
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Pulang? Tidak!! aku bukan lagi rumahmu!" tegas Diana dengan sorot mata penuh amarah yang bercampur kerinduan.
"Sayang, kamu satu satunya tempatku pulang, cuma kamu"
Diana menggelengkan kepalanya, ia turun dari tempat tidur sambil mengancingkan baju bagian atasnya yang sudah di buka oleh Adam.
"Pakai ini dan keluar!" titah Diana yang sedang berusaha menahan diri agar tak menangis lagi, ia melempar baju dan jaket Adam yang berserak di lantai.
"Dee, aku memang salah. Aku akan jelaskan semuanya" ucap Adam yang juga ikut meringsek turun dari ranjang yang biasa nya menjadi tempat pergulatan panas mereka.
"Kamu izin padaku hanya pergi dua bulan tapi kenapa harus lebih lama dari janjimu? dan sekarang kamu datang setelah menikah dengan perempuan lain tanpa mengabariku sama sekali, tanpa bertanya padaku sesakit apa hati ini karna keputusan sepihak mu itu, Dam!" cerca Diana sambil meremat kain baju bagian dadanya.
Hatinya hancur kembali setelah ia sekuat tenaga menyatukan serpihannya sendiri.
Ia yang bagai tak punya tempat berlabuh seakan terombang-ambing di tengah lautan, tanpa nakhoda dan tanpa tujuan.
"Maaf, aku tak bisa berbuat banyak" Adam yang sudah berdiri di hadapan Diana mencoba meraih tangan gadisnya itu.
"Aku memaafkan mu jauh sebelum kamu datang memintanya, tapi apa dengan aku memaafkanmu, kamu kembali menjadi satu satunya milikku?" tanya Diana dengan lelehan air mata yang semakin deras.
"Aku tetap milikmu, Dee"
"Jika kamu milikku, apa kamu bisa umumkan hal itu pada Dunia?" tanya Diana sambil menghapus air matanya.
__ADS_1
Jauh dalam relung hatinya tentu ia ingin bebas bisa berjalan jalan tanpa takut banyak pasang mata menatapnya dengan sinis, ia lelah terus di kurung dalam rumah mewah tanpa Adam di sisinya.
"Dunia tak perlu tau sepenting apa posisimu dalam hatiku, Dee. Aku mencintaimu lebih dari apapun itu dan kurasa kamu paham"
Tapi aku juga butuh PENGAKUAN!!
*******
Pertengkaran semalam benar-benar membuat kepala Adam berdenyut tak karuan. Ia yang di usir oleh Diana dari kamarnya memilih tidur di sofa ruang tengah di lantai dua rumah mereka, semalaman Adam tak bisa memejamkan matanya karna cairan bening terus keluar dari sudut matanya.
"Aku tak akan henti memohon maaf padamu, Dee. Aku mencintaimu dan tak akan melepasmu begitu saja apalagi karna alasan aku menikahi Ayunda, ia tak bisa membahagiakanku sepertimu yang selalu membuat ku nyaman" lirih Adam sedih, ia sangat sadar dengan amukan dan amarah Diana barusan.
Menjelang subuh Adam baru bisa terlelap. Namun, saat ingin terbuai mimpi ia malah di bangunkan oleh Reno dengan cara di guncang kan bahunya.
"Hem, ada apa?" tanya Adam yang mengerjapkan kedua matanya karna kaget.
"Kita harus segera pergi sebelum anak buah Tuan Jammy sadar kalau kita tidak ada dirumah" ucap Reno mengingatkan karna memang mereka pergi secara diam-diam.
"Iya, tunggu aku di mobil sepuluh menit lagi"
"Baik, Tuan" balas Reno bangkit dari duduknya.
Adam merenggangkan otot tubuhnya yang sedikit sakit, sebelum pergi tentu Adam akan menemui Diana lebih dulu dalam kamarnya yang ternyata tak di kunci.
"Sayang... Dee" bisik Adam sambil mengusap kepala Diana dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Sayang, aku pergi lagi ya"
Tak ada sahutan dari Diana, gadis itu malah mengeratkan pelukannya pada bantal guling yang ia dekap.
"Aku akan kembali nanti, akan ku usahakan untuk datang secepatnya menemuimu lagi." tambah Adam mencium kening Diana, ingin sekali ia menye sap bibir mungil sang kekasih seandainya ia memiliki waktu lebih banyak.
Adam akhirnya turun dari ranjang meski belum puas rasanya menatap wajah cantik pemilik hatinya itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Apa mulai hari ini aku harus ikhlas berbagi rasa, waktu dan Ranjang dengan istrimu?
__ADS_1