
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Sampai disebuah rumah mewah bergerbang hitam dan tinggi Adam dan Bang Jali turun dari mobil, keduanya berjalan menuju pintu yang tertutup rapat.
Adam sampai tersandung kaki kursi saat ia terus mengedarkan pandangannya karna hawa lain yang ia rasakan, semua nampak sepi seperti tak adanya tanda tanda kehidupan.
"Bang ini kaya rumah hantu ya" bisik Adam.
"Heh, banyak CCTV disini, jangan macem macem"
Adam mengusap tengkuknya, ia tersenyum kecil menyesali apa yang barusan ia katakan. Dua pria tampan itu langsung di sambut oleh Bos besar mereka di ruang tamu.
"Kalian baru sampai?"
"Iya, Bos" sahut Adam dan Bang jali berbarengan.
"Duduklah, kalian pasti sangat lelah"
Keduanya duduk bersebelahan di hadapan Bos besar mereka, sedikit menceritakan perjalan yang baru pertama kali di lakukan oleh Adam.
Namun, obrolan terhenti saat mereka kedatangan seorang gadis cantik yang entah dari mana langsung duduk di sisi Bos yang di panggilnya papa.
"Siapa mereka, Pah?" tanya gadis cantik tersebut.
"Oh, ini anak buah papa baru datang dari kota, perekenalkan dirimu" titah Bos pada putri satu-satunya itu.
"Aku Ayunda" ucapnya sambil mengulurkan tangan.
__ADS_1
"Bang Jali"
"Adam"
Ayunda tersenyum simpul dengan dua pipi yang merah merona saat Adam menerima uluran tangannya meski sesaat, gadis itu langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Pergilah ke kamar mu, masih banyak yang harus papa selesaikan"
"Baiklah, tapi setelah ini ada yang ingin aku bicarakan juga dengan papa" ucap Ayunda dengan nada manja khas seorang tuan putri.
"Tentu, nanti kita bicara ya"
******
Tiga puluh menit berlalu, cukup rasanya sekedar berbincang melepas lelah dan merenggangkan otot setelah melakukan perjalan panjang. Namun, siapa sangka jika Bang Jali dan Adam kembali harus pergi menempuh perjalanan selama kurang lebih empat jam melewati hutan dan lereng gunung di kota tersebut.
"Nih udah nyampe, jangan protes mulu! Lo pikir gue baskom ajaib yang tahu semuanya" sahut Bang Jali tak kalah kesal karna lelah dan juga ngantuk.
Keduanya turun dari mobil, Adam langsung berjongkok saat sampai di depan pintu sebuah bangunan yang mirip gudang.
"Bang, bau banget"
"Berisik, ayo bangun" Bang Jali mengulurkan tangannya, firasatnya mengatakan jika mereka kini sedang berada di tempat yang sebenarnya sedari dulu Jali hindari.
CEKLEK
"Astagfirullah!" pekik Adam saat melihat ada lima kepala tergantung begitu saja tanpa tubuh.
__ADS_1
"Bang, pulang yuk, lemes banget gue" bisik Adam yang sangat takut dengan yang ada di sekelilingnya kini.
"Saya akan tugaskan kamu disini selama dua bulan untuk mengawasi mereka" titah Bos tiba-tiba, Adam yang sudah sangat lemas semakin lemas mendengar perintah dari Bos besarnya itu.
"Bos serius nyuruh saya buat disini?" tanya Adam memastikan, ia menekan lengan Bang Jali untuk meminta pertolongan atau pembelaan.
"Tentu, tugasmu hanya mengawasi mereka saja, tapi jika ingin ikut bermain main juga boleh"
"Ngawasin gimana sih maksudnya, Bos?" Adam kini sedang sekuat tenaga menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan isi perutnya karna rasa mual yang luar biasa.
"Awasi mereka yang sedang memilih dan memilah organ organ tubuh manusia yang akan di ekpor ke luar negeri"
Adam dan Bang Jali kali ini kompak menelan salivanya kuat kuat secara bersamaan.Dua pria itu tak pernah menyangka akan menginjakan kaki di sebuah markas penjagalan manusia.
.
.
.
.
.
.
Duh Gusti... liat Ati ayam mentah aja gue kaga pernah!
__ADS_1