Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 45


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Sayang... Ku mohon jangan menangis lagi" rayu Adam pada Diana yang menangis tersedu-sedu, gadis itu duduk di lantai menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang mewah tempat ia dan Adam bergulat untuk mengeluarkan keringat bersama setiap kali bertemu.


"Aku tak minta banyak darimu, Dam"


Adam membuang napas kasar, ia yang serba salah hanya bisa menciumi kedua tangan kekasihnya itu berkali-kali.


"Aku takut, Dee. Aku akan benar-benar menyalahkan diriku sendiri jika sesuatu terjadi padamu disana, Sayang"


Diana menggelengkan Kepalanya, ia meyakinkan Adam bahwa tak ada yang harus di khawatirkan nantinya.


"Aku janji hanya dua hari, setelah itu aku akan balik lagi kesini dan kamu bisa kembali mengurungku" ucapnya dengan nada getir, Adam yang mendengar semua itu bagai ada sesuatu yang menusuk hatinya, perkataan Diana bagai sindiran keras untuknya.


"Aku tak mengurungmu, sayang. Aku hanya menjagamu" elak Adam.


Diana hanya tersenyum kecil, Adam memang selalu mengelak jika ia mengatakan sedang di kurung oleh Adam, Pria tampan itu memang memberikan segalanya tapi tidak dengan kebebasan.


"Baiklah, siapkan saja dirimu, kita akan pulang pagi pagi sekali."


Diana langsung mendongakan kepalanya, dengan kedua alis yang saling bertautan, gadis cantik itu sedang meyakinkan dirinya sendiri jika ia tak salah mendengar.

__ADS_1


****


Usai makan malam, Adam begitu sibuk dengan ponselnya di balkon kamar mereka. Diana yang meski sedikit kesal tak berani mengganggu atau banyak bertanya. Ia hanya menunggu kekasihnya itu selesai dengan urusannya lebih dulu.


Jam sebelas malam, Adam masuk kedalam, ia lalu menutup pintu kaca besar kamar yang terhubung ke balkon, Adam melangkah pelan menuju ranjang tempat Diana kini meringkuk di balik selimut.


Senyum tersungging di ujung bibirnya saat ia melihat sang kekasih sudah memakai gaun tipis kesukaannya.


"Malam ini aku tak akan memggaggumu, esok kita akan melakukan perjalanan jauh, istrirahlah sayang" bisik Adam saat Diana sudah ada dalam pelukannnya.


Pria berumur dua puluh satu tahun itu pun langsung ikut tenggelam terbuai ke alam mimpi bersama pemilik hatinya yang belum juga ia halalkan meski sudah tiga tahun bersama menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.


Dering ponsel di atas nakas membuat Diana akhirnya menggeliat kecil, ia melirik ke arah jarum jam yang menempel di dinding kamarnya.


"Jam empat" gumam Diana.


Tubuhnya yang di peluk bagai bantal guling tentu menyulitkan tangannya untuk meraih benda pipih yang akhirnya berhenti sendiri.


"Siapa sih, sepagi ini telepon!" decaknya kesal.


Diana yang ingat jika pagi ini akan pulang ke kota tentu langsung membangunkan Adam yang masih tertidur pulas memeluknya.

__ADS_1


"Sayang, ayo bangun! jangan lupakan janjimu" kata Diana sambil mengusap pelan pipi Adam, pria yang kini menutup kedua matanya dengan sangat rapat.


"Hem, janji apa?" tanya Adam dengan suara serak khas bangun tidur.


"Kamu lupa atau pura-pura lupa, jika hanya ingin mempermainkanku, ku pastikan aku tak akan memaafkanmu, sayang" ancam Diana yang merasa terpancing emosinya.


"Ya, aku ingat dan tak akan mengingkari janjiku" jawab Adam, ia mau tak mau harus bangun namun sebelum meringsek turun dari ranjang, ia lebih dulu merenggangkan otot ototnya sambil mengumpulkan kesadaran.


"Baguslah, karna aku tak mau main main dengan janjimu kali ini, aku sudah cukup lama bersabar untuk hari ini datang" tegas Diana yang suda berdiri di sisi ranjang dengan tangan melipat di dada.


.


.


.


.


.


Sebelum pergi, urus dulu peliharaanmu yang sedang meronta ingin di belai

__ADS_1


__ADS_2