
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Hari berlalu, Diana yang menyetujui untuk tinggal dengan ayah dan ibu pun mulai menata lagi hidupnya yang sempat hancur karna kehilangan sang buah hati. Setiap detik yang ia lewati penuh dengan harapan jika dimana pun dan kapan pun bisa bertemu Langit dengan atau tanpa disengaja.
Sekuat kuatnya ia bertahan untuk sabar, mungkin saat inilah batas akhirnya untuk memikirkan diri sendiri.
"Nak, bagaimana?" tanya Ibu yang tiba-tiba mengangetkan Diana yang sedikit melamun.
"Hem, aku mau, Bu" jawabnya sambil tersenyum.
Dua hari lalu, keluarga Ibu dan bapak kedatangan sanak saudaranya dari ibu kota, ia yang melihat Diana entah kenapa langsung menyukai wanita itu hingga meminta Diana untuk menjadi pengasuh putrinya yang berumur tiga tahun.
Diana yang tak enak jati terus menumpang akhirnya menyetujui tawaran tersebut. Tak hanya menyibukkan diri tapi tentu ia juga akan mendapatkan upah yang akan ia gunakan untuk mencari Langit sendiri tanpa bantuan dari pihak Adam, bisa saja Diana pulang dan mengambil beberapa barang yang tertinggal tapi ia tak ingin bermain api lagi dengan Ayunda, biarkan semua menjadi masa lalunya.
.
.
Datangnya Diana ke ibukota entah mengapa membuat perasaannya aneh, ada sesuatu yang membuat ia begitu semangat dan yakin bisa melihat lagi putranya dan Doa lah yang kini akan ia terus panjatkan.
Diana tinggal di salah satu kediaman keluarga Sanjaya, mereka memiliki satu putri cantik bernama Keynara, dan Keynara itulah yang akan di jaga oleh Diana termasuk mengantarnya sekolah setiap hari.
"Saya harap kamu betah disini, ya Dee" ucap Nyonya Hanna ibunya Keynara.
__ADS_1
"Iya, Bu. Saya akan bekerja sebaik mungkin" jawab Diana sambil menunduk sopan.
Dan, disinilah kisah baru seorang Selir Mafia dimulai
#EnamTahunKemudian.
"Mbak, nanti pas anter Key sekalian kasih ini Miss Lidya ya." titah Nyonya hana yang datang menyusul ke mobil sambil menyodorkan paperbag yang entah apa isinya pada Diana.
"Iya, Nyonya. Nanti saya berikan pada Miss Lidya"
"Nanti minta Key untuk antar kamu, Ok"
"Baik, nyonya" jawab Diana lagi sambil mengangguk paham.
Enam tahun ia bekerja sebagai pengasuh seorang gadis cantik tentu itu sedikit bisa mengobati lukanya, setiap ia memeluk Keynara ia akan beranggapan jika itu adalah putranya yang kini sudah berusia sembilan tahun.
Langit kecilnya yang dulu ia tinggalkan mungkin kini sudah jauh lebih tinggi dan besar.
"Mba, ayo turun" suara Keynara membuyarkan lamunan Diana, rasa terkejutnya membuat ia tersentak kaget sambil mengusap dada.
"Oh, iya. Non."
Diana langsung menggandeng tangan mungil Keynara masuk kedalam gedung sekolah dasar bertaraf internasional. Keduanya berjalan dengan santai lebih dulu menuju ruang guru sebelum bell masuk kelas.
__ADS_1
"Mbak pasti gak tau ya" ledek Keynara sambil terkekeh.
"Iya dong, segini besarnya, Non" Jawab Diana, ia memang setiap hari datang hanya sebatas mengantar Keynara sampai gerbang sekolah, sangat jarang untuk masuk jika bukan nyonya Hanna yang memintanya saat ada keperluan.
"Tuh, ruangannya mbak" tunjuk Keynara.
Diana yang baru saja hendak menoleh di kagetkan dengan teriakan suara gadis kecil dari kejauhan.
.
.
.
.
.
.
.
Abang Langit... tunggu! adek kangen....
__ADS_1