
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Adam mengendari motor besarnya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Biantara yang bagai neraka baginya yang tak pernah merasakan keadilan tentang kasih sayang.
Sampai disana ia memarkir kan kendaraaan nya di garasi seperti biasa, senyum kecil jelas terlihat di sudut bibirnya saat melihat mobil Bagas yang juga ada disana.
Langkah kaki adam terasa begitu berat saat menyaksikan kedua orangtuanya itu duduk di ruang tengah dengan sang kakak yang sedang menyesap minumannya.
"Wah, kurir Biantara baru pulang? udah kirim barang kemana aja." sindir Bagas dengan senyum menyeringai.
"Ke neraka! mau ikut?" timpal Adam dengan nada dingin.
"Adam! jaga bicaramu" bela papa seperti biasa.
Adam yang tak ingin menanggapi langsung melanjutkan langkahnya ke arah tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Di dalam ruangan tidurnya itu ia merebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur.
"Andai kalian tahu barang apa yang aku kirim, aku yakin kalian pasti kecewa padaku. Tapi hanya dengan cara ini aku bisa bertahan hidup dan meneruskan pendidikan ku di bangku kuliah agar kalian tak malu memiliki anak yang hanya tamatan SMA" lirih Adam dengan kedua mata terpejam.
Kedua orangtuanya hanya tahu jika anak kedua mereka bekerja sebagai seorang kurir yang mengantar barang dari rumah kerumah tanpa tahu jenis barang apa yang sebenarnya di kirim oleh putranya mereka itu setiap hari.
Adam dengan rapih menutupi semuanya termasuk harta kekayaan yang ia miliki saat ini.
.
.
.
__ADS_1
Drrttttt.... drrrttttt.... drrrtttt
Getar ponsel di saku celana membuyarkan lamunan Adam, ia langsung merogohnya untuk meraih benda pipih tersebut.
"Iya, Bang" jawab Adam setelah ia menggeser layar ponselnya.
"Dimana? kapan mau ke markas" tanya Bang Jali tanpa basa basi lagi.
"Setengah jam lagi gue sampe, Bang" jawabnya malas karna lelah.
"Ya udah, cepetan ya karna si Bos udah nunggu"
"Hem, Iya!" sahutnya singkat lalu mengakhiri teleponnya.
Adam bangkit dari tidurnya, menaruh lagi si ponsel ke saku celana lalu bergegas pergi ke markas.
Adam melajukan motornya dengan kecepatan tinggi di tengah rasa sakit hatinya, tak sampai tiga puluh menit nyatanya kini ia sudah sampai di tempat tujuannya.
Sampai di markas ia langsung bertemu dengan Bang Jali setelah menyapa beberapa teman satu profesi dengannya.
"Mana barangnya, Bang?" tanya Adam.
"Hari ini lo gak ambil barang" jawab Bang Jali tanpa menoleh karna kedua matanya fokus pada layar ponsel di tangannya.
"Kalo gak ngirim barang ngapain nyuruh gue kesini? kan lo tau ada calon bini gue disini, Ah rese lo, Bang" oceh Adam kesal.
Jali langsung menoleh kearah Adam yang mengumpat kasar padanya, pria yang nyatanya kini sudah di anggap nya adik itu terus saja marah marah dan mengomel tanpa henti sambil sesekali memukulnya dengan bantal sofa yang mereka duduki.
"Setor mulu yang lo urusin!" cetus Bang Jali yang lama-lama begitu gemas pada Adam, ia tahu jika pria di sebelahnya itu sering Melakukannya meski tak sampai tahap Penyatuan tubuh.
__ADS_1
"Kesian calon bini gue sendirian di hotel, kalo gue gak kerjaan kirim barang ngapain nyuruh kesini sih!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Lo pensiun jadi kurir barang.. sekarang naek jabatan jadi tukang JAGAL...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Wah... udah mulai nih 🤣🤣🤣🤣
Like komennya yuk ramaikan
__ADS_1