
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Braaakk..
Satu orang yang membawa Diana masuk kedalam mobil dan langsung membanting pintu sampai sampai wanita yang melahirkan Langit itu pun terlonjak kaget.
Ia tak lagi menghiraukan dirinya karna yang berada di otaknya itu tentu hanya putra semata wayangnya yang kini entah bagaimana nasibnya.
Bagai buah simalakama, di ajak salah di tinggalkan lebih salah apalagi itu pada orang yang jelas tak di kenalnya sama Sekali.
Selama perjalanan yang entah akan kemana, Diana terus saja berdoa dalam hati dengan tangan bergetar hebat sampai akhirnya ia diminta turun di sebuah ruko dengan semak-semak rumput yang cukup tinggi di halaman depannnya.
"Ini dimana? ku mohon jangan sakiti aku" pinta Diana, ia tak bisa menebak siapa dalang di balik orang-orang yang membawanya kini, karna selama perjalanan tak ada satupun dari mereka membuka pembicaraan.
"Itu bukan urusan kami, karna tugas kami hanya membawamu ke bos besar" tukas salah satunya.
Diana mengernyit kan dahinya, ia semakin penasaran dengan Bos besar yang di maksud barusan.
Satu orang yang lain kini menarik tangan Diana cukup keras sampai ia harus meringis kesakitan, Ia tersungkur di lantai saat punggungnya juga di dorong yang entah oleh siapa dari belakang.
"Aw..." pekik Diana.
__ADS_1
Ia yang sudah lemas dan lelah bagai tak sanggup lagi untuk bangun sekedar membela diri, sampai ia tersentak kaget saat rambut panjang indahnya yang basah oleh keringat dijambak ke belakang.
"Selamat malam SELIR Biantara!"
Diana yang sudah kembali menitikan air mata mulai menerka siapa yang menyapanya tadi.
"Hem, ini pertama kalinya kita bertemu. Aku harap kamu sadar dengan posisi kita masing-masing disini" cercanya dengan tegas mengingatkan.
Diana yang baru tahu jika yang berbicara adalah istri sah suaminya tentu tak bisa menjawab apapun, ini memang pertemuan pertama kalinya untuk mereka bertatap muka secara langsung setelah bertahun-tahun diam tak saling ikut campur, tapi Diana tentu sering melihat foto Ayunda dan Mark di ponsel Adam.
Tak ada rasa cemburu dalam hatinya karna semua nampak wajar tak seperti fotonya bersama Adam yang justru terbilang cukup vulgar.
"Mau apa? kamu boleh menyakitiku, tapi jangan sentuh putraku"
"Suami kita! Adam adalah suami ku dan juga suamimu" balas Diana tak mau kalah, ia tak ikut meninggikan suaranya tapi ia berbicara penuh dengan penekanan.
"Kamu hanya simpanan, kehadiranmu tentu tak pernah bisa diakui, jangankan oleh Negara bahkan keluarga Biantara saja tak pernah tahu dengan adanya kalian"
Sakit rasanya mendengar semua itu, ia bagai tertampar dan tertusuk ribuan pisau yang menghujam jantungnya padahal disini jelas jika Ayunda lah yang masuk kedalam hubungan mereka secara tiba-tiba.
"Maumu apa? aku tak pernah mengusik hidupmu sama sekali, kan?" tanya Diana, ia tahu pasti jika Ayunda menginginkan hal lain darinya.
__ADS_1
"Kamu mengajakku bernegosiasi? baiklah aku Terima penawarannmu itu" Jawab Ayunda sambil tertawa senang karna mangsanya kini mulai mau memakan umpan yang ia berikan.
"Katakan! aku tak ingin bertele-tele berurusan denganmu"
Ayunda berjalan pelan mendekati Diana, ia berjongkok dengan tangan memegang kasar dagu Diana hingga terdongkak keatas.
"Adam resmi di ciduk polisi, hari ini ia telah di tahan di kantor kepolisian kota J. Aku akan membantunya semaksimal mungkin untuk ia kembali bebas sebelum semuanya terbongkar yang malah akan semakin memberatkan hukumannya. Ya, meski itu mustahil sebab Adam terlalu dalam memainkan bisnis haramnya. Tapi karna aku sangat mencintainya dan anakku juga masih butuh perannya tentu segala cara akan kulakukan" jelas Ayunda yang bagai petir di siang bolong bagi Diana yang baru tahu kabar Suaminya.
Sepandai-pandainya tupai meloncat suatu saat pasti akan tergelincir, serapih apapun Adam menyimpan kebusukannya tentu akhirnya tercium juga oleh pihak yang berwajib.
Mungkin itu lah kalimat yang cocok untuk Sang Mafia yang kini tengah meringkuk di balik jeruji besi.
"Hem, aku paham" sahut Diana, ia sedang sebisa mungkin untuk tak menangis lagi.
"Kamu harus sadar diri, tak ada yang bisa kamu lakukan demi Adam saat ini, bahkan tubuhmu saja tak bisa membuat Adam bebas dari jerat hukum yang sedang menanti"
"Aku tahu, aku berterimakasih padamu karna kamu akan terus memperjuangkannya, karna memang itulah tugas seorang istri yang harus selalu ada dalam setiap masalah sang suami" Diana menghapus cairan bening di ujung matanya sebelum jatuh, hati dan hidupnya begitu hancur karna kehilangan dua laki-laki hebatnya di satu hari yang sama.
.
.
__ADS_1
.
"Baguslah, aku minta padamu untuk tidak muncul lagi ke hadapan suamiku. Pergilah yang jauh, cari anakmu dan urus dia dengan baik tanpa Adam!"