
💕💕💕💕💕💕💕💕💕
Malam pun tiba...
Semuanya kini sudah siap diruang tamu, tapi tidak dengan Adam. Pria yang nampak sangat sangat berantakan itu masih duduk memeluk lututnya sendiri sambil menangis di pojok kamar yang gelap tanpa ada cahaya sedikitpun.
CEKLEK
Suara pintu dan derap langkah yang entah itu siapa pun tetap tak membuat Adam menoleh, ia sedang tak ingin mendengar karna yang ia butuh kini hanya di dengar.
"Dam, Adam"
"Hem..." sahutnya hanya berdehem kecil, Adam mendongakkan wajahnya saat mendengar namanya di panggil oleh wanita yang melahirkannya dua puluh satu silam itu.
"Mama"
Wanita yang selalu sibuk dengan segudang aktifitasnya itu berjongkok di hadapan putra keduanya, Ia tersenyum kecil seraya menghapus air mata yang membasahi pipi Adam.
"Jangan menangis, ayo bersiap karna papa dan kak Bagas sudah menunggumu" Titah Mama dengan nada bicara begitu lembut seperti beberapa tahun lalu saat ia kecil dulu.
"Bersiap untuk apa? aku tak ingin kemana-mana"
"Ada nyawa yang tak berdosa dalam tubuh seorang gadis yang kini sedang menunggumu, Nak"
Adam menggelengkan kepalanya, air matanya kini tumpah lagi, Mama yang ia harapkan menjadi satu satunya orang yang percaya dengan fitnah ini ternyata sama saja.
__ADS_1
"Aku tak pernah menyentuhnya, Mah"
"Sumpah demi Tuhan!"
Mama hanya bisa menarik napas dalam dalam, tangan lembutnya mengusap kepala Adam dengan pelan. Namun, Adam justru semakin terluka saat ia menakap raut kecewa dari wajah mamanya itu.
"Senakal apa pun kamu, jangan pernah merugikan perempuan, Dam. Apa kamu lupa pesan mama?"
Adam terdiam, ia ingat lagi pada Diana. Entah apa reaksi gadis itu jika tahu semua yang menimpanya kini pasti akan berimbas juga pada hubungan mereka yang sudah tiga tahun bersama, apalagi satu minggu ini Adam belum dan tak bisa menghubunginya sama sekali.
"Aku tak pernah menyentuhnya, Mah. Seumur hidupku hanya satu gadis yang kusentuh itu pun tak sampai..."
"Kamu juga melakukannya dengan gadis lain?" tanya Mama yang memotong ucapan anak keduanya itu.
"Bangun dan cepat bersiap, kami tunggu di bawah. Mama mohon untuk tidak lagi mengecewakan mama lebih dari ini karna kamu terus mengelak dan berusaha tidak bertanggung jawab atas perbuatan mu ini"
Adam menggigit bibir bawahnya sendiri hingga mengeluarkan darah segar sambil menatap punggung mama yang perlahan pergi lalu menghilang dari balik pintu kamarnya.
"Lalu siapa yang akan percaya padaku?"
*****
Jam delapan malam akhirnya keluarga Biantara sampai ke kediaman rumah Bos besar Adam, tentu tak ada siapapun yang tahu jika adam sebenarnya adalah anak buahnya sendiri.
"Selamat datang, Tuan Biantara" sambut si Bos.
__ADS_1
"Terima kasih, Tuan Jammy" balas papa pada bos yang memang bernama Jammy.
Dua keluarga kini duduk d ruang tamu, hanya ada obrolan dan sekedar basa basi selama hampir tiga puluh menit berlalu sampai akhirnya Ayunda turun dari lantai dua rumah mereka dengan gaun berwarna merah menyala.
"Ayunda cantik ya" ucap mama saat gadis itu menyapa dan memeluk kedua orang tua Adam.
"Tentu, mungkin juga karna aura ibu hamilnya keluar" jawab mama Ayunda yang seakan langsung membuat Adam ingin muntah dihadapan mereka semua yang tersenyum juga tertawa bahagia di atas luka hatinya kini.
.
.
.
.
.
.
.
.
Baiklah jika kalian ingin dia HAMIL...
__ADS_1