Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 58


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Loh, kok cowok?" Adam langsung mematikan panggilan teleponnya dan mengulangnya lagi, ia berharap telah salah menekan nomer ponsel Diana.


"Hallo selamat malam" sapa seseorang lagi yang jelas itu adalah suara laki laki dewasa.


"Ini siapa? mana Diana!" tanya Adam dengan perasaan geram.


"Nona Diana sedang istirahat" jawabnya santai dan ramah.


Tidur, dengan pria Itukah???


Pikiran buruk dan tak karuan kini berkecamuk dalam hati dan pikiran Adam, ia takut Diana mengkhianatinya saat keduanya sedang tak berkomunikasi sama sekali.


"Bangunkan dia, saya ingin bicara" titah Adam masih mencoba sabar meski rasanya ini sungguh sakit.


"Nona Diana baru saja istirahat, Maaf"


Adam meremat ponsel Akram saat panggilan teleponnya di putus secara sepihak, tapi bukan Adam namanya jika ia tak terus berusaha sampai mendapat alasan yang sebenarnya siapa pria tersebut.


.


.


"Lo siapa? Mana cewek gue" kini tak nada tenang yang keluar dari mulut Adam, tapi nada kasar penuh amarah yang sepertinya sudah memuncak.


"Sudah saya bilang, Nona Diana sedang istirahat, Saya dokter yang menanganinya sejak empat hari lalu ia di rawat" tegas si pria di sebrang sana.


Adam duduk lemas bagai tak bertulang, air matanya jatuh tak terasa saat tahu kondisi Diana sekarang justru sedang tak baik baik saja tanpanya.


"Dee... ada apa denganmu. Aku benar-benar minta maaf, Sayang" lirihnya sedih, guncangan bahu Adam sudah sangat jelas menandakan betapa sakitnya ia kini.


******


Adam yang keluar dari toilet dengan hati dan tampang berantakan langsung meminta izin untuk istirahat di kamar hotel yang dijaga ketat oleh beberapa orang anak buah Tuan Jammy yang hari ini resmi menjadi ayah mertuanya.


Pria yang masih mengenakan stelan jas putih itu pun hanya bisa meringkuk diatas ranjang pengantinnya dengan Ayunda.

__ADS_1


Lelehan air mata tak hentinya mengalir, ia seakan tak mampu lagi untuk berkata karna hanya bisa berdoa gadis kesayangannya itu bisa bertahan tanpanya disana.


"Aku janji akan pulang, akan ku usahakan untuk datang padamu secepatnya, Dee"


.


.


.


.


Sama seperti Adam, Diana pun tergolek lemas tak berdaya diatas brankar pasien sebuah rumah sakit. Sudah empat hari lamanya ia disana dan selama itu juga hanya tangis yang ia lakukan, Eyang yang memang ikut dengan Diana dan Adam pindah harus ekstra sabar merayu Diana untuk makan dan minum obat agar keadaannya pulih kembali.


"Nona, ayo bangun"


"Untuk apa? apa Adam sudah datang menemuiku?" tanya nya seperti biasa yang entah ini sudah keberapa kalinya.


"Den Adam belum datang, bersabar lah"


"Dia membohongiku, Eyang. Adam meninggalkanku setelah mama dan ibu juga pergi" kata Diana mulai terisak lagi, jika saat mama pergi ada ibu yang menggantikan, lalu ibu juga pergi ada Adam yang dengan setia menemani, terus bagaimana saat justru Adamlah yang menghilang tanpa kabar, dengan siapa kini Diana harus bersandar dan bermimpi untuk bahagia.


Suara pintu kamar rawat inap dibuka oleh seorang pria dengan pakaian khas kedokteran, siapa lagi kalau bukan Dokter Radit, ia yang menangani Diana selama gadis itu dirawat.


"Bagaimana kabarmu? ku harap jauh lebih baik" ucap dokter Radit.


"Aku tak pernah merasa baik saat ia tak ada" jawabnya lirih sedikit bergumam tapi Dokter Radit masih mampu untuk mendengar.


"Ada yang ingin ku bicarakan denganmu"


Diana langsung menoleh kearah pria tinggi berkulit sedikit coklat dengan Alis yang cukup tebal diatas matanya.


"Ada apa?" tanya Diana.


"Saat kamu tertidur, aku sudah lancang mengangkat telepon dari ponsel mu, Maaf." kata dokter Radit penuh sesal.


Diana mengernyitkan dahinya, ia langsung meraih benda pipih miliknya itu di atas nakas sisi ranjang. Dengan cepat Diana mengecek panggilan masuk di ponselnya tapi ia sempat bingung karna nomer yang tertera bukan nomer Adam.

__ADS_1


"Siapa yang menelepon, bicara apa dia?" tanya Diana penasaran.


"Seorang laki-laki, dia hanya menanyakan kabarmu dan tentu aku jawab sesuai kondisimu saat ini"


Diana menekan Nomer yang menghubunginya itu dengan cepat, berharap orang yang dimaksud dokter Radit adalah Adam.


.


.


"Hallo.. Maaf ini siapa?" tanya Diana saat panggilannya tersambung.


"Kamu yang telepon duluan, kenapa bertanya padaku" jawab orang tersebut dengan ketus.


"Maaf, aku hanya bertanya karna sebelumnya ada yang menelepon ku menggunakan nomer ini siang tadi." jelas Diana.


Tak ada sahutan selama hampir satu menit membuat Diana semakin penasaran.


"Hallo.. mungkin ada yang meminjam ponselmu untuk menghubungiku"


"Apa ini Diana? kekasih Adam!" tanya orang tersebut.


"Ya, aku Diana, ini siapa?" ada senyum kecil tersinggung di sudut bibir gadis yang terlihat sangat pucat dan kurus itu.


"Aku Akram, Dee"


"Akram? mana Adam, apa dia masih bersamamu?" tanya Diana, ia bagai mendapat setetes air di tengah rasa haus yang melandanya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Tidak, dia pergi bersama istrinya.


__ADS_2