
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Bang, ikut om sekarang" titah Reza yang datang mendadak dengan Melisa yang berdiri di belakang sang suami.
Langit yang duduk di sisi Cahaya pun tentu tersentak kaget, ia hanya bisa saling padang dengan kekasihnya yang sama tak pahamnya.
"Bang ayo!" sentak Reza mulai tak sabar saat Langit tak begerak dari posisinya.
Kemana, Om?" tanya Langit, ia belum bangun dari duduknya karna tangannya masih di genggam oleh Cahaya.
"Ada apa sih, Pah?" Si bungsu pun ikut bertanya.
Raut khawatir jelas terlihat di wajah pria beranak tiga itu, tak ada satupun pertanyaan yang ia jawab karna matanya fokus pada Langit.
"Ayo, Bang!"
Langit akhirnya reflek bangun dari duduk, ia melepas pelan tangannya sambil tersenyum saat melihat Cahaya menggeleng kan kepalanya.
"Abang pergi sebentar ya, kamu tidur lagi" pesan Langit.
__ADS_1
"Abang mau kemana?, Adek takut" gadis itu mulai terisak pelan, Melisa yang tahu hal itu langsung masuk kedalam kamar menghampiri si bungsu.
" Gak apa-apa, ini pasti urusan kantor"
Langit mencium kening Cahaya lembut dan lama seakan sudah tersirat sedikit firasat yang akan terjadi padanya hari ini.
Pria yang kini beranjak dewasa itu pun tak lupa berpamitan dan meminta Buna nya untuk menjaga si Bungsu untuk beberapa waktu meski ia belum tahu betul alasan dan tujuan Reza akan membawanya.
***
Mobil mewah yang melesat dengan kecepatan tinggi menuju bandara seakan begitu mencekam lebih dari rumah hantu di wahana bermain. Tak adanya supatah kata pun yang keluar dari mulut Reza membuat Langit semakin gundah gulana. Hati kecilnya begitu yakin jika ini bukan masalaj kantor yang sempat ia terka barusan.
Entah apa dan kenapa tapi Langit tetap berusaha untuk tenang meski beribu pertanyaan terus hilir mudik din otaknya.
Sama seperti saat di dalam mobil keduanya masih tetap diam seribu bahasa tak ada satupun yang membuka suara terlebih dulu.
Malam semakin larut, rasa lelah tak lagi di rasakan karna rasa penasaran jauh lebih besar.
Sampai akhirnya keduanya pun kembali keluar dari pesawat Langit hanya berjalan mengekor dibelakang Reza.
__ADS_1
Ternyata perjalanan tak sampai berhenti disitu, mereka yang sudah di tunggu oleh sebuah mobil sedan berwarna silver pun segera menaikinya lagi.
Langit yang tahu kota mana yang sedang ia pijak malam ini masih diam bergeming. Ia biarkan cahaya bintang dan bulan yang menjadi saksi dimana ayah sang kekasih membawanya.
Hingga kereta besi mewah itu berhenti di sebuah gedung bertingkat tepat di pusat kota yang baru ia datangi seumur hidupnya.
Langit mengiyakan saat Reza mengajaknya turun dari mobil, keduanya masuk ke Gedung tersebut. Langit sampai bingung saat melihat langkah Reza berjalan dengan cepat dan tergesa.
Reza dan Langit semakin masuk kedalam sampai menuju kedepan pintu Lift. Sampai di dalam kotak besi itupun Reza masih kuat tak membuka mulutnya untuk berbicara, jangankan memberi tahu alasan kedatangan mereka sekedar basa basipun tak sama sekali Reza ucapkan. Padahal Langit begitu Khawatir dengan Cahaya yang ia tinggalkan begitu saja tanpa kejelasan.
TRIIIIIING..
Pintu lift terbuka dengan lebar, kini hanya ada mereka didalamnya. angka tujuh adalah angka yang di tekan Reza setelah pintu kotak besi itu tertutup
Sampai di lantai yang dituju, mereka berjalan menyusuri lorong yang nampak begitu sepi.
Reza berhenti di satu pintu berwarna coklat paling ujung.
.
__ADS_1
.
Masuklah... di dalam ada ibumu!