Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 112


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Abang Langit... tunggu! adek kangen.!" teriakan seorang bocah perempuan yang berlari nyatanya mampu menghentikan detak jantung Diana dalam sekejap.


"Langit! apa itu Langit Putraku?" gumamnya sambil menatap dua anak yang bergandengan tangan, langkah keduanya perlahan jauh dan menghilang di awal tangga.


"Mbak, kok ngelamun?" tanya Keynara sembari menarik tangan Diana, pengasuhnya selama bertahun-tahun.


Diana yang sadar tentu langsung tersadar, ia meminta maaf pada Keynara karna sudah mengabaikannya barusan. Kini keduanya pun kembali melanjutkan langkah menuju ruang guru untuk bertemu dengan miss Lidya.


Sampai di ruangan yang di maksud dan kemudian menyerahkan titipan dari nyonya besarnya, Diana pun kembali ke mobil setelah mengantar Keynara juga ke kelasnya.


Selama perjalanan pulang itulah hatinya mendadak resah karna terus memikirkan anak laki laki yang tadi di lihatnya. Parasnya begitu tampan dengan tubuh tinggi dan bersih.


"Nanti biar kutanya Keynara langsung untuk lebih jelasnya, mungkin mereka saling mengenal satu sama lain"


.


.


.


.


Diana yang tak sabar menunggu jam pulang anak majikannya itu terus saja melirik kearah jarum jam, waktu bagai lambat berputar bagi dirinya yang segera ingin tahu satu hal tentang anak yang di panggil Langit tadi pagi.

__ADS_1


Derap langkah kaki Diana pun begitu cepat menghampiri pak Darto, supir peribadi keluarga Sanjaya yang ditugaskan untuk mengantar jemput nona muda mereka.


"Pak Darto, kita jemput Non key sekarang aja yuk" ajak Diana pada seorang pria yang sedang menyeruput kopi panasnya.


"Masih lama mbak, ada tiga puluh menit lagi" jawab Pak Darto setelan melihat jam di pergelangan tangannya.


"Gak apapa, takut macet loh, mending kita yang nunggu, daripada Non Key yang nungguin kita" balas Diana mencoba mencari alasan.


Lama pak Darto berpikir, akhirnya ia setuju dengan ajakan Diana untuk menjemput Keynara lebih awal asal sudah meminta izin pada Nyonya Hanna.


Wanita cantik itu tentu mengiyakan sambil memberikan kunci mobil dengan syarat hati hati di jalan dan harus langsung pulang.


Sampai di parkiran sekolah, mobil pun berhenti di urutan paling depan karna memang areanya masih nampak sepi, waktu yang masih beberapa waktu itupun di isi oleh Pak Darto untuk menikmati sebatang rokok di luar mobil sedangkan Diana tetap menunggu di dalam dengan perasaan resah.


Diana kini tak hanya mencari sosok Keynara saja, tapi ia juga mencari anak laki-laki tampan yang tadi pagi yang sudah menggetarkan hatinya sampai detik ini.


"Kok gak ada ya?" gumam Diana lagi, ia terus mengedarkan pandangan pada setiap siswa dan siswi yang keluar.


"Mbak, Ayo pulang" lagi lagi Keynara menarik tangan pengsuhnya itu yang hari ini begitu aneh menurut Keynara.


Pasrah karna Nona mudanya memaksa cepat pulang, Dianapun akhirnya hanya bisa menurut meski setidaknya ia ingin lima menit lagi menunggu.


.


.

__ADS_1


"Non, mbak boleh tanya sesuatu?" kata Diana yang saat keduanya sudah berada dalam mobil.


"Tanya apa?"


"Apa Non Key punya teman bernama Langit marvelio Biantara?" tanya Diana yang tak kuasa menahan rasa penasarannya.


"Enggak" jawab Key sambil menggeleng kan kepala.


"Lalu yang tadi pagi ada seorang anak laki-laki yang dipanggil Langit, apa Nona kenal?"


"Oh itu, iya itu memang Langit, Mbak" sahut Keynara santai tak menaruh curiga sedikit pun.


"Benarkah, dia Langit?" Diana yang begitu antusias sampai memegang kedua bahu Keynara.


.


.


.


.


.


Iya, Langit Rahardian Wijaya.

__ADS_1


__ADS_2