak punya Prikesapian sih?" cetus Cahaya.


"Jadi ini gimana? mau liat sapi apa makan lidah sapi?"


"Dua-Duanya!" tegas Cahaya.


Langit yang memutuskan untuk tidak datang ke kantor selama istrinya hamil tentu bisa kapan saja menurutinya, lalu bagaimana dengan perusahaan?

__ADS_1


Air dan Bumi lah yang sering mengambil alih, jadi tak salah jika si kembar laki laki itu sering merengek pada Langit.


Demi adek kalian, kak!!


itulah kalimat pamungkas yang di ucapkan putra Biantara saat Air dan Bumi mulai mengoceh karna dibanding mereka, tentu memang Langit yang paling sibuk karna jabatannya sebagai Presiden Direktur Rahardian menggantikan Reza.


Langit yang sedari dulu memiliki beberapa peternakan pun tak pusing jika hanya soal perkara sapi saja karna memang ada beberapa hewan lainnya juga disana termasuk kelinci atau burung yang sering di pinta Sam untuk di bawa pulang.


.


.


.


"Sapinya sudah siap?" tanya Langit pada salah satu pegawai peternakan yang sebelumnya sudah ia telepon lebih dulu.


Langit yang mengangguk lalu ikut berjalan di belakang orang tadi bersama istrinya yang ia rangkul di bagian bahu.


Cahaya yang ingin merengek ingin melihat pemotongan sapi justru bergidik ngeri sampai menutup wajah cantiknya dengan telapak tangan.


"Bang, ngeri banget ya. Suaranya bikin kasihan" ucap Cahaya yang benar-benar tak tega.


"Iya, emang gitu, Sayang. Ya udah yuk kita keruangan Abang sambil nunggu selesai di bersihkan." ajaknya pada Sang istri.


Keduanya melangkah pergi kembali ke peternakan hewan setelah memerintahkan beberapa pegawainya untuk memisahkan lidah sapi lebih dulu karna akan segera di masak sedangkan bagian daging sapi, Langit memerintah kan untuk di bagi bagi pada warga yang kurang mampu di kampung sekitaran.

__ADS_1


Cek lek.


"Kalo udah laper, beli jadi aja ya" tawar Langit saat Cahaya kini duduk di atas pahanya.


"Enggak ah, aku mau nunggu yang ini aja" tolak nya tetap kekeuh dengan pilihan awal.


Langit yang merasa gemas langsung meraih tengkuk isterinya, Cahaya yang paham pun mulai melakukan apa yang sang suami ingin. Keduanya bergelut tak ada yang mau mengalah saat lidah mereka bertarung dalam mulut. Aksi panas keduanya berhenti saat terdengar ketukan pintu.


"Masuk" titah Langit saat Cahaya sudah turun dari atas pahanya.


Pintu yang terbuka membuat keduanya menoleh secara bersama, mata pasangan suami istri itupun langsung berpusat pada apa yang orang tersebut bawa di tangannya.


"Ini lidahnya, Tuan"


"Bawa sini, saya lihat dulu" pinta Langit.


Pria tampan yang kini sudah masuk usia kepala tiga itu pun lebih dulu tersenyum kearah Cahaya, Langit selalu merasa bahagia saat bisa menuruti semua keinginan istru tercinta.


Langit yang menerima kotak berisi lidah sapi pun langsung mengangguk, tapi ia bingung saat melihat Cahaya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? ini lidahnya kita bawa pulang untuk di masak dulu buat kamu makan, de" ucap Langit.


.


.

__ADS_1


.


Kelamaan ah, adek mau tanduk kambing aja, Bang.


__ADS_2