
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Maaf.. aku akan mengakui semuanya, tapi aku punya alasan!" selak Diana sedikit berteriak karna kini ia sudah menangis tersedu sedu.
"Aku akan memaafkan mu jika alasanmu masuk akal" balas Adam, Ia menarik tangan Diana agar bisa duduk bersandar di punggung ranjang dengan selimut yang menutupo tubuh polosnya sampai dada.
"Aku salah, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf" lirihnya di sela isak tangis.
"Katakan alasanmu, maafmu akan ku terima nanti" Adam yang penasaran sudah sangat tak sabar mendengar penjelasan Diana.
"Aku... aku selama ini minum pil pencegah kehamilan" tutur Diana sambil menunduk, dengan bahu yang berguncang siapapun tahu jika gadis cantik itu sedang menumpahkan air matanya.
"Kenapa? apa kamu tak sudi memiliki anak dariku?" tanya Adam yang mulai terpancing emosinya, karna ia sedari tadi masih berpikiran jika Diana tak akan setega itu padanya.
__ADS_1
"Bukan, sayang. Aku tak mungkin punya pikiran begitu" selak Diana sambil meraih tangan Adam yang melipat didadanya.
"Lalu apa? Menikah tak mau, punya anak tak mau! lalu kamu maunya apa? mau kita terus terusan bersama tanpa status jelas. Mau kita hidup satu atap tanpa ikatan pernikahan padahal jelas jelas kita sudah sering melakukan hal seperti ini" cecar Adam dengan menaikan nada bicaranya sampai nyali Diana semakin menciut.
"Aku mencintaimu, dan kurasa itu tak cukup jika aku tak menikahamu, Dee. Aku sudah cukup sabar selalu menunggumu. Aku bagai pecundang dan penjahat ke la MIN usai tidur denganmu yang masih saja berstatuskan kekasihku!" tambah Adam lagi, kali ini amarahnya sudah tak bisa ia tahan.
"Tolong pahami aku, aku ingin hubungan kita jauh kearah yang lebih baik. Aku ingin memiliki secara utuh lahir bathin, apa aku salah? Hem!"
Diana menggelengkan kepalanya, ia tahu semua yang di katakan Adam adalah sebuah niat baik yang belum terlaksana sampai detik ini, tapi pria itu masih sabar menunggu Diana setuju dengan semua keinginannya.
Adam tak percaya dengan apa yang ia dengar sampai harus meminta Diana mengulangnya lagi untuk memastikan.
"Aku takut kamu meninggalkanku saat Mark semakin besar dan membutuhkan sosok ayah yang selalu ingin bersama untuk menjadi panutannya sebagai anak laki-laki. Aku takut kamu melupakan aku, aku takut kamu pergi dan perlahan jauh dari jangkauanku" jawab Diana seraya meremas selimut di bagian dadanya. Hatinya begitu sesak penuh dengan rasa takut dan perkiraan buruk di kemudian hari.
__ADS_1
"Kamu meragukan itu semua? apa menurutmu aku berubah meski kini ia sudah berumur enam bulan bahkan dengan lucunya ia sudah bisa memanggilku dengan sebutan Papah. Aku tak pernah melupakanmu walau satu detik, kamu tak pernah tau bagaimana sakitnya aku yang selalu membayangkan jika Mark adalah anak kita bukan anakku bersama Ayunda. Tolong jangan egois, Dee. Kita semua terluka dengan hubungan rumit ini" Adam mengusap wajahnya dengan kasar, ia menarik rambutnya sendiri karna frustasi dengan apa yang sudah terjadi dua tahun belakangan ini.
"Maaf, aku hanya menuruti kata hatiku saja"
"Buang rasa takutmu yang berlebihan itu, cintaku tetap sama meski ada Mark di antara kita bertiga" tegas Adam yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Diana yang belum berani mendongakkan wajahnya.
Adam yang sudah bisa menguasai amarahnya mulai meringsek mendekat kearah sang kekasih. Ia peluk gadis kesayangannya itu yang malah semakin menumpahkan tangisnya di dalam dekapannya.
.
.
.
__ADS_1
"Aku akan menjadi tempat ternyamanmu, begitu juga denganku yang hanya dan akan selalu pulang padamu, tolong jangan meragukan perasaan ku karna itu sangat menyakitkan, Dee"