Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 79


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Diana yang sibuk menyiapkan keperluan Adam hanya bisa menghela napas berat karna rasa sakit masih jelas terasa di selang kangan nya. Adam yang melalukanya sampai dua kali sampai pagi baru terlelap beberapa menit lalu padahal dua jam lagi ia harus kembali ke kota menemui istrinya.


Diana mengusap wajah lelap sandaran hatinya itu dengan ekspresi yang sulit di artikan entah sedih atau bahagia ia pun tak mengerti sama sekali karna hanya rasa takut yang menyelimuti hatinya kini.


Takut di tinggalkan atau lebih ke takut prianya itu lebih memilih sang istri dibanding dirinya.


"Jika aku memang Ratumu, akan kupastikan jika hanya aku yang ada dalam otakmu meski kamu sedang bercinta dengannya" lirih Diana yang kemudian mencium kening Adam dengan lembut.


Dering ponsel mengalihkan fokus Diana yang duduk di tepi ranjang, rasa tak nyamannya karna seperti ada yang mengganjal membuat ia malas meraih benda pipih itu yang dalam tebakkannya adalah Ayunda.


Diana memilih keluar kamar meninggalkan Adam yang terlelap terbuai mimpi indahnya.


Langkah pelannya kini menuju dapur untuk bertemu dengan Eyang karna sudah dua hari keduannya tak berjumpa. Jika Adam pulang ia tak pernah di izinkan untuk keluar dari kamar dan turun dari ranjang sebab sepanjang hari atau malam pria itu akan terus mendekap tubuh langsingnya.

__ADS_1


"Eyang bikin sarapan apa?" tanya Diana pada wanita baya yang sudah di anggapnya ibu sendiri.


"Masakan kesukaan Nona dan Den Adam" sahut Eyang dengan tangan tetap cekatan merajang bumbu.


"Eyang, bisa aku bertanya sesuatu?"


Dengan reflek Eyang langsung menoleh kearah Nona mudanya yang terdengar berbicara sangat serius.


"Nona sakit? kenapa begitu pucat"


"Apa yang bisa Eyang jawab untuk pertanyaan Nona"


"Hem... bagaimana ya" sahut Diana ragu, ia mengusap tengkuknya sendiri karba bingung harus memulai darimana.


"Katakan saja, disini Eyang sebagai tempat kalian berkeluh kesah menumpahkan segala perasaan dan masalah kalian, jangan ragu untuk berbagi" kata Eyang seraya meraih tangan Diana.

__ADS_1


"Aku takut hamil, aku baru memikirkan tadi pagi setelah kami melakukannya, Eyang" lirih Diana. Ia yang terus di rayu tentu tak pernah mempersiapkan apapun karna memang dari awal mereka tak butuh penjagaan.


"Hamil?" tanya Eyang dengan kedua alis saling bertautan.


"Kami.... kami melakukannya tapi tanpa persiapan apapun, Eyang" Diana menundukkan Kepalanya antara malu dan takut.


"Kenapa tak menikah? kalian sudah terlalu jauh melakukan perbuatan terlarang" tegas Eyang. Sebagai seorang yang sudah dianggap ibu tentu Eyang ingin yang terbaik untuk anak-anaknya.


"Semua di luar rencana kami, harusnya Adam menikahimu setelah ia mendapat gelar sarjana tapi nyatanya dia menikahi wanita lain sebelum denganku, aku bingung Eyang"


Diana memeluk Eyang dan menangis dalam pelukan wanita itu, rasa yang sulit ia artikan begitu sesak dalam hatinya meski tak ada sesal sedikitpun ia rasakan setelah menyerahkan satu satunya yang paling berharga sebagai seorang perempuan.


"Sebelum hal itu terjadi, mintalah Den Adam meresmikan hubungan kalian, menikah dibawah tangan pun tak apa agar benih dalam rahim Nona jelas" saran Eyang yang serba salah.


"Aku takut, Eyang. Aku takut berusan dengan istrinya"

__ADS_1


__ADS_2