Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 38


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Jali mengeluarkan amplop kecil dari saku celana jeansnya, di berikan nya benda putih itu pada Adam sebagai upah di transaksi pertamanya yang berhasil.


"Nih buat lo, abis ini daftar kuliah ya, biar sukses di jalan halal" kata Jali sambil menepuk baju Adam.


Adam hanya tersenyum kecil, seumur hidupnya baru kali ini ia memegang uang hasil jerih payahnya sendiri.


"Utang gue ke temen temen banyak, Bang" ucap Adam lirih saat ia mengingat ketiga temannya juga Bi Asni yang selalu ya repotkan.


"Ya udah terserah lo, tar juga lo dapet lagi kalo gue kasih barang"


"Sehari berkali-kali mau deh gue, Bang. Biar cepet dapet banyak duit" kata Adam yang sangat antusias saat melihat jumlah upahnya sekali jalan, ia tak bisa membayangkan jika itu berlangsung selama sebulan penuh.


"Kalo mau cepet banyak duit, urusannya sama bos"


Adam mengernyitkan dahinya, ia belum paham dengan apa yang di katakan teman barunya itu.


"Maksudnya gimana, Bang?" tanya Adam penasaran.


"Lo jadi tangan kanan, Bos! mau?" tawar Jali.


"Kerjanya ngapain, Bang? udah terlanjur nyemplung ya sekalian deh gue berenang sambil nyoba berbagai gaya" kekeh Adam, ia sudah benar-benar tergiur dengan uang yang ada di tangannya itu.


Jali ikut tertawa kecil, tak ada jawaban sama sekali yang keluar dari mulutnya ia malah melengos pergi padahal Adam belum mengucapakan banyak Terima kasih padanya.


******

__ADS_1


Dengan uang yang masih berada dalam amplop, Adam melajukan sepedah motornya menuju rumah Ardi, salah satu teman ter konyolnya yang selalu ada dan siap saat ia meminta tolong.


"Gue mau bayar utang" ucap Adam ketika ia sudah ada di dalam kamar sahabatnya itu.


"Gue gak nagih, Dam"


"Tapi gue tetep mau bayar, meski gak semua" tegasnya lagi sedikit memaksa Ardi untuk menerima beberapa lembaran uang yang ia sodorkan.


"Kenapa gak semua? bayar utang nanggung amat, niat gak sih lo?!" ucap Ardi dengan nada angkuh.


"Bang ke!" sungut Adam yang langsung memukulnya dengan bantal sampai keduanya tertawa bersama.


.


.


.


"Dasar bukan rejeki lo, No!" kekeh Adam sambil memakai helmya lagi.


Motor besarnya kini beralih ke kos'an Akram, Sepupu terbaiknya yang masih mau mengakui ia sebagai saudara saat yang lain membuangnya dari keluarga Bintara.


Ia langsung masuk kedalam kamar Akram yang lumayan cukup besar jika hanya di tempati seorang diri.


"Ada apa?"


"Mau balikin duit lo, tapi separo ya" ucapnya sambil terkekeh lalu mengeluarkan tiga lempar pecagahab uang pada pemuda berkaca mata itu.

__ADS_1


"Emang udah ada? bokap lo kasih uang" tanya Akram yang belum menerima uangnya.


"Ada dong, ini buktinya gue bayar meski gak semua"


"Dari mana?"


Dari ketiga sahabatnya memang Akram yang paling peka dan sensitif, entah karna ia terlalu baik atau memang masih satu aliran darah tapi memang Akram selalu bisa menebaknya.


"Gue tau bokap lo, gak gampang kayanya buat dia kasih fasilitas yang dulu ke lo, Dam."


Adam menunduk, semua yang di katakan Akram memang benar karna buktinya hanya motor saja yang di kembalikan papanya. Bahkan ponsel pun masih di tahan sampai detik ini padahal itu yang terpenting baginya kala sedang merindukan sang kekasih yang jauh di luar kota.


.


.


.


.


.


.


Gue sekarang kerja jadi 'KANG PAKET'


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Apa tuh DamDam 🀫🀫🀫????


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2